Sunday, April 22, 2012

Cerpen : Calon Pengantinku (3)

Calon pengantinku
Aku lelah, capek, sedih, dan rindu. Rindu bagaimana rasanya saat tetes air hujan memelukku sampai aku basah kuyup. Aku ingat kemarin aku tak pernah takut membelah hujan! Tak pernah menolak ketika ia mengajakku menari. Tetapi sekarang, hujan tak peduli lagi kepadaku. Dia hanya bisa mengejekku dari dalam kamar tanpa peduli perasaanku yang begitu kesal menyaksikannya menari. Hujan masih saja terus menari, suara gemuruh genting dan tanah menjadi musik tersendiri baginya. Hujan membuat hatiku bimbang. Bimbang dan rindu setiap kali hujan datang. 

“Mungkinkah aku bisa kembali menikmati tariannya…??” Mataku berkaca-kaca, kali ini semuanya gelap. Lemas seperti pasrah terhadap maut, ku lemparkan pandanganku ke sudut pojok kamarku. Ada sesuatu yang mengintaiku disana. Lama ku pandangi dia layaknya aku belum pernah jumpa dia. Calon pengantinku yang kini telah resmi menjadi pengantinku. Dia berdiri di pojok sana dan tersenyum kepadaku dengan sejuta spektrum layar pelangi. Kini tak ada lagi kata tanya, selayaknya sepasang pengantin yang tak perlu ada kata dusta. Aku jujur kepadanya dia pun begitu terbuka kepadaku. Diapun tak pernah lelah mengantarku, menemaniku, menghiburku, menjagaku dan mempersilahkanku untuk selalu duduk dipangkuannya.

Kuhapus air mata yang tersisa, perlahan kupaksakan tersenyum dan akhirnya terbiasa. Lama mataku memandang pengantinku, seperdelapan dari hatiku kini terbentuk sendiri. Ku pejamkan mata dan menarik nafas panjang, ku lepaskan semua beban yang mengikat, ku lepaskan semua rasa yang menjerat. Udara di sekitarku seakan menyatu dengan tubuhku. Rasanya ringan sekali, damai sekali, seperti ingin tidur saja. Lama-lama sunyi senyap, merasa sendiri tinggal di dunia ini. 

Aku buka mata dan kembali memandang pengantinku. Tahukah Kau? Pengantinku ini adalah sebuah kursi roda yang berfungsi untuk membawaku kemana aku berjalan. Walaupun benda mati tapi bagiku dia adalah malaikat penyambung langkahku. Aku berdiri dan Menatap Langit lalu sedikit bergumam kepada Sang Alam Semesta. 

“Terima kasih Tuhan Atas apa yang kau berikan kepadaku. Walau berat untuk menerima, tetapi aku tau ada jalan yang indah yang kau janjikan untukku.”

Hanya itu yang ada di hatiku sekarang. Aku tersenyum,dan akhirnya tertawa sendiri. Ada perasaan yang menggelitik di dalam otakku. Seperti sudah lama sekali tak tertawa seperti ini.
“Bodohnya aku……,bodohnya aku…!!”.  Aku kembali tertawa.
Apa yang terbaik bagi kita belum tentu baik di mata Tuhan. Dan sebaliknya yang terbaik di mata Tuhan belum tentu menjadi pilihan kita. Pria jadi wanita, wanita jadi pria, takdir yang tak di kehendaki, dan banyak lagi contoh nyata yang bisa kita lihat dengan mata telanjang. Perlu ada keberanian untuk menembus batas nadir itu. Seperti halnya aku, tak pernah berpikir hidup dengan keadaan begini.”

20 Maret 2012-03-20
Rabu pukul 13.00 di tempat peraduan kota Tanger.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...