Friday, December 3, 2010

Harmoni hati dan ilmu






Harmoni Hati dan Ilmu

          “ orang yang benar butuh permulaan yang benar, permulaan yang benar butuh keikhlasan dan keikhlasan itu ada pada niatan yang suci, sementara kesucian niat ada pada hati yang bersih.” (kalam hikmah)
         Ibarat orang yang berazam ingin ke Surabaya, tentu ia hanya akan sampai ke tujuan kalau sedari awal ia naik bus jurusan Surabaya. Asapun kalau yang ia pilih adalah bus jurusan Jakarta, tentu sampai kpanpun ia tak’kan sampai ke tujuan.  
     Pohon mangga hanya akan tumbuh dari biji mangga, dan biji saalk pastilaah akan menumbuhkan pohon yang sama. Tidaak akan mungkin pohon mangga membuahkan pohon salak, begitu pula sebaliknya.
          Demikianlah saudaraku, sebuah kebenaran dalam bentuk apapun, hanya akan tumbuh dari biji kebenaran. Bagaimana mungkin pohon kebenaran bisa tumbuh berkembang dari sebuah biji bernama kesalahan.
          Terus bagaimana “pohon” kebenaran ini bisa tumbuh dengan baik pada diri seseorang? Kalam hikmah diatas mengatakan; “butuh  keikhlasan !”
         Keikhlasan adalah saudara kembar kebenaran, keduanya lahir dari rahim yang sama, pada waktu yang bersamaan; dimana ada kebenaran disitua ada keikhlasan, begitu pula sebaliknya. Antara keduanya tidak bisa dipisaahkan oleh apapun dan siapapun. Kebenaran tanpa keikhlasan adalah fatamorgana, dan keikhlasan tanpa kebenaran adalh utopia bahkan tipu daya.
       Keikhlasan adalah teman perjalanan kebenaran. Selamanya kita tidak pernah menjumpai kebenaran berjalan sendirian tanpa ditemani sang “kekasih” tercinta bernama keikhlasan.
     Seandainya kita membiarkan kebenaran yang ada pada diri kita tumbuh sendirian, maka pastilah ia akan menjadi kebenaran yang kering bahkan mati, yang tidak bisa memberikan manfa’at sedikitpun untuk kita bahkan keberadaaannya akan menjadi beban berat, yang membuat perjalanan hidup ini semakin tertatih-tatih.

        Tidak demikian halnya bila keihlasan ikut menyertai; kebenaran akan memancaarkan “keceriaan” hakiki, yang dirasaakan tidak hanya oleh siempunya kebenaran, tapi juga olleh orang-orang yang ada disekitarnya. Kebenaran akan berubah menjadi embun penyejuk yang akan menetesbasahi setiapa diri yang kerontang dalam keringnya jiwa.

       Lantas, daari manakah kita akan memperoleh keikhlasan ini? Jawabnya adalah dari niat yang suci.

       Niat adalah kesengajaan melakukan amal, dan “suci” tiada laain adalaah Allah, karena di alam semesta ini tidak ada yang “suci” dalam arti yang hakiki kecuali Dia Rabbul ‘Izati. Subahaanallah. Maha Suci Engkau ya Allah.

     Niat suci akan dimiliki manakala kita menyengaja melakukan amal semata-mata karena inginmemperoleh ridha Allah Yang Maha Suci, lepas sama sekali dari tujuan dan harapan sesaat, yaitu kesengan duniawi.

    Terus, dimana kita bisa menemukan kesucian niat ini?
Kesucian niat bisa kita temukan di , di sela-sela sebongkah daging bernama hati, dengan catatan jenis hati tersebut adalah hati yang betul-betul bersih dari berbagai kotoran.

    Dari yang bersih akan tumbuh niat-niat yang suci lagi bersih, yang mendorong kita beramal dengan ikhlas semata-mata karena Allah. Saat keikhlasan ini bertemu dengan kebenaran, maka akan lahirlah sosok manusia baru dalam diri kita, yakni manusia yang seluruh lintasan pikiran, perasaan, keinginan, kata dan perbuatannya menyatu dalam satu senyawa, senyawa kebenaran.

       Kalam hikmah diatas memberikan kesimpulan kepada kita, bahwa cita-cita menjadi orang yang benar itu harus diawali dengan memiliki hati yang bersih.
Cukupkah dengan hati yang bersih?

     Tentu belum, gambaranya seperti ketika kita haus, kemudian ada orang yang memberikan sebuah gelas yang sangat bersih kepasda kita, akan tetapi didalam gelas bersih teersebut tak terdapat air bersih setetespun.

     Apalah artinya gelas bersih tanpa isi bagi orang yang haus?! Tetap saja ia kehausan.
Berarti kita harus mengisi “air” kedalam “gelas” hati kita ? Ya,air kehidupan, yaitu ilmu pengetahuan.

      Hati bersih tanpa ilmu adalah gelas bersih tanpa isi. Tapi ilmu yang berda di hati yang kotor adalah air yang kita tuangkan ke dalam gelas kotor. Keduanya tidak bisa memberikan manfaaat sedikitpun di saat kita kehausan.

      Lantas, mana yang harus kita dahulukan ? membersihkan hati terlebih dahulu atau menigisinya? Ibarat  gelas kotor yang ingin kita isi air, tentu kita harus membersihkannya terlebih dahulubaru setelah itu mengisinya dengan air.

      Allah Ta’ala berfirman; “Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka yang membacakan ayat-ayatNya kepada mereka, mesucikan (hati) mereka dan mengajarkan kepada merekakitab dan hikmah. Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” ( Al Jumu’ah ;2 )

          Ketika seeorang membiarkan dirinya di sirami air ilmu pengetahuan, dalam keadaan gelas hatinya dipenuhi  kotoran, maka yang akan timbul dari  dirinya adalah satu di antara lima kemungkinan:

Kemungkinan I: seperti gelas terbalik.
   
            Gelas terbalik ketika diisi air, maka tumpah tak terarah.
Siapakah kelompok pertama ini? 
             Ada dua kemungkinan,(pertama) orang-orang kafir, sebab sekotor-kotor hati adalah orang kafir,(kedua) orang islam tapi phobi terhadap islam,mereka menolak bahkan membeci apa saja yang berbau islam.

Kemungkinan II: seperti gelas tertutup.

            Gelas tertutup adalah gelas yang ketika kita tuangkan air, dia tidak bisa menampung air tersebut.
Siapakah mereka?
              Mereka adalah orang-orang yang sok tahu. Kesimpulan sok tahu ini terjadi karena mereka merasa hidup di tengah-tengah   orang allim, lingkungan mereka adalah ilmu pengetahuan, bergaul dengan ahli ilmu, namun kenyataannyaa tak ada stau tetespun ilmu yang membasahi kerongkongan hatinya. Mereka mencukupkan bahkan membanggakan diri dengan berteman bersama orang alim, mengoleksi buku-buku tentang ilmu tapi tidak mempelajarinya.
                                              
Kemungkinan III: seperti gelas terbuka tapi bocor.
     Air tersebut akan tumpah kemana-mana.
Siapakah mereka?
             Mereka adalah orang yang ngaku-ngaku tahu. Mereka bersikap demikian karena mereka merasa bahwa mereka betul-betul sudah mengaji dan mengkaji ilmu. Namun ilmu tersebut satu tetespun tidak ada yang tertampung. Mengapa demikian? Bisa jadi mereka salah motivasi, salah niat. Mengaji dengan tujuan hanya sekedar pujian dan popularitas.
           Mereka semangat mengaji dan mengkaji ilmu hanya untuk memenuhi kepuasan telinganya semata. Mereka mengisi telinganya dengan berbagai ilmu pengetahuan, sementaara hatinya dibiarkan berlobang membusuk karena kotoran-kotoran ma’shiyat dan dosa.
          Akibatnya ? bertahun-tahun mengaji tidak ada hasil yang bisa di jumpai, baik dalam bentuk ziyadatul ‘ilmi ( bertambahnya ilmu ) ataupun taghiyirul amal ( berubahnya amal kearah yang lebih baik )

Kemungkinan IV: seperti gelas yang sudah terpenuhi air.

         Seandainya ke dalam gelas tersebut kita tuangkan air, maka air itu akan melimpah tak tentu arah.
Siapakah mereka?
         Mereka adalah orang-orang yang memang sesunguhnya memilki  ilmu pengetahuan yang mendalam dan melimpah, namun sayang, ilmu yang banyak tersebut membuat mereka jadi sombong. Akibatnya mereka cenderung menolak ilmu yang di berikan orang lain bahkan meremehkannya.

Kemungkinan V: seperti  gelas kospong yang diisi air.

          Gelas  seperti ini awalnya akan bisa menampung air yang dituangkan kedalamnya, namun lama kelamaan air tersebut pastilah akan memenuhi gelas. Seandainya air tetap dituangkan maka akibatnya sama persis seperti gelas ke empat di atas.
          Demikianlah lima kemungkinan yang terjadi ketika seorang mengaji dan mengkaji ilmu, namun membiarkan hatinya dalam keadaan kotor. Selamanya ilmu yang dimilikinya tidak akan membuahkan amal, perubahan, kebaikan juga kemanfaatan.
Na’uudzu billaah.
           Ya Alloh lindungi kami dari segala yang mengotori hati. Cegahlah kami dari ilmi-ilmu yang hanya menjadi beban bagi kami. Jadikan setiap ilmu yang kami miliki membuat kami semakin mengenal-Mu, mencintai-Mu dan mentaati-Mu.

Waallohu ‘alam bisshowab.
                                     

       

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...