Monday, December 19, 2011

Peran lingkungan dalam pendidikan


     Pendidikan merupakan sebuah proses, bukan hanya sekedar mengembangkan aspek intelektual semata atau hanya sebagai transfer pengetahuan dari satu orang ke orang lain saja, tapi juga sebagai proses transformasi nilai dan pembentukan karakter dalam segala aspeknya. Dengan kata lain, pendidikan juga ikut berperan dalam membangun peradaban dan membangun masa depan bangsa.

Peran pendidikan bagi suatu bangsa sangat penting. Dan itu tidak bisa di  pungkiri lagi, sehingga pendidikan dan pengajaran mutlak diperlukan bukan hanya untuk membangun suatu peradaban yang lebih bagus tapi itu merupakan kewajiban bagi setiap orang. Sebagian orang menjadikan ta’lim dan ta’allum (  belajar dan mengajarkan ilmu ) bukan sebagai kewajiban, tapi sebagai kebutuhan, dalam arti bahwa ta’lim dan ta’allum merupakan thoriqoh (jalan hidup). Bukan hanya sekedar konsepsi tapi sudah menjadi tradisi. 

Sebagaimana Islam yang diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad mengandung implikasi kependidikan yang bertujuan untuk menjadi rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi sekalian alam). Di dalamnya terkandung suatu potensi yang mengacu kepada dua fenomena perkembangan , yaitu:
1. Potensi psikologis yang mempengaruhi manusia untuk menjadi sosok pribadi yang berkualitas bijak dan menyandang derajat mulia melebihi makhluk-makhluk lainnya.
2. Potensi perkembangan kehidupan manusia sebagai ‘khalifah’ di muka bumi yang dinamis dan kreatif serta responsif terhadap lingkungan sekitarnya, baik yang alamiah maupun yang ijtima’iyah dimana Tuhan menjadi potensi sentral perkembangannya.

Namun ketika kita melihat problematika pemuda yang terbentang dihadapan kita sekarang sungguh sangat kompleks sekali, mulai dari masalah penganguran, krisis mental, krisis eksitensi, hingga masalah dekadensi moral.belum lagi budaya primitif dan pragmatisme yang kian merebak membuat sebagian pemuda terjebak dalam kehidupan hedonis, serba instan dan tercabut dari idialisme sehingga cenderung menjadi manusia yang anti sosiaol.

Apalagi ketika ketika melihat anak-anak sekarang jauh lebih dewasa secara psikologis dibanding umurnya, sedikitnya ada tiga factor yang mempengaruhi perkembangan anak-anak didik sekarang. Inilah yang menurut penulis menjadi sorotan penting bagi kita sebagai anak didik agar bisa lebih berhati-hati  didalam bergaul dan beradaptasi dengan ligkungan. Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Kedua, lingkungan. Ketiga, teknologi.

Pertama, anak-anak dipaksa hidup dengan bahasa dan gaya hidup orang dewasa. Ada banyak uraian akan hal ini. Salah satu di antaranya adalah tidak adanya lagu anak-anak yang bertemakan kejenakaan dan bertemakan dunia anak-anak. Anak sekarang mulai usia sebelum sekolah sudah dipaksa membiasakan diri mendengarkan lagu-lagu dewasa yang celakanya lagi adalah rata-rata lagu dewasa itu bertemakan cinta pada lawan jenis, yang secara psikologis masih belum layak menjadi konsumsi anak-anak. Sehingga, anak-anak kecil sekarang ini sudah terbiasa mendengar kata pacar, cinta, dan hal-hal yang berhubungan dengan ikatan dewasa tersebut.

Kedua, lingkungan. Ya, lingkungan-lah yang paling bertanggung jawab atas teronaninya anak-anak kita hingga menjadi dewasa sebelum waktunya. Bagaimana tidak, saat sekarang ini, para orang dewasa secara sadar atau tidak mengajari anak-anaknya untuk berpacaran. Saat ada teman lawan jenisnya datang ke rumah, biasanya sang ibu atau ayah akan pergi meninggalkan mereka berdua. Belum lagi lingkungan sekitar yang menunjukkan bagaimana muda-mudi yang berlalu lalang dengan pasangannya masing-masing dan menjadi pemandangan lumrah bagi anak-anak yang sedang asyik bermain. 

Ketiga, teknologi. Harus diakui teknologi mengambil peran penting terhadap hal ini. Dulu untuk mendapatkan konten pornografi kita harus bersusah payah mendapatkannya. Sekarang tinggal download atau bluetooth saja. Dan parahnya lagi, hp anak-anak sudah sangat memungkinkan untuk menyimpan, menonton, bahkan hingga membuat atau menyebarkan. Akhirnya seringkali terjadi bisi-bisik di kalangan anak-anak lebih keras dan kencang dibanding bisik-bisik pada orang dewasa.

Dalam hal ini Ibnu Kholdun menegasakan bahwa 
Kalau yang satu telah lebih dahulu   (datang)   mempengaruhinya, sifat   yang lain   akan   menjauh dalam   bentuk   yang   seimbang, sehingga   menjadi   sukar  baginya untuk memperoleh sifat yang telah menjauh itu. Orang-orang yang memiliki sifat kebaikan  itu  telah terlebih dahulu mempengaruhi  dirinya,sehingga telah menjadi sifat yang tertanam dalam jiwanya, ia akan terjauh dari   kejahatan, dan sukar  baginya     untuk   melakukan kebaikan. Apabila kebiasaan-kebiasaan yang jahat itu terlebih dahulu sampai kepadanya, maka akan menjauh dari sifat kebaikan.

Dalam kutipan tersebut, menunjukkan suatu teori yang dilahirkan oleh Ibn Khaldun bahawa, manusia pada dasarnya adalah baik, pengaruh yang datang kemudianlah yang akan menentukan apakah jiwa manusia tetap baik, atau menyimpang menjadi jahat. Jika pengaruh baik yang terlebih dahulu datang, maka jiwanya akan menjadi baik. Demikian pulasebaliknya.Ibn   Khaldun juga    menegaskan,  bahawa  sifat kebaikan   dan kejahatan   telah   tertanam   sedemikian   rupa,  sehingga  telah  menjadi malakat-nya.
Dengan demikian, manusia diberi   kemungkinan mendidik diri dan orang   lain. Disinilah tergambar, bahawa dia memiliki kemauan bebas untuk menentukan dirinya sendiri melalui ikhtiarnya.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...