Friday, December 3, 2010

ALAM SEBAGAI AYAT

  ALAM SEBAGAI AYAT
        

          Suatu malam Rasulalloh SAW  meminta izin kepada istrinya Aisyah, untuk shalat malam. Dalam shalatnya, beliau menangis. Air matanya mengalir deras. Beliau terus beribadah hingga sahabat bilal mengumandangkan adzan subuh. Beliau masih menangis saat bilal datang menemuinya. “ mengapa tuan menangis ?” tanya bilal. “ bukankah Alloh telah mengampuni dosa-dosa tuan baik yang lalu maupun yang akan datang ?”

             Nabi menjawab ” Bagaimana aku tidak menangis telah diturunkan kepadaku malam tadi ayat ini, sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang ada tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu bagi orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri atau duduk atau berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata; ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. “( Ali’imraan; 190-191 ).

            Alam semesta, menunjuk kepada dua ayat di atas, adalah ayat, yaitu tanda atau rambu bagi sujud dan kuasa Allah. Sebagai ayat, alam semesta ini harus dibaca dan di pelajari hingga menimbulkan iman dan kekaguman (khasy-yah) yang makin besar kepada al-khaliq. Nabi pernah memberikan arahan agar manusia tidak memikirkan Zat Allah, tetapi cukup merenungkan alam ciptaan-Nya. Kata beliau, ” pikirkanlah ciptaan Allah jangan pikirkan Zat Allah.”

             Jadi, ayat-ayat Allah  itu ada dua macam. Pertama, ayat-ayat berupa kitab suci (qauliyah). Kedua ayat-ayat berupa alam semesta sebagai ciptaan Alloh (kauniyah). Menurut filsuf muslim, Ibn Rusyd, alam semesta justru ayat-ayat Allah yang pertama.        Dikatakan demikian karena sebelum Allah SWT menurunkan Kitab Taurat , Injil dan Alquran, Alloh telah menciptakan alam jagat raya ini. Karena alam adalah ayat, maka sebagaimana sepotong firman adalah ayat, maka sejengkal alam juga ayat.

              Sebagai ayat, alam ini selalu bergerak memenuhi tujuan penciptaan. Karena itu, penelitian terhadap alam diduga kuat dapat mengantar manusia menemukan dan meyakini wujud Allah dan kuasa-Nya. Sebagai ayat, alam ini juga mengandung hukum-hukum Allah yang dalam terminologi Alquran dinamakan takdir dan sunatullah.

           
   Takdir merupakan hukum-hukum Allah yang diberlakukan pada alam fisik (makrokosmos), sedangkan sunatulloh merupakan hukum-hukum Alloh untuk sosial (mikrokosmos). Sebagai hukum-hukum Allah, keduanya, takdir maupun asunatulloh, mengandung kepastian dan determinasi. Manusia, karenanya, tidak mungkin dan tidak dapat melawannya.

            Manusia tidak bisa tidak, harus meneliti dan mempelajari alam dan fenomena alam agar mengenali hukum-hukum Allahyang terkandung didalamnya. Pengenalan terhadap hukum-hukum Allah itu, dengan sendirinya, akan mendatangkan kemudahaan dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia di muka bumi ini. Alam semesta dengan begitu benar-benar rahmat dan nikmat, bukan menjadi laknat dan petaka bagibumat manusia. 

Waallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...