Sunday, May 22, 2011

Satu jam bersama Prof Dr. Siti Musdah Mulia MA


Satu jam bersama Prof Dr. Siti Musdah Mulia MA

22 mei 2011

              Kamis , Tepat jam 08.20 siang kami mendapatkan informasi menegenai kedatangan Prof Dr. Siti Masdah Mulia yang kini masih diperjalanan menuju kota Tanger untuk menghadiri undangan dari kementrian dalam negeri maroko.selain kota Meknes, Rabat, Mrakech, Kinetra, Tetouan dan kota lainya yang didalamnya terdapat mahasiswa Indonesia, kota Tanger juga adalah salah satu kota yang didalamnya terdapat mahasiswa Indonesia yang kebetulan semuanya adalah delegasi dari PBNU Jakarta pusat. Setelah mendapat kabar ini kamipun langsung berinsiatif untuk bisa bertemu dengan beliau karena menurut saya even-even seperti ini sangat jarang sekali ditemukan apalagi yang datang adalah seorang aktivis perempuan dari Fatayat NU yang pertama kali mendapatkan gelar Profesor yang dikukuhkan oleh LIPI sebagai profesor Riset bidang Lektur Keagmaan di bidang Departemen Agama (1999) dengan Pidato Pengukuhan: Potret Perempuan dalam Lektur Agama (Rekontruksi Pemikiran Islam Menuju Masyarakat Egaliter da Demokratis).
              Alhamdulillah akhirnya keinginan kamipun terkabulkan, ini semua berkat kerjasama dengan salah satu mahasiswa maroko dari kota Meknes dan satunya lagi dari kota Rabat yang kebetulan mereka berdua mendapatkan amanah dari pihak KBRI maroko untuk menemani perjalanan Prof Dr. Siti Musdah Mulia selama di kota Tanger mereka berdua adalah Sabiq ( Mustasyar PCI-NU Maroko ) dan Yeti ( Fatayat PCI-NU Maroko). Harapan kami semoga dengan even ini bisa mendapat wawasan dan khazanah islam baru serta pemikiran dan intelektual beliau sebagai perbandingan didalam kami mencari ilmu di negeri seribu benteng ini.
               Pukul 13.15, terdengar suara dering hand phone dari saku jaket hijau saya ,yang mana teman saya meminta kami agar secepatnya meluncur ke Hotel Solazur karena acara pertemuan ilmiyah dengan kementrian dalam negeri maroko sudah selesai dan beliau sekarang sedang beristirahat disini. Disamping tempatnya yang indah,nyaman serta dikelilingi gedung-gedung yang menjulang tinggi dan dihiasi dengan pemandangan pantai tanger yang sangat menyejukan beliau sengaja memilih hotel ini disisi lain sbagai tempat nostalgia beliau dimana dulu pernah mampir di pantai tersebut.
                Dalam pertemuan itu, Musdah Mulia banyak memberikan motivasi terhadap para mahasiswa-mahasiswi utusan PBNU, Beliau berpesan agar mahasiswa-mahasiswi Indonesia di Maroko menggunakan kesempatan belajar sebaik baiknya, banyak menggali literatur-literatur kitab salaf, melaksanakan kajian-kajian ilmiah dan tetap berusaha mendapatkan informasi yang berimbang dari perkembangan issu dan wacana kontemporer, hal tersebut dimaksudkan agar kader-kader Nahdlatul Ulama mampu melakukan proses pengawalan terhadap ide-ide besar Nahdlatul Ulama khususnya yang terkait dengan Nasionalisme dan perlindungan terhadap hak asasi manusia.
                 Sebelum kembali ke rabat beliau juga sempat memberikan buku karangannya yang berjudul ISLAM & HAK ASASI MANUSIA ( konsep dan implementasi)
Hak perempuan dalam perkawinan. Ada halaman yang menurut saya sangat menarik untuk dibaca dan di fahami betul-betul yaitu pada halaman 108 yang membicarakn tentang hak perempuan dalam perkawinan.
Menurut beliau perkawinan adalah perjanjian antara dua orang yang berlawanan jenis sesuai dengan tuntunan Alloh swt dan rasul-Nya. Perkawinan memberikan hak laki-laki dan perempuan untuk mendapatkan kenikmatan seksual. Beliau juga memaparkan tentang kesetaraan hak asasi manusia baik laki-laki maupun perempuan di dalam perkawinannya.
dengan begitu tidak ada lagi kekuasaan mutlak satu atas yang lainnya .
Lebih jauh lagi , dalam pembahasan tentang relasi seksual , pandangan fikih madzab hanafiyah,misalnya lebih transparan . dikatakan bahwa perempuan berhak menuntut hubungan intim kepada suaminya, dan apabila istri mengendaki , suami wajib mengabulkannya,demikian sebaliknya. Madzhab malikiyah juga menyetujui pendapat ini. Madzhab ini menyatakan bahwa suami wajib mengabulkan tauntutan seks istrinya selama tidak ada halangan.
                      Hubungan seks harus dilakukan secara sehat. Ini berarti relasi seksual, dan kesediaan kedua pihak untuk saling menerima dan memberi hendaknya dilakukan secara tulus, bukan paksaan. Sementara di masyarakat, pandangna yang dianut oleh kelompok mayoritas sangat bias nilai-nilai patriarkhi, yaitu bahwa nikmat seksual hanya menjadi milik laki-laki. Artinya , hanya para suami saja yang mempunyai hak monopoli seksual atas istrinya, sedangkan para istri harus meuruti keinginan para suami. Seseorang istri berkewajiban memenuhi tuntutan seksual suami, tapi tidak sebaliknya.
Ironisnya , pandnagan seperti itu dinisbatkan pada bunyi hadis Nabi saw. “ apabila seorang suami mengajak isterinya ketempat tidur, lalu ia menolak (karena itu ) suami menjadi marah, maka malikat akan melaknat isteri tersebut sampai pagi’’ (H.R. Bukharin Muslim).
            Hadis tersebut jika dipahmai secara tekstual maka niscaya akan menimbulkan kesan kuat akan adanya superioritas laki-laki atas perempuan. Lebih fatal lagi, bahwa pemahaman yang sangat tekstual itu dijadikan sebagai alat legitimasi bagi laki-laki untuk memaksa permpuan dalam hal hubungan seksual. tidak diherankan jika dikemudian hari ditemukan berbagai macam kasus pemaksaan seksual, bahkan kekerasn seksual ( sexual abuse) atau dalam bentuk yang lebih parah seperti perkosaan dalam perkawinan ( marital rape ) yang dilakukan oleh kaum laki-laki dalam wilayah domestiknya.
Menarik sekali untuk dikemukakan disini menegenai pandanngan dua pakar hadits. Pertama, Ibnu Hajar al_Asqalani, pakar hadits terkemuka , dalam kitabnya Fath al-bari mengatakan kutukan itu ditimpakan kepada si perempuan ( isteri yang menolak ) jika dia melaukan tanpa alasan apapun.( Juz IX/ 294). Kedua, Wahab al-Zuhaili mengatakan bahwa hukuman itu ditimpakan kepada isteri apabila ia tidak disibukan dengan urusan-urusan yang menjadi kewajibannya dan apabila ia tidak merasa dirugikan baik secara fisik maupun mental ( ma lam yusyghilha an al-faraid aw yadhurruha ) ( Al- Faqih, IX/ 6851). Selanjutnya Az –Zuhaili menambahkan bahwa kalimat fa baata ghadban ( dan suami sepanjang malam dalm kondisi marah) sebagai syarat kondisional. Artinya kutukan itu hanya ditimpakan pada isteri jika akibat perbuatannya yang tanpa alasan itu menjadi suaminya marah sepanjang malam. Tetapi , jika kondisi itu tidak terjadi, maka kutukan itupun tidak terlaksana. Dari dua pendapat ulama tersebut dapat disimpulkan bahw alasan isteri menolak ajakan suaminya perlu ditelusuri. Jika alasan penolakannya itu logis dan memenuhi criteria syar’i ia tidak berhak dipersalahkan apa lagi dilaknat, dan justru sebaliknya, suami merekalah yang harus dilaknat.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...