Tuesday, September 13, 2011

Seminar Islam Nusantara di Masjid Hassan II Maroko

Masih dalam rangkaian harlah NU ke-92 dan suasana Pameran Buku Internasional ke-24 di Casablanca, selasa pagi, 13 januari 2018, PCINU Maroko mengadakan seminar yang bertema At Ta’arruf ‘ala Al Islam fi Indunisia yang digelar di auditorium Madrasah Qur’an Masjid Hassan II, Maroko. Acara ini diisi oleh KH Zamzami Amin selaku perwakilan dari PBNU, juga Dr Musthafa Najm selaku mudir Madrasah Qur’an yang bernaung di bawah yayasan Masjid Hassan II. Dalam kesempatan tersebut, turut berbicara pula ketua PCINU Maroko Abdullah Aniq Nawawi. Acara ini dihadiri oleh nahdliyyin maroko dan mahasiswa maroko.

Dalam sambutannya, Aniq berbicara tentang Islam ramah. Dia menuturkan bahwa kenapa Indonesia yang terdiri dari beragam perbedaan baik agama, suku, budaya hingga Bahasa bisa tetap hidup damai berkat islam ramah yang ditunjukkan oleh para kyai kita.

Kemudian, Dr. Musthafa menyampaikan tentang pengalamannya berkunjung ke bali di mana dia berkunjung ke sebuah masjid yang dinamakan dengan salah satu pengembara ternama dari Maroko, Ibnu Battuta. Selain itu, di hadapan ratusan peserta seminar, beliau juga menyampaikan tentang eksistensi ribuan pesantren yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama. “di Maroko, kalau kita bicara pesantren, maka yang hadir di benak kita adalah jumlah santri yang mencapai ratusan. Tetapi di Indonesia, kita akan mendengar jumlah santri yang ribuan dan belasan hingga puluhan ribu”. Perkataan beliau sontak diiringi decak kagum dan ungkapan kalimat tabarakallah dari para hadirin. Beliau juga berbicara tentang keragaman Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau yang terikat dalam Pancasila yang begitu luar biasa. “saya katakan sekali lagi, 17 ribu pulau”. Dengan penuh tekanan dan diiringi oleh rasa takjub para hadirin. Mengenai PBNU, beliau juga menyampaikan kepada hadirin bahwa NU adalah ormas terbesar yang memiliki pengaruh dalam bidang politik, agama, sosial, budaya hingga ekonomi.

Sedangkan dari PBNU, KH Zamzami Amin bercerita tentang dakwah ulama kita yang menekankan kebijaksanaan dan kepekaan hati dalam berdakwah di masyarakat. Beliau menceritakan kisah toleransi di kudus, tentang larangan Sunan Kudus untuk tidak menyembelih sapi bagi umat islam dalam perayaan idul adlha ataupun yang lainnya agar tidak menyakiti umat hindu. Kyai Zamzami juga menyampaikan tentang bahwa Indonesia, melalui NU adalah satu-satunya lembaga atau negara yang bisa masuk untuk ikut membantu krisis yang terjadi di rohingya. “kenapa kita bias diterima di rohingya, sedang yang lain tidak?” ini tidak lain karena kita membawa misi kemanusiaan.

Juga, beliau memaparkan tentang hubbul wathan minal iman. Menurut Kang Zam, diantara alasan kenapa sampai saat sekarang Indonesia tetap damai, karena NU adalah ormas yang sangat menjunjung tinggi cinta tanah air. Bahkan beliau dengan semangat menyampaikan bahwa nasyid hubbul wathan minal iman gubahan KH Wahab Hasbullah ini telah memberi energi untuk umat beragama lain hingga mereka menyanyikannya di tempat ibadah mereka.


Sebelum membacakan doa, Dr Mustafa juga memuji tentang konsep cinta tanah air di kalangan umat islam di Indonesia, dan beliau melontarkan sebuah pertanyaan yang lebih kurang tentang kenapa kita (orang maroko) tidak terlalu memerhatikan konsep cinta tanah air dalam keberagamaan kita.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...