Monday, December 19, 2011

Pantai Andalusia Menyaksikan.


      Senja adalah saatnya matahri masuk peraduan, menuntaskan tugasnya dan beristirahat hingga esok hari. Senja adalah saatnya pergantian suasana , dari teriknya siang menuju temaram dan diakhiri dengan kegelapan. Matahari begitu indah bulat sempurna bergerak perlahan membenamkan diri di ufuk Barat. Sebuah tugas yang telah dijalani dalam kurun waktu yang tak terbilang, menghambakan diri pada Alloh menerangi makhlukNya di Bumi yang fana. Tak ada kata protes dan tanya mengapa ia harus begitu, terbit dari Timur dan terbenam di Barat. Sementara manusia yang hanya mempunyai waktu singkat, terlalu banyak bertanya dan protes dengan ketentuan sang Maha Kuasa. Banyak cerita seputar senja. Banyak senja dilalui di berbagai belahan nusantara, beberapa di pelosok dunia. Ada yang ternikmati, banyak juga yang terlewatkan begitu saja.
Suara Adzan Mahgrib dari kejauhan telah berkumandang, seruan sakral untuk hati manusia yang merasa beriman. Aku berlari, menyibakkan keremangan senja Andalusia. Sekuat tenaga ku kerahkan, aku tak mau ketinggalan sholat berjamaah di Mesjid yang tak jauh dari pantai. Aku segera mengambil air wudhu dengan hikmat seraya berdoa, semoga segala dosa anggota tubuhku akan hilang mengalir bersama air. Dalam salam tasyahud akhir, ada getaran menjalar hangat dalam kalbuku. Bagai bisikan ghaib, memberikan pencerahan dan membawa ketenangan menyejukkan. Aku mendapatkan sebuah jawaban kecil kini, harus aku tafsirkan jawaban itu menuju sebuah langkah yang dibenarkan secara keimanan.
Aku meminta izin kepada tomy yang menemaniku semenjak pagi hingga matahari menghilang agar berkenan meninggalkanku sendirian di pantai itu. Aku terharu mendengarkan ceramah seorang Ustad ternama namun bersahaja, banyak nasehat dan peringatan Ayat-Ayat Al-Quran dan Hadist yang dia ungkapkan dengan lembut seusai sholat Maghrib berjamaah. Sesekali ia membuat tertawa dan tersenyum para hadirin, sebuah ukhuwah indah dalam kebersamaan menelusuri cahaya Illahi. Aku kembali menuju pantai. Agak gelap, aku melihat bintang-bintang sudah bersinar bertahta di jubah malam. Kehidupan malam telah dimulai dengan segala drama yang akan terjadi. Tentu semua akan terjadi atas garis takdir yang ditetapkan dalam kitab besar kehidupan.
Malam tempat makhlukMu dalam kelemahan ya Alloh
Ada kantuk dan lelah raga menggoda hati untuk dekat kepadaMU
Tetapi ada noktah-noktah bersinar di hamparan Bumi ini yang selalu memanjat doa
Bersujud atas kebesaran anugerah dan hidayah mengalir deras di sungai keimanan
Berucap lirih pada jeda hati untuk meminta sebuah kemudahan dalam diri
Kata pasrah dan keiklasan kalbu menjunjung ketentuanMu
Aku selalu menunggu sapaan ketentramanMu melingkupi kalbu
Dentuman suara ombak Andalusia kini tak main-main, bergema menghantam pantai. Hatiku menerawang menembus lapisan langit mencari kekuatan dengan tarikan nafas berat. Ini bukan masalah kecil bagiku, wanita adalah sebuah anugerah yang Alloh berikan untuk menemani lelaki di dunia dan akhirat kelak. Ini sebuah pesan besar titipan Maha Kuasa sejak Nabi Adam meminta seorang teman yang menentramkan hati. Waktuku tak banyak untuk menentukan kehidupanku menjadi manusia seutuhnya, meminang seorang wanita untuk aku manjakan dan bimbing menuju surga Illahi Rabbi. Satu langkah kedepan harus istikomah menjalani pernikahan sakral menjauhi perceraian yang dikutuk olehNya. Diana memang sahabat sejak aku kecil, ramah dan cantik. Ayahku sangat menyukai Diana dengan segala pesonanya, tak pelak Ayahku memberikan anjuran agar aku segera meminangnya. Diana berpendidikan tinggi dengan karir yang sangat baik di usianya yang masih muda. Akupun mengakui segala kelebihan Diana namun hati tak bisa berbohong atas sentuhan cinta yang Alloh berikan pada umatnya.
Sejak aku mendatangi sebuah pesantren, untuk mendalami ilmu fiqih. Pak Kyai mengenalkan anak perempuannya kepadaku. Fatimah tak secantik Diana di kota, Fatimah perempuan sederhana dengan senyum yang menyejukkan. Dia senang mengenakan Jilbab putih, Fatimah dikenal sebagai perempuan lemah lembut namun tegas urusan syariat keagamaan. Fatimah bercita-cita, ingin mendirikan pesantren khusus wanita. Fatimah menginginkan wanita-wanita sebagai calon ibu mendapatkan wawasan yang baik dalam keagamaan, agar mereka bisa menjadikan anak-anak yang dekat kepada TuhanNya kelak.
“Mungkin aku bisa berbuat banyak untuk syiar agama dan hijrah menuju kebaikan jika aku bersama fatimah !”
Aku tak mengerti mengapa setiap kali aku melihat Fatimah, hatiku makin tentram dan seakan aku lebih mensyukuri akan waktu dan keimanan yang Alloh berikan. Sulit dijabarkan dan diterangkan memang, itulah perkara hati, hanya Alloh yang mempunyai kuasa membolak-balikkan hati manusia dan memberikan rasa bahagia dan ketenangan kalbu atas karunianya. Aku hanya ingin semua ini ada ujung persinggahan yang pasti, tidak diombang-ambingkan rasa dan keadaan.
Aku menyadari bahwa jodoh telah Alloh siapkan saat aku diciptakan dan ditiupkan ruh. Perkara pencarian dan saat bertemulah yang menjadi momen yang menentukan kehidupan selanjutnya.
Pegal telapak kakiku menyusuri pantai Andalusia, hanya sendiri. Deburan ombak semakin berdentuman menyambut pasang beberapa saat lagi, sang laut seakan ikut mengerti keresahan bathinku. Tak cukup waktu tiga jam aku bertadabur alam, mencari sebuah kebeningan iman menelusuri bias-bias permasalahan yang menjadi benalu satu bulan terakhir. Terhenti langkahku sejenak, menundukkan kepala dan terpejam. Belum ada jawaban melegakan yang aku temukan, kalbuku masih mencari sebuah pembenaran yang bisa aku ambil. Kini aku mendongak melihat langit jingga bersemburat biru kelabu, semakin kuning keperakan menuju batas cakrawala. 
Di gelapnya malam yang sunyi dan dingin yang terus menyelimuti aku tak kuasa bertahan lama bersama deburan ombak. Aku putuskan menuju mesjid dekat pantai yang sama, Aku lakukan sholat tahajud juga sholat istikhoroh. Aku bersimpuh dan memanjatkan lantunan doa, seraya meminta maaf kepada Alloh SWT atas segala dosa yang mengotori diri. Berharap dengan tangisan lirih dan derai hangat air mata, semoga Alloh menjaga keimananku dalam menjalani kehidupan dunia yang kejam dan penuh kepalsuan. Aku sangat takut akan murka Illahi, tak sanggup kiranya badanku yang lemah menahan kedahsyatan api neraka namun Aku malu jika harus berharap surgaNya.
“Terasa kecil segala amalku untuk memuliakan dan mengagungkanMu ya Alloh, dibandingkan segala nikmat dan karunia yang kau berikan setiap detiknya. Aku tak akan sanggup jika harus memujamu setiap detik atas karunia setiap detiknya yang Kau curahkan kepadaku. Akupun malu saat kau tidurkan aku dengan pulasnya, dengan nafas teratur dan penuh kenyamanan, aku tak mampu berdzikir dan mataku hanya terpejam menikmati karuniamu itu. Ketika ruh itu kau kembalikan memasuki tubuhku, aku terbangun kembali dan melihat kembali keindahan dunia ini, tetapi aku terkadang enggan kau uji dengan sedikit kesulitan dan kekurangan, aku selalu mengeluh seakan tak cukup akan semua pemberianmu ya Alloh……itulah kelemahanku ya Alloh !”

Menjelang pukul 00.00, Aku menuliskan surat yang akan aku kirimkan kepada Diana. Semoga ini sebuah langkah terbaik yang aku ambil dan ayahku bisa mengerti dengan keputusanku. Aku berharap Diana pun bisa memahami. Di sebuah penggalan suratku Aku berkata :
“…..Diana, aku sangat senang bisa mengenalmu sejak kecil. Banyak cerita lucu dan menyenangkan bersamamu, hingga kita dewasa kini. Perjalanan cerita kita terakhir beberapa bulan yang lalu, penuh sentuhan emosional. Kita dihadapkan pada suasana fase berikutnya tetang sebuah hati, sebuah rasa yang berkembang. Harus kau yakini, aku begitu menyayangimu Diana. Ada jalinan kasih yang kuat dengan simpul-simpul rapi, cukup membuatku terbawa akan rasa indah bersamamu. Bukan aku tak menghargai itu, namun Alloh telah menunjukkan sebuah rasa cinta yang begitu kuat, menggetarkan rasa dan sayangku. Katakan itu sebuah anugerah yang Alloh siapkan lama untukku, aku harus menerimanya dengan tanggungjawab yang besar dan penuh rasa syukur….”
Sejenak aku memandang pantai Andalusia lewat jendela masjid, terdengar sorak dan tawa ramai kaum muda mudi penuh histeri sembari menyalakan kembang api menyambut datangya tahun baru masehi yang telah lama dinanti. Kulihat jam dinding yang berada diatas pengimaman masjid tepat menunjukan pukul 00.00 hingga akhirnya aku keluar menuju tempat peraduan , tempat aku belajar dan bersabar menjemput hati yang sudah menanti di pesantren nan jauh sana.
Pagi ini ombak Andalusia tak begitu tinggi dan besar, mengantarkan buih-buih putih bersih menuju pantai dengan sebuah ketaatan kepada sang Maha Kuasa yang mengatur alam semesta.

…Selamat Tahun Baru 2012 Masehi…

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...