Monday, May 16, 2011

Big Boss

sekelumit kisah hidupku Ketika saya mengajar di salah satu sekolah modern sekitar pertengahan tahun 2010, yang pertama kali saya hadapi adalah keluhan teman-teman yang kesulitan menghadapi perilaku kepala sekolah yang gampang marah. Semua kelemahan dan kesalahan para pengajar baik kecil maupun besar dihadapi dan diselesaikan dengan kemarahan. Akhirnya , para pengajar ciut menghadapi gaya kepemimpinan seperti itu. Satu-satunya yang mungkin mereka lakukan adalah berupaya untuk diam dan menghindar dari Directur sekolah tersebut . Apa yang terjadi? Sudah dapat dipastikan kinerja para pengajar sangat buruk. Lahirlah manusia-manusia carmuk ( cari muka ) atau kucing-kucingan dengan Big Boss mereka. Bagi mereka, yaang penting dapat posisi aman ( Comfort Zone ). Setiap pengarahan dan morning briefing selalu di sambut dengan kata “amin” alias ya pak,ya pak, ya pak, tanpa memberi usulan atau pendapat kendati isi briefing tersebut berupa doktrin dari keinginan-keinginan sang Directur yang sulit mereka kerjakan. Dengan hati yang sedih dan perasaan yang gemas saya melihat kondisi sekolahan ketika itu ibarat sebuah kerajaan kecil yang dipimpin oleh seorang raja dikdator. Apalagi kerajaan tersebut diterima sebagai warisan ( Given ), bukan diperoleh dari sebuah perjuangan yang panjang yang menghabiskan keringat,darah dan air mata. Marah bukan pada tempatnya adalah cermin keetidak –mapuan seseorang mengendalikan dirinya. Jika seseorang, khususnya pemimpin tidak mampu melawan sifat amarahnya, maka pertahanan dirinya akan jebol. Artinya, orang yang mengumbar amarah mudah dikendalikan Syetan/Qorin-nya. Berbagai keinginan buruk dan angan-angan kosong mudah ditiupkan ke dalam dirinya. Akibatnya dia akan mudah terjebak kekeliruan dan kejahatan lainnya seperti mengambil harta orang lain dengan jalan yang tidak halal, menjatuhkan martabat orang lain, lidah dan tangannya mudah menyakiti orang lain, pendendam, ( sulit memaafkan kesalahan orang lain ) dan sebagainya. Oleh sebab itu, ketika seorang sahabat maminta nasehat kepada Nabi Muhammad Saw,beliau berkata; “janganlah kamu suka marah-marah” seraya mengulangi berkali-kali, ‘jangan anda suka marah-marah”.( Hadist Riwayat Imam Al-Bukhari ). Mental Impact yang pertama adalah kemampuan yang kuat dalam mengendalikan amarah. Ciri indah Mental Impacts ialah ketika kaum Muhajirin dari Mekkah sampai kemadinah. Rata- rata mereka hijrah dengan tangan kosong karena masyaraakat Quraisy menyita semua harta kaum muslimin yang hijrah ke Madinah. Di hari-hari terjadinya gelombang hijrah banyak kejadian dan peristiwa diluar nalar biasa yang berlomba-lomba menwarkan kebaikan kepada saudara mereka dari puak Muhajirin. Sampai-sampai Rasululloh harus melakukan undian agar tidak ada yang tersinggung karena tidak kebagian jatah menyalurkan bantuannya kepada kaum Muhajirin. Sifat tanggung jawab sosial ( social responsibility ) dikalangan Anshar sangat terasa kental. Berbagai macam bantuan ditawarkan kepada Muhajirin, bahkan ada yang menawarkan dari salah satu dari dua kebun kurmanya untuk dimiliki sahabat muhajirin seperti yang dialami ‘Abdurrahman Bin ‘Auf dan saudara Anshornya yang bernama ‘Abdurrahman Al-Anshori. Namun demikian, sebagai seorang pengusaha kawakan, ‘Abdurrahman Bin ‘Auf tidak serta merta memanfaatkan niat tulus dan sifat mulia saudara Anshornya itu. Ia dengan cerdas menjawab tawaran mulia itu sambil berkata : terimakasih saudaraku. Tunjukanlah aku diamana pasar. Gambaran indah tentang sifat tanggung jawab sosial kaum Anshor tersebut dilukiskan dalam Al-Qur’an sebagaimana tercantum dalam surat Al-Hasyr ayat 9 berikut: والذين تبوعوا الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم خاجة مما أوتوا ويؤثرون علي أنفسهم ولو كان بهم خاصة ومن يوق شخ نفسه فألئك هم المفلحون. Artinya: “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman ( Anshor ) sebelum ( kedatangan ) mereka ( muhajirin ) mereka mencintai orang-orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati meraeka ( tidak ada udang di balik batu ) terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka ( orang muhajirin ): atas diri mereka mengutamakan ( orang-orang Mmuhajirin ), atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan ( apa yang mereka berikan itu ) . dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah oarang-orang yang sukses “ ( Q.S. Al-Hasyr 59 )” Demikianlah kepekaan dan solidaritas sosial orang yang menjalani Empowerment dengan benar. Mereka bukan hanya mampu mengendalikan diri dari sifat amarah, berkata kotor, kasar dan sebagainya, namun dalam dirinya tumbuh sifat tanggung jawab sosial yang tinggi sehingga sifaat”kikir” sirna dari dalam dirinya. Ketika dia bekerja, berbisnis apalagi berpolitik, dalam pikirannya tertanam selalu keinginan untuk memberi, melayani dan membantu orang lain melalui ibadah maliyah nafilah ( tambahan ) seperti infak dan sebagainya. Dia menyadari, bahwa sukses bukan hanya ketika ia mampu mengendalikan diri untuk tidak mendapatkan harta dan kedudukan dengan cara haram, melainkan juga harus dibarengi dengan keinginan untuk memberi pada orang lain yang membuthkannya. Demikian juga ketika dipilih jadi pemimpin,apakah pemimpin rumah tangga ataupun pemimpin organisasi, partai dan Negara, maka semangat memberi dan melayani yang mendominasi kehidupannya, bukan nafsu minta dilayani layaknya Big Boss atau sang Raja. Pemimpin sejati ialah seperti yang diumgkapkan pepatah Arab: “Pemimpin yang sesungguhnya ialah yang melayani rakyatnya.”

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...