Thursday, September 8, 2011

Hikmah Lebaran Di Negeri Seribu Benteng



Bila lebaran tiba, saya suka iri melihat teman-teman yang sibuk mempersiapkan diri untuk mudik. Dulu, saya suka heran mengapa orang-orang rela mengantri panjang-panjang untuk beli tiket atau berdesak-desakan naik kendaraan umum bahkan ada yang nekat naik sepeda motor dari Jakarta ke Jawa Tengah hanya untuk sekedar bisa berlebaran di kampung halaman.
Belakangan ini, keheranan saya tersebut terjawab sudah. Apa yang membuat keheranan saya terjawab..??  Keheranan tersebut terjawab ketika saya mengenyam ilmu di pesantren kemudian diberi amanat oleh kiyai saya untuk berlebaran dipesantren sekaligus menjaga bilik bilik pesantren yang ditinggal oleh para penghuninya agar tetap terisi meski hanya satu orang disetiap kamarnya. Sebetulnya saya ingin menolak tapi tak kuasa karena memang sudah menjadi tradisi di pesantren kami, setiap santri yang mau selesai dari belajarnya diakhir tahunnya  pasti mendapatkan tugas dari pengasuh pondok pesantren untuk menjaga dan membersihkan halamannya, khususnya di hari lebaran semua santri yang bertugas sudah standby didapur rumah pak kiyai untuk mempersiapkan jamuan bagi para tamu yang datang untuk bersilaturrahmi dan saling maaf memaafkan.
Sejak memasuki bulan Ramadhan pada tahun itu hati saya sebenarnya sudah sedih dan gelisah. Bagaimana tidak?? Meski saya bukan berasal dari keluarga besar bagi saya bulan Puasa selalu mempunyai kenangan manis. Sahur dan buka puasa bersama-sama (walaupun ketika menginjak remaja tidak setiap hari bisa buka puasa di rumah) merupakan saat-saat paling  intim buat kami sekeluarga.
Semua kenangan indah itu berbanding terbalik ketika saya harus menjalani ibadah puasa di Pesantren sampai lebaran tiba. Yang paling menyiksa adalah saat sahur. Saya harus masak dan makan sendirian. Demi untuk mendapatkan ridho dari sang kiyai sayapun berusaha mejalaninya dengan sabar dan ikhlas meski harus masak sendiri dan melewatkan satu hari raya Idul Fitri jauh dari keluarga dan orang-orang yang saya cintai namun saya yakin tiada lain dibalik semua itu pasti ada hikmahnya diantaranya agar saya bisa mandiri.  
Penderitaan sedikit berkurang saat tiba berbuka puasa karena di Masjid kawasan pesantren setiap harinya menyiapkan hidangan berbuka gratis bagi para santri yang menetap dipondok, atau ketika menjelang maghrib terkadang kami berkeliling mendatangi rumah teman sekelasku  yang jaraknya tidak jauh dari pesantren, biasanya mereka meminta kami untuk buka bersama  (maklum santri….senengnya cari gratisan saat itu…hehehe).
Secara garis besar, sebenarnya tidak ada kendala yang cukup berarti untuk menjalani puasa jauh dari keluarga meski rasa rindu ingin bertemu dan ingin bersama dengan keluarga selalu menyelimuti tapi semuanya bisa langsung terobati tatkala habis lebaran mendapatkan izin pulang dari pak kiyai. (legaaaaa rasanya hatikuuu)
Ditahun berikutnya saya mengalami kejadian yang sama dengan tahun sebelumnya bahkan ditahun ini saya dituntut agar lebih sabar dan ikhlas menjalaninya setelah saya dinyatakan lulus test untuk meneruskan belajarku di negeri seribu benteng (Maroko). Namun tetap, hati saya nelangsa, saya rindu rumah, rindu masakan orang tua, rindu candaan dan kadang pertengkaran dengan saudara-saudara saya. Apalagi ketika bulan puasa jatuh pada musim panas setiap harinya harus menahan lapar dan dahaga sampai 16 jam lebih.
Ada sedikit yang berbeda ketika puasa dinegeri orang yang tadinya setiap buka mendapatkan gratisan dari masjid kini hanya satu minggu sekali saya dan mahasiswa lainya mendapatkan makanan gratis untuk buka puasa itupun dari kedubes Indonesia di Maroko  yang setiap satu minggu sekali menyiapkan hidangan berbuka gratis bagi para mahasiswa dan warga indonesia yang tinggal di Maroko yang setelahnya dilanjutkan dengan sholat tarawih berjamaah dan sesudah itu diteruskan dengan pengajian yang diisi oleh sebagian dari mahasiswa tersebut.
Selama bulan puasa khususnya mahasiswa Indonesia memasak bareng-bareng dan berkumpul di salah satu tempat yang sengaja untuk menampung mahasiswa asing ketika liburan (musim panas) dan Alhamdulillah disini kami sering mendapatkan bantuan sembako dari KBRI Maroko dan Dharma Wanita Persatuan (DWP) di Maroko yang setidaknya bisa mengirit anggaran belanja.
Saat malam takbiran tiba, semua mahasiswa Indonesia mendapatkan undangan dari KBRI Rabat untuk mengumandangkan takbir bersama di aula serbaguna sekaligus pembagian zakat. Terasa senang hati ini ketika mendapatkan amplop zakat yang berisi uang, setidaknya bisa untuk membeli baju baru tapi, setelah pulangnya dari KBRI tiba tiba saya teringat disaat saya bertakbir bersama keluarga dan saudara dikampung halamanku, untuk mengusir rasa sedih, saya memilih berkumpul dengan teman-teman Indonesia di salah satu apartemen teman kami. Kami masak bareng-bareng dan cerita ngalor ngidul sampai curhat mengenai betapa rindunya kami pada keluarga.
Pagi harinya beramai-ramai kami berangkat ke Wisma Duta Indonesia untuk mengikuti sholat Ied di halaman wisma duta, rumah yang didiami oleh bapak dubes RI di Maroko. Meski hampir semua warga Indonesia yang ada di seluruh penjuru Maroko (bahkan ada juga yang datang dari Maroko)  melakukan sholat Ied di halaman Wisma Duta Indonesia namun tidak membuat tempatnya menjadi penuh karena luasnya halaman wisma tersebut.
Selesai sholat Ied, kami bersalam-salaman sekaligus halal bihalal di tempat kediaman Dubes Indonesia di Maroko, sekitar setengah jam kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan yang dihibur oleh group Sholawat Rabatina di tempat kediaman dinasnya yang asri, luas dan rimbun ini. Segala jenis makanan nusantara bisa ditemui dan dinikmati disini, mulai dari opor ayam, ketupat, lontong, soto madura, dan lain-lain. Dan semuanya GRATIS….hehehe.
Lebaran di WIsma Duta Indonesia juga merupakan ajang bagi kami bertemu dengan seluruh warga Indonesia dari segala penjuru Maroko. Bertemu dengan orang-orang yang senasib dan seperjuangan, membuat rasa sedih dan nelangsa saya hilang untuk sesaat. Yah, cuma sesaat!!
Setelah sholat Ied, halal bihalal dan makan makan  itu usai, saya kembali ke apartemen, rasa sepi dan nelangsa kembali menyengat. Saya segera menelpon keluarga di Jawa, yang karena perbedaan waktu saat itu sudah merayakan Hari Raya Lebaran. Begitu mendengar suara Bapak dan Ibu saya diujung telepon, saya tak mampu mengeluarkan kata-kata, air mata saya mengalir deras, bahkan kata maaf pun sampai tak bisa keluar, yang ada hanya suara sesenggukan saya, yang membuat dada saya berguncang hebat tak karuan.
Saat itu baru saya sadari, bahwa betapa berartinya mereka bagi saya, orang tua yang sangat saya sayangi. Betapa saya tak berdaya tanpa mereka. Duuhh, andaikan saat itu saya mahasiswa yang berkelebihan uang, ingin rasanya saya terbang ke Jawa untuk sekedar bersujud di kaki mereka dan memeluk mereka erat-erat. Momen itu membuat saya sadar bahwa tiada yang lebih indah selain merayakan hari yang Fitri dengan dikelilingi oleh keluarga, saudara dan kerabat tercinta.
Momen itu membuat saya mengerti dan menghormati urgensi mudik.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1432 H.  Mohon Maaf Lahir Batin.

*Mahasiswa di Ma’had Atiq Imam Nafi’ Tanger-Maroko

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...