Saturday, December 24, 2011

Memaknai Hari Ibu


Dua hari yang lalu baru saja kita telah memperingati Hari Ibu yang diperingati setiap 22 Desember. Sementara di Amerika dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Italia, Jepang, Belanda, Malaysia, Singapura, Taiwan, dan Hong Kong. Hari Ibu atau Mother’s Day (dalam bahasa Inggris) dirayakan pada hari Minggu di pekan kedua bulan Mei.

Di beberapa negara Eropa dan Timur Tengah, Hari Perempuan Internasional atau International Women's Day (dalam bahasa Inggris) diperingati setiap tanggal 8 Maret. Apa sesungguhnya makna Hari Ibu untuk masyarakat Indonesia?

Merunut dari sejarah penetapannya, hari Ibu digagas oleh aktivis organisasi perempuan seluruh Indonesia dalam kongres yang digelar pada 22-25 Desember 1928 yang kini dikenal dengan nama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI). Kongres ini bertujuan untuk memperkuat keberadaan perempuan di ranah publik.

Saat itu ada 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatra yang ikut serta. Mereka saat itu berkumpul untuk mempersatukan organisasi-organisasi wanita ke dalam satu wadah demi mencapai kesatuan gerak perjuangan untuk kemajuan wanita bersama dengan pria dalam mewujudkan Indonesia merdeka.  

Adapun penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu ditetapkan pada Kongres Wanita ke-3 yang diadakan di Bandung pada tanggal 22 Desember 1938. Penetapan tanggal ini bertujuan untuk menjaga semangat kebangkitan wanita Indonesia secara terorganisasi dan bergerak sejajar dengan kaum pria.

Mengingat pentingnya makna Hari Ibu tersebut, Presiden Sukarno mengeluarkan Dekrit No. 316 Tahun 1959 pada tanggal 16 Desember 1959 yang menetapkan Hari Ibu sebagai Hari Nasional namun sayangnya bukan hari libur. Tanggal ini kemudian terus diperingati hingga sekarang sebagai hari Ibu.

Sayangnya, makna dari Hari Ibu sendiri kerap kali diartikan sebatas seremonial. Pemberian bunga untuk Ibu sebagai bukti cinta kasih atau pemberlakuan libur sehari bagi para Ibu untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, hanya jadi ritual simbolik yang sepertinya miskin makna.

Hari Ibu sepantasnya dimaknai sebagai renungan bersama. Bagaimana caranya sejak 22 Desember tahun ini, tak ada lagi Ibu-Ibu muda yang datang terbujur kaku dalam peti mati dari negeri tetangga, atau sama-sama memikirkan solusi menghentikan penjualan para calon Ibu ke luar pulau untuk dieksploitasi.

Masalah utama lain yang bisa dilirik adalah komitmen pemerintah dalam mengupayakan kesejajaran hak hidup separuh warga negaranya itu. Kasus Ruyati, nikah dini, perkosaan, dan maraknya kasus aborsi yang merugikan para calon ibu, masih bisa dijadikan bahan renungan pada peringatan Hari Ibu tahun ini.

Sekali lagi, Hari Ibu jangan sekali-kali disejajarkan dengan makna Mother Day’s di Eropa dan Amerika. Di mana, perayaan itu hanya difungsikan untuk mengekspresikan penghargaan terhadap peran Ibu di wilayah domestik. Namun, lebih dari itu peringatan ini harus diartikan sebagai bentuk kemajuan perempuan, sesuai dengan harkat dan martabatnya yang memang dimuliakan oleh semua agama.

Ibu adalah cerminan ketulusan, kesabaran, dan doa untuk anak-anaknya. Ibu juga makna luas dari sosok perempuan yang berperan besar dalam kokohnya sebuah negara. Tidak ada satu pun orang besar yang tidak didukung doa tulus seorang Ibu.

Karena itu, berlakulah seperti Ibu—walaupun kita kebetulan calon Bapak—yang kasih sayangnya tak lekang oleh waktu. Doa baik Ibu selalu mengalir untuk anak-anaknya. Dan kebahagiaannya muncul saat kita (semua yang dilahirkan) mencapai kebahagiaan hakiki.

IBU,
MAAFKAN ANAKMU YANG BANYAK BERDOSA PADAMU INI
SEKARANG, AKU AKAN BERTERIMA KASIH PADAMU
ATAS SEGALA JASAMU YANG TAKKAN BISA KUBALAS
SAMPAI KAPANPUN
Selamat Hari Ibu!


No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...