Wednesday, May 18, 2011

Epistemology of Al qur'an

Epistemologi al-quran merupakan proses perolehan objek yang tergali dari bacaan Arab yang di wahyukan oleh Alloh kepada Rasul-Nya Nabi Muhammad saw dengan perantara malaikat Jibril yang berpotensi untuk memberikan arah ,tujuan, solusi dan petunjuk bagi manusia demi kemuliaan, keselamatan dan kebahagiaan manusia.ia merupakan sumber dan inspirator lahirnya epistemologi dan memunculkan pandangan holistik dalam pemetaan keilmuan islam demi melakukan pembuktian akan eksistensinya sang pencipta dan maha kuasa. Meski saat ini keilmuan islam telah memasuki era modern namun eksistensinya masih dipertanyakan.Meski demikian, keilmuan islam masih tetap berjalan menjadi dinamika kehidupan umat islam yang seiring dengan berbagai perkembangan persoalan modern ditengah-tengah kehidupan manusia. Keilmuan barat melalui berbagai macam pendekatannya baik positivistic maupun non- positivistic telah dianggap menemukan bentuknya, yang telah melahirkan pendekatan, metode, teori dan paradigm baru dalam pemetaan keilmuaannya, sementara keilmuan islam dianggap terjebak dalam ikatan ideologis yang menggiring kepada upaya islamisasi ilmu pengetahuan barat. Upaya untuk membangun pemetaan keilmuan islam yang kokoh dan teraplikasi sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan masa depan umat manusia, ditengah kuatnya pengaruh keilmuan barat yang bebas nilai, agar tidak terjebak kedalam epistemologi barat yang menjajah nilai2 kemanusiaan. Salah satu upaya demi terealisasikannya maksulad diatas adalah dengan menggali teori pengetahuan dari al quran sebagai landasan epistemologi islam.
Teori pengetahuan atau epistemologi adalah titik pusat dari setiap pandangan dunia. Dia menjadi parameter yang meentukan apa yang mungkin dan apa yang tidak mungkin dalam bidang isalam, apa yang mungkin diketahui dan harus diketahui , apa yang mungkin diketahui tetapi lebih baik dihindari dan apa yang sama sekali tidak mungkin untuk diketahui. Epistemology berusaha untuk men-definisikan pengetahuan, membedakan variasi-variasi uatamanya, menandai sumber-sumbernya dan menentukan batasan-batasannya.
Teori pengetahun atau epistemologi al quran sebetulnya telah membangun konsep dan prinsi ilmu pengetahuan islam sejak awal pewahyuannya. Ia tertuang dalam wahyu pertama Q.S: al alaq 1-5 ,
إقرأ باسم ربك الذي خلق (1) خلق الإنسان من علق (2) إقرأ وربك الكرم (3) الذي علم بالقلم (4) علم الإنسان مالم يعلم (5
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah dan Tuhanmulah yang maha Pemurah,
Yang mengajar ( manusia ) dengan perantara kalam.
Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak dietahuinya.
Wahyu pertama ini telah berperan sebagai pembuka jalan bagi turunnya wahyu2 berikutnya, ia telah dijadikan inti media komunikasi Tuhan dengan Rosul-Nya saw dan pondasi pembangunan peradaban islam. Ayat-ayat tersebut diatas antara lain memuat: objek, tujuan, lingkungan,prinsip dan sumber ilmu pengetahuan.
Objek ilmu pengetahuan dalam ayat tersebut meliputi segala wujud yang bersifat materi dan segala wujud yang bersifat nonmateri. Karena itu proses pencapaiannya menurut al-qur’an adalah-sebagaimana Q.S an-Nahl:78- melalui empat media yaitu: pendengaran, aneka penglihatan ( mata,akal dan intelek) dan hati nurani (berbagai situasi hati ). Masing-masing potensi meiliki tanggungjawab kebenarannya sebagaimana dalam Q.S.al-isra’:36.
ولا تقف ما ليس لك علم إن السمع والبصر والفؤادكل ألئك كان عنه مسؤلا
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabannya.
Ilmu pengetahuan dalam ayat 1 Q.S al-Alaq tersebut bertujuan membangun peradaban manusia yang bernilai rabbani, yakni ilmu pengetahuan harus memiliki manfaat dan bernilai melindungi, memelihara, memberi kemudahan dan kesejahteraan bagi seluruh manusia dan alam semesta, bukan Saat ini ilmu pengetahuan justru menjerumuskan martabat kemanusiaan dalm jurang kehancuran.
Lingkungan ilmu pengetahuan dalam ayat 2 Q.S al-Alaq tersebut adalah mansuia dan alam semesta yang mengitarinya, karena keberadaan keduanya saling bergantung. Bangunan ilmu pengetahuan tidak akan berarti tanpa dukungan dari adanya saling hubungan antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam semesta. Maka ilmu pengetahuan tidak boleh saling mengorbankan hubungan keduanya, ia harus mendukung dan dibangun diatas penegakan prinsip ketuhanan, sehingga eksistensi ilmu pengetahuan berperan sebagai sarana pengontrol degradasi moral dan pengendali serta pengawas terjadinya eksploitasi tidak bertanggung jawab terhadap manusia dan alam semesta.
Sumber ilmu pengetahuan dalam ayat 4-5 Q.S al-Alaq tersebut adalah Tuhan, baik melalui proses ( ‘ilm kasby ), yang membangun karakter pengetahuan korespondensi , yang bersifat relative dan indeterministik, maupun tanpa melalui proses ( ‘ilm laduni ) yang membangun karakter pengetahuan kehadiran yang bersifat deterministic.

Kata ‘ilm dengan berbagai bentuknya terulang 854 kali dalam al-Qur’an. Kata ini digunakan dalam diterjemahkan sebagai pengetahuan, yang pada mulanya membentuk cirri-ciri utama peradaban muslim dan menuntunnya menuju ppuncak kejayaan. Waktu itu sebagaimana seharusnya saat ini, ‘ilm membentuk cara pemikiran dan pencarian muslim.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...