Sunday, April 22, 2012

Cerpen : Calon Pengantinku (1)

Oleh : Kusnadi El Ghezwa*

Semangat
Hari itu adalah hari yang begitu berat untuk di lupakan dalam sejarah hidupku. Menghadapi terpaan badai besar yang belum pernah terfikirkan olehku. Menerima sebuah kenyataan pahit  yang sulit untuk aku rasakan. Namun aku harus tetap tegar dan tabah dalam menghadapi cobaan tersebut, karena dengan ujian menandakan bahwa Tuhan ingin menaikan derajat hambaNya. Untuk mengetahui sejauh mana kadar kesabaran dan ketabahan hambaNya di dalam menghadapi cobaan serta ujianNya. 

Setidaknya itulah pepatah yang bisa aku simpan dalam memory otakku sebagai penyemangat jiwaku yang telah hancur. Aku yakin dibalik semua itu tersimpan hikmah dan pelajaran yang berharga buatku. Itulah kehidupan kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi pada hari esok dan selanjutnya.

Pagi yang cerah, secerah hatiku menyambut pagi, dedaunan dan rerumputan dengan indahnya bergoyang tanpa ada penghalang, suara kicauan burung yang bercengkerama menambah semaraknya pagi, kilauan cahaya mentari pagi yang bersinar semakin menambah pesona keindahan pagi. Sesekali terdengar suara embun jatuh dari dahan pohon. Udara pagi nan segar menambah kesejukan desaku, desa yang jauh dari kota, yang jauh dari kericuhan, yang jauh dari keramaian, jauh dari segala semaraknya kota dan yang lebih penting jauh dari para koruptor. Inilah desaku, penuh dengan alam yang masih sangat alami. 

’’ Hari yang indah tuk mulai merajut mimpi’’ gumammku semangat.

Yah..semangat! kata itulah yang pertama kali ku ucapkan setiap kali aku bangun dari tidurku. Satu kata yang cukup simpel, yang mampu memotivasiku dalam setiap hal, bagiku semangat mempunyai makna yang sangat berpengaruh dalam hidupku. Seperti rapalan mantra yang ketika diucapkan bisa membuat kita lebih sakti, lebih kuat lagi, tapi tergantung sama orang yang mengucapkannya atau merapalkannya. Harus benar-benar diucapkan dari dalam hati, kita kadang cuma mengucapkannya karena disuruh, atau diajak orang lain untuk “semangat” dan tidak berefek sama sekali. 

Sering aku mengalami itu, mengucapkan semangat, tapi tetap saja lemas. Kini aku baru tahu ternyata di dalam rapalan mantra kata semangat itu  tersimpan  rahasia yang begitu besar dan luar biasa dalam hidupku. Sekelam apapun masalahku, seberat apapun beban hidupku, aku tak akan mungkin bisa berlari darinya, agar aku bisa menghindar darinya, ataupun bersembunyi agar aku tak bertemu dengannya. Inilah kehidupan, semuanya akan indah pada waktunya bila kita bisa menemui masalah dengan dada yang lapang, menghadapinya dengan senyum seterang mentari pagi, mempersilahkannya masuk dalam bersihnya rumah hati dan mengkilapnya lantai nurani, serta mampu mengajaknya untuk menikati hangatnya teh kesabran di tambah sedikit pengaman keteguhan. 

 Penatap Langit
Setiap hari aku menghabiskan waktu di bawah mentari pagi, dan menjadi Penatap Langit sejati, berharap ada malaikat datang menghampiriku dan mengajak aku pergi dari beban berat ini. Dunia memang belum kiamat. Tapi duniaku sebatas 4 x 6 meter saja. 4 kesamping 6 kedepan dan 6 kebelakang. Aku kehilangan sorang lelaki yang aku cintai, semua peluang-peluang, dan kebebasan melangkah. Mataku hanya bisa melihat dari jauh tanpa merasakan udara tanah yang membaur di sela-sela keramaian. 

Aku takkan terlalu khawatir, karena aku masih punya rasa optimis yang begitu besar kepadaNya dan akan ku curahkan kepada calon pengantinku nanti. Aku ingin mempercepat hari ini. Aku ingin segera memeluk calon pengantinku. Walau aku sedih tapi aku sangat butuh dirinya di sampingku. Perasaanku mulai kacau, ada banyak bayang-bayang yang mengganggu pikiranku. Kata-kata mengapa…?, berputar-putar di dalam otakku yang mulai lemah, bimbang, getir, malu, tak percaya diri dan semua rasa yang abstrak menghinggapi seluruh kerongkongan hatiku. Berapa kali aku berdoa kepadaNya berharap bisa kembali membentuk hatiku ini sehingga menjadi satu kembali dan mendapatkan keyakinan itu. Tetapi kapan? Entahlah.

Bandara Mohammad V
Flash back
Suasana angin cukup dingin di akhir bulan November tapi tak mengurungkan niat kami untuk bersilaturrahim dengan keluarga di kampung sekaligus memperkenalkan calon suamiku yang baru saja menyelesaikan masternya bersamaku di Universitas Darul Hadits al-Hassaniyah Rabat, Maroko. Ia adalah keturunan dari keluarga terpandang di kotanya, keluarganya di kenal baik oleh public, disamping ayahnya seorang dosen dan pengajar di sekolah menengah ia juga seorang dermawan yang suka membagikan hartanya kepada fakir miskin dan du'afa

Rabu 13 januri, tepatnya pukul 12.30 GMT kami tiba di bandara Mohammed V, Casablanca. Tiga jam kemudian pesawat Qatar dengan nomer penerbangan K37466 datang menjemput kami  meninggalkan bandara Mohammed V  meluncur ke bandara Soekarno-Hata, Jakarta.  Perjalanan panjang yang melelahkan hingga memakan waktu 19 jam seolah bukan hal yang melelahkan bagiku. Yang ada di dalam benakku hanyalah rasa rindu dan kangen ingin bertemu dengan keluargaku, ingin menunjukkan kesuksesan dan keberhasilanku kepada ayah dan ibuku yang telah menanggung semua kebutuhan hidupku selama belajar di Maroko, negeri seribu benteng selama 6 tahun lamanya. Waktu yang cukup lama bagiku namun sangat cepat menurut teman-temanku karena dalam kurun waktu 6 tahun  aku berhasil menggondol gelar Lc dan Master di sebuah universitas ternama di Maroko. 

Kesuksesanku tidak berhenti disitu saja, disamping aku menggondol Lc dan master aku juga telah berhasil menggondol hati seorang pemuda arab yang baik dan taat pada agama dan orang tua. Ia adalah anak sulung dari pasangan H.Muhammad Abdul latif dengan Hj. Siti Maryam yang terkenal dengan kedermawanannya. Pemuda dari kalangan orang elit yang berambut ikal berbadan putih dan tinggi itu adalah Muhammad Idris. Ia sudah resmi melamarku untuk di jadikan calon pendamping hidupnya membina rumah tangga sebagaimana yang telah di ajarkan oleh Rasulnya. Aku tak bisa membayangkan seperti apa nantinya jika sudah bertemu dan berkumul dengan semua keluargaku dan teman-temanku. Yang jelas setiap hembusan nafasku mengeluarkan aroma kebahagiaan yang terus berbunga-bunga. 

Qada dan QadharNya
“Kak Nisaaa…” teriak gadis kecil sambil melambai-lambaikan tangannya kearahku, ia adalah Tiara, adikku yang masih belajar di sekolah menengah Jombang. Terlihat seorang lelaki tua berkopiah hitam dan seorang perempun berjilbab biru tua ikut melambaikan tangannya kearahku sambil memperlihatkan senyum manisnya, ia adalah ayah dan ibuku. 

“Assalamu'alaikum ibu..” ucapku sambil memeluk erat tubuhnya yang mulai mengecil dan mengkirut.

“waalaikumsalam nak…” jawab ibu dengan menitikkan air mata haru dan bahagia karena gadis yang selama ini hidup di negeri arab telah kembali.
“Gimana kabarnya yah??..” tanyaku pada ayahku yang dari tadi memandangi wajahku dan wajah Idris calon suamiku.
“Alhamdulllah ayah dan ibu juga adekmu baik-baik saja” 
Idris yang dari tadi bengong karena tidak tahu apa yang sedang kami bicarakan langsung di persilahkan ayah untuk masuk ke dalam mobil honda jazz berwarna silver yang baru saja di beli dua bulan yang lalu. Idrispun segera masuk kedalam mobil tersebut dan duduk di depan dekat ayahku yang siap mengendarai mobil tersebut.. Sementara aku, Tiara dan Ibu duduk berjejer di belakang. 

"Yah hati-hati ya" Ucap Ibu mengingatkan ayah untuk berjalan  hati-hati karena cuaca hujan yang mengguyur minggu siang itu. Ditengah perjalanan kami menuju Jombang kami berhenti di sebuah kios emas yang menjual beraneka model dan ukuran cicncin yang berbeda. Entah ada apa geragan tiba-tiba  setelah membeli cincin kawin  dan semua kebutuhan lain yang akan di gunakan untuk pernikahan kami berdua, saya merasakan firasat tidak enak yang akan menimpa kami, malampun semakin larut.  Namun, aku mencoba mengusirnya dengan canda tawa bersama keluarga yang semakin menghangatkan suasana perjalanan malam itu. Dunia seolah memuntahkan warna-warni pelangi dengan sejuta pesona keindahannya, betapa bahagianya keluargaku, terlebih aku dan mas Idris yang akan menyempurnakan separoh agamanya dengan mengikuti sunah Rasulnya menuju ke pelaminan.

Tiga hari adalah waktu yang sangat panjang bagiku dan mas Idris untuk segera menghadap penghulu dan duduk berdampingan penuh dengan kemesraan di kursi pelaminan. Tapi di balik semua itu Tuhan memiliki rencana lain yang tak disangka dan tak diduga, kita hanyalah mahluk yang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, kita hanya menjalani semua yang tertulis dari qada dan qadhar dari sang khaliq, tanpa bisa merubahnya, ataupun menahannya. 

"Allahhu akbar......" pekikku panik, dan kami pun terpental keluar dari mobil ketika mobil yang kami tumpangi menghantam lubang jalanan yang tak terlihat karena genangan air dan sebuah mobil Kijang biru dengan kecepatan yang sangat tinggi tidak bisa mengerem menabrak mobil kami dari belakang dan saya melihat mas Idris kepalanya terjepit pintu mobil, wajahnya berlumuran darah dan tidak bisa bergerak sama sekali, begitu juga dengan ayah, yang terdengar hanyalah suara rintihan kecil mengerang-erang minta tolong dan saat itu aku pun tak sadarkan diri lagi. itulah saat terakhir yang aku ingat dari kebersamaan kami bersama keluarga dan mas Idris calon suamiku yang telah melamarku dari orang tuaku dan kami merencanakan pernikahan dalam waktu dekat ini. 

“ Dimana saya?? Dimana mas idris??” tanyaku setelah aku siuman dari pingsan lamaku.
“Syukur nak kamu sudah siuman..” ucap ibuku dengan suara sendu yang terbaring di sampingku.

“Ya bu tapi di mana mas Idris??..” aku berusaha bangkit dari tempatku menemui mas idris  namun aku tak mampu karena kakiku semuanya dipenuhi dengan balutan kain putih.
“Dua jam yang lalu dokter memberi kabar kalau idris mengalami pendarahan di kepalanya dan tubuhnya tergenjet pintu ketika kejadian itu hingga akhirnya tidak bisa terselamatkan” ujar ibu sambil mencoba menenangkanku dengan mata yang berkaca-kaca menahan air matanya
“Tidak..tidaakk..tidakkk..” akupun menangis tak berdaya.
 Bersambung....

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...