Sunday, April 22, 2012

Cerpen : Calon Pengantinku (2)

Mas ku  tersayang                                         
Mas idris seorang bertubuh Atletis dengan rambut ikalnya, dengan senyum yang jenaka dan menyejukan telah berpulang ke Sisi Allah. Mas idris, calon pengantinku, kemudian dimandikan, dipakaikan baju cantik putih, ditaburi wewangian kapur barus, dan dipersiapkan tempat pelaminannya berupa Keranda Hijau dan mas idris bersanding sendirian disana. Begitu gagahnya mas idrisku menuju kepergiaanya ke sisi  Allah SWT. Dengan dipapah teman-temanku, mereka mendampingiku dalam pemakanan mas idris. Sepasang tangan menyentuh siku, membimbing ku berdiri. 

Tak percaya aku melihat, wajah putih bersihnya  di hadapan saya adalah mas idris "Innalillahi Wainnaillaihi Rojiun" mas idris ku telah rapih di  bungkus kain kafan dan diiringi dengan pengajian dan tetes air mata dari para saudara yang  berdatangan dan ucapan belasungkawa dari para kerabat dan tetangga.
"Aku Turut Berduka cita Nis" ucap Rini sahabat karibku, Rini memelukku tanda bela sungkawa.

"Terimakasih ya.." ucapku menahan rasa sedih yang teramat sangat.
Mas idris ku telah berpulang  disaat baju pengantin telah dipersiapkan, seserahan sudah dibungkuskan, dan cincin kawin telah  dibeli, semuanya terenggut oleh takdir yang tak pernah ku duga. 

Dan Jenazah tampan dari mas idris ku telah siap di bawa ke liang kubur, aku semakin tak kuasa menahan perih di dada yang semakin menghimpitku, walau dengan keadaan terluka di sekujur tubuh karena kecelakaan kemarin, aku bersikeras untuk mengantar jenazah mas idris ke pemakaman siang itu. 

Bada Dzuhur, Jenazah mas  idris diangkut oleh mobil jenazah ke pemakaman. Aku mencoba dalam ikhlas melepasmu pergi, wahai yang terkasih. Aku masih yakin, kaulah jalan untukku, menuju Dia Yang Maha Indah.

Ketika Jasad mas idris di masukan ke dalam liang aku pun menangis histeris, "Sabar Nis, kuatkan hati, jangan diberatkan langkah mas mu dalam menuju perjalanan pulangnya, kirimkan doa agar dia bahagia disana" ucap Rini ketika menahanku dalam keadaan lemas dan tak berdaya, dan hati ini masih tidak menerima kepergian mas ku tersayang.

Aku ingin ikut menari
Semua teman dan keluarga dekat mendukung keputusanku lewat kata-kata Sabar, sebenarnya aku sudah muak dengan kata itu. Tetapi, mau tak mau aku hanya diam, toh, hanya mereka yang aku miliki sekarang. Mereka tak kan mengerti dan takkan bisa mengerti kekacauan hatiku. Manusia bisa peduli ketika manusia itu merasakan hal yang sama seperti yang aku rasakan. Omong kosong jika mereka peduli karena rasa iba, buktinya mereka hanya memuaskan egonya saja. Mereka tak pernah dapat apa-apa kecuali Nol besar didalam hatinya. Dan aku masih bergelut dangan kata-kata Sabar

Itu masih belum apa-apa, satu orang bodoh menyebut diriku sedikit beruntung, padahal dia tak mengerti kata beruntung itu sendiri seperti apa. Bagaimana mungkin seseorang disebut beruntung jika hanya satu tingkat di atas orang lain. Tanyakan pada dunia, memangnya ada manusia yang ingin roda kehidupannya di bawah. Setiap manusia tidak ada yang ingin senasib dengan diriku atau lebih buruk dari aku. Kalau memang demikian dimana letaknya kata-kata beruntung itu!!! Itu adalah bukti nyata kalau manusia hanya ingin memuaskan egonya saja.

Dengan otaknya yang sedikit, pandai betul dia merajut kata-kata agar terdengar menggugah hati yang mendengarnya. Ya, tak ada bedanya dengan diriku yang juga sama bodohnya dengan mereka, tetapi setidaknya argumenku bisa diterima oleh orang yang sama seperti diriku, bukan orang seperti dirinya. Tidak ada yang benar di dunia ini semuanya relatif. Muak dan kadang ingin mengakhiri hidup dengan menggantung diri atau menenggak racun serangga. 

Rasa itu begitu kuat hingga menggrogoti separuh otakku, tetapi semua itu tak ku lakukan karena aku masih punya rasa bersalah kepada Tuhan. Tuhan sendiri aku tak tahu ada dimana. Delapan bulan lebih aku bergelut mencari malaikat namun tak nampak sedikit pun batang hidungnya atau pun bentuk petunjuk yang memadai. Aku mulai lelah, lelah sekali, rasanya dipermainkan oleh takdir. Takdir sendiri datang memelukku menyerupai virus ganas yang menggerogoti tulang belakangku, sampai-sampai dokter mengangkat kedua tangannya dan mengatakan, “Tidak ada obatnya..!!”.

Virus itu menyebabkan aku lumpuh dan hanya menyisahkan seperempat tenaga untuk menopang kakiku dengan bantuan calon pengantinku pastinya. Apa kuasa manusia atas hendakNya. Ketika Tuhan menyapa tak ada manusia yang bisa menolak kuasaNya. Sedikit demi sedikit aku mulai belajar menyatukan puing-puing hatiku. Dibantu dengan semangat ibuku yang memang telah pudar, aku terus merajut kembali mimpi-mimpiku. Memang tak mudah. Beberapa kali aku gagal sampai sekarang pun masih tetap gagal. Alasannya klasik, aku tak bisa mengontrol amarahku. Sempat utuh sepertiga dari hatiku namun hancur lagi ketika dua mata manusia melihatku seperti melihat badut atau topeng monyet yang sedang menari-nari di pinggir jalan. Aku benar-benar tak terima hal itu. Dengan nada yang meluap-luap seribu sumpah serapah meluncur dari mulut ku yang memang telah kotor. 

“Anjing kalian semua!!!, Memangnya kalian tak pernah melihat orang cacat apa!!!” Mataku melotot keluar, aku mempercepat langkahku, nafasku naik turun tak beraturan, emosi menguasai jiwaku dan kembali aku mengurung diri dibalik tembok kamarku. Tangis bercampur amarah, rasa kecewa yang mencabik-cabik, gelora kebencian merasuk jiwa. Tak ada yang tahu itu. Hanya aku dan rasa sakitku. Aku kecewa kepada semua yang ada di dunia, terutama kepada Tuhan. Lalu aku tuliskan kata-kata untuk diriku sendiri. “Ketika hujan menari lagi, aku ingin ikut menari bersamanya melepaskan kegundahan hatiku dengan menari bersama tetes air dari langit.” 

Hujanpun turun dan terus menari, seolah-olah mengejekku dari dalam kamar. Sepi, sendiri, tak bisa berbuat banyak, menambah luka dihati ini.
“Apa salahku sehingga aku tak bisa ikut menari bersamanya?!!”
 Bersambung....

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...