Thursday, April 26, 2012

Mengapa Harus Maroko?



Mengapa Harus Maroko?
Pendidikan galib dimaknai sebagai lokomotif dan avant garde perubahan suatu bangsa. Variable pendidikan dalam gerak pembangunan dewasa ini tidak bisa dinafikkan keberadaannya. Pendidikan pada dasarnya adalah dimaksudkan untuk membantu manusia dalam menumbuh kembangkan potensi-potensi kemanusiaannya. Kenyataan ini disokong oleh keyakinan bahwa melalui pendidikan potensi manusia bisa dikembangkan dan direkayasa, baik dalam skala mikro (individu) maupun makro (masyarakat).

Sejalan dengan hal itu pakar pendidikan Ivan Illich pernah mengatakan bahwa melalui pendidikanlah pengubahan karakter masyarakat secara masif bisa digalakkan. Oleh karena itu semangat untuk mengembangkan pendidikan serta melakukan inovasi sambil tetap berpegang teguh pada tradisi harus dilakukan oleh segenap lembaga-lembaga penyelenggara pendidikan di Indonesia, dulu, kini dan bahkan sampai nanti.

Upaya serta komitmen dalam mengembangkan bidang pendidikan sebagaimana di atas bisa ditempuh melalui pelbagai cara, untuk lembaga pendidikan Islam yang concern di bidang kajian keislaman misalnya bisa ditempuh dengan melakukan penggalian sumber ajaran keislaman ke salah satu lokus yang diyakini dan terbukti secara empiris menjadi salah satu peradaban yang turut membidani serta menyertai tumbuh-kembangnya ajaran Islam tersebut.

Kita tahu, bahwa lokus utama yang menjadi bidan kelahiran ajaran Islam adalah Negara-negara Timur-Tengah pada umumnya dan Arab Saudi pada khususnya (sebenarnya penyebutan ini tidak tepat karena sesungguhnya bagi orang  Indonesia yang tepat adalah menyebutnya dengan Negara-negara Barat-Daya, Timur-Tengah itu istilah yang dibuat oleh orang- orang Eropa). Namun kita juga tahu bahwa sejarah Timur- Tengah adalah sejarah peperangan, sejarah perkelahian politik dan juga sejarah pertumpahan darah. Dalam hal ini kita tidak bisa memungkirinya dan juga menutup mata akan realitas sejarahnya.

Sejarah mencatat dan mengamini bahwa sampai hari ini gejolak itu masih terjadi. Krisis politik, perebutan kekuasaan, pemakzulan serta konflik antar klan dan antar paham masih menjamur di Timur-Tengah sebagaimana terjadi di Mesir, Sudan, Irak dan juga Suriah. Demikianlah watak Timur-Tengah, mungkin hal ini disebabkan oleh suhu yang terlampau panas di dataran serta alamnya sehingga secara psikologis membentuk karakter manusianya yang ibarat mesin, ia juga cepat “panas”.

Di tengah gejolak yang demikian akut dan sengkarut itulah ada sebuah Negara yang selama ini cenderung luput dari pengamatan dunia. Sebuah Negara yang sebetulnya tidak bisa dipandang sebelah mata keberadaanya sebagai salah satu lokus yang ikut membidani pertumbuhan dan perkembangan peradaban Islam. Negara tersebut adalah Maroko.

Maroko—setidaknya sampai hari ini—memiliki suhu politik yang lebih sejuk dibandingkan dengan Negara-negara Timur-Tengah. Iklim politik yang kondusif itulah yang menjadi salah-satu alasan mendasar mengapa Negara ini layak dipilih di antara sekian banyak Negara-negara Arab lainnya sebagai tempat untuk ngangsu kaweruh serta pengkajian keislaman.

Politik, betapapun ketika ia bergejolak secara langsung maupun tidak langsung berdampak secara administratif lebih- lebih secara psikologis terhadap kenyamanan belajar. Bagaimana mungkin suasana nyaman dalam belajar itu tercapai tatkala terjadi pelbagai demontrasi, isu pemkazulan dan juga pemberlakuan jam malam misalnya?. Hal ini menjadi sangat penting bahwa peetimbangan kondusifitas sebuah Negara menjadi alasan mendasar dalam memilih tempat belajar.

Di samping alasan kondusifitas iklim perpolitikan, isu otentitas serta genuinitas ajaran juga juga menempati posisi penting dalam menjatuhkan pilihan tempat studi. Kita semua tahu bahwa Maroko adalah Negara yang mempunyai kesamaan serta kecocokan nilai-nailai keislaman, baik kultur maupun kajian, dengan ajaran Islam yang dianut oleh mayoritas muslim di Indonesia.

Momentum menjaga kultur keislaman itu hari ini menjadi sangat penting tatkala kita mendapati realitas sebagian alumnus-alumnus Timur-Tengah terutama jebolan Saudi Arabia, tatakala mereka kembali ke tanah air mereka sudah berubah menjadi agen-agen serta ranting-ranting gerakang Wahabisme serta Ideologi transnasional yang utopis itu. Sedangkan kita semua tahu bahwa ajaran-ajaran tersebut tidak berbijak dari realitas kultur yang cocok dengan kultur keislaman nusantara.


Maroko, sekali lagi sebagai bukti akan genealogi serta transmisi keilmuan yang nyambung dengan keislaman Indonesia, adalah banyaknya ulama kaliber dunia yang karyanya dikaji sampai hari ini serta menjadi menu tetap bagi santri-santri di seluruh pelosok nusantara. Sekedar menyebut Syeikh Ahmad bin Muhammad At-Tijani pendiri dan mursyid utama thariqah At- Tijaniyah, Syeikh Sonhaji pengarang kitab monumental Al- Jurumiah, Syeikh Sulaiman Jazuli pengarang kitab Dalailul Khairat dan banyak lagi ulama-ulama serta sarjana muslim par- exellent yang menjadi rujukan serta cermin bagi kajian keislaman kita di nusantara lebih khusus lagi soal maqoshidussyari’ah

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...