Friday, June 29, 2012

Amir Hamzah


Tengku Amir Hamzah yang bernama lengkap Tengku Amir Hamzah Pangeran Indera Putera (lahir di Tanjung Pura, Langkat, Sumatera Timur, 28 Februari 1911 – wafat di Kuala Begumit, 20 Maret 1946 pada umur 35 tahun) adalah seorang sastrawan Indonesia angkatan Pujangga Baru. Ia lahir dalam lingkungan keluarga bangsawan Melayu dan banyak berkecimpung dalam alam sastra dan kebudayaan Melayu dimana kemampuannya dalam bidang ini tumbuh dan berkembang.

Mula-mula Amir menempuh pendidikan di Langkatsche School di Tanjung Pura pada tahun 1916.
Lalu, di tahun 1924 ia masuk sekolah MULO (sekolah menengah pertama) di Medan. Setahun kemudian dia hijrah ke Jakarta hingga menyelesaikan sekolah menengah pertamanya pada tahun 1927. Amir, kemudian melanjutkan sekolah di AMS (sekolah menengah atas) Solo, Jawa Tengah, Jurusan Sastra Timur, hingga tamat. Lalu, ia kembali lagi ke Jakarta dan masuk Sekolah Hakim Tinggi hingga meraih Sarjana Muda Hukum.
Amir Hamzah langgeng, karena ia menuntun kita lewat sajak – sajaknya. Menuntun dalam arti yang sebenar – benarnya. Yakni memberikan semacam haluan kepada masa depan sajak Indonesia agar tetap terjaga sebagai munajat sunyi pribadi yang bersinar karena kejujuran dan keindahan bahasa. Bukan oleh obsesi yang heroik, apatah pula oleh sekedar permainan kata.

Dengan pengertian tersebut di atas, maka sajak bagi Amir Hamzah merupakan kegiatan budi. Kata – kata tak dituliskan kalau tak pernah dialami. Musti ada keterlibatan di dalamnya, baik sebagai keterlibatan langsung maupun sebagai keterlibatan yang bersifat transenden. Bahasa dalam proses seperti ini adalah berkah dari kejujuran dalam melibatkan diri dengan pengalaman – pengalaman kesunyian itu.

Inilah sumbangan Tengku Amir Hamzah Pangeran Langkat Indera Putera yang terpenting bagi sastra Indonesia. Sebuah pengertian sajak yang barangkali berbenturan dengan atmosfir sastra Indonesia hari ini. Suatu era di mana sajak – sajak lebih banyak tampil sebagai kegiatan dewan juri yang bersandar pada industri bahasa. Cenderung instan, berwatak pamer dan pamor. Kadang – kadang tak segan – segan menghalalkan cara dan bahkan dusta.

T. AMIR HAMZAH - DAUN SIRIH TERLEPAS TANGKAI
Angin pulang menyeduk bumi
Menepuk teluk mengempas emas
Lari ke gunung memuncak sunyi
Berayun-ayun di atas alas
...
Dalam rupa maha sempurna
Rindu sendu mengharu kalbu
Ingin datang merasa sentosa
Menyecap hidup bertentu tuju
Riwayat hidup penyair yang juga pengikut tarekat Naqsabandiyah ini ternyata berakhir tragis. Pada 29 Oktober 1945, Amir diangkat menjadi Wakil Pemerintah Republik Indonesia untuk Langkat yang berkedudukan di Binjai. Ketika itu Amir adalah juga Pangeran Langkat Hulu di Binjai.
Ketika Sekutu datang dan berusaha merebut hati para sultan, kesadaran rakyat terhadap revolusi menggelombang. Mereka mendesak Sultan Langkat segera mengakui Republik Indonesia. Lalu, Revolusi Sosial pun pecah pada 3 Maret 1946. Sasarannya adalah keluarga bangsawan yang dianggap kurang memihak kepda rakyat, termasuk Amir Hamzah. Pada dini hari 20 Maret 1946 mereka dihukum pancung.
Amir Hamzah tidak hanya menjadi penyair besar pada jaman Pujangga Baru, tetapi juga menjadi penyair yang diakui kemampuannya dalam bahasa Melayu-Indonesia hingga sekarang. Di tangannya Bahasa Melayu mendapat suara dan lagu yang unik yang terus dihargai hingga zaman sekarang. Beliau wafat di Kuala Begumit dan dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat.
Namun, kemudian hari terbukti bahwa Amir Hamzah hanyalah korban yang tidak bersalah dari sebuah revuolusi sosial. Pada tahun 1975 Pemerintah RI menganugerahinya gelar Pahlawan Nasional. Ia dimakamkan di pemakaman mesjid Azizi, Tanjung Pura, Langkat. Di makamnya terukir dua buah syairnya.
Pada sisi kanan batu nisan, terpahat bait sajak;
Bunda, waktu tuan melahirkan beta
Pada subuh embang cempaka
Adalah ibu menaruh sangka
Bahwa begini peminta anakda
Tuan aduhai mega berarak
Yang meliputi dewangga raya
Berhentilah tuan di atas teratak
Anak Langkat musafir lata
Pada sisi kiri batu nisannya, terpahat ukiran bait sajak:
Datanglah engkau wahai maut
Lepaskan aku dari nestapa
Engkau lagi tempatku berpaut
Di waktu ini gelap gulita
Sampaikan rinduku pada adinda
Bisikkan rayuanku pada juita
Liputi lututnya muda kencana
Serupa beta memeluk dia
Apa kesalahannya sehingga ia diperlakukan seperti itu? 'Kesalahannya' hanya karena ia lahir dari keluarga istana. Pada saat itu sedang terjadi revolusi sosial yang bertujuan untuk memberantas segala hal yang berbau feodal dan feodalisme. Banyak para tengku dan bangsawan istana yang dibunuh saat itu, termasuk Amir Hamzah.
*** TokohIndonesia.Com (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)
Referensi:
- Abrar Yusra (ed), 1996. Amir Hamzah--1911-1946: Sebagai Manusia dan Penyair. Jakarta: Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.
http://www.tamanismailmarzuki.com/tokoh/hamzah.html
http://personage.melayuonline.com/?a=UlZWL29QTS9VenVwRnRCb20%3D=
http://id.shvoong.com/social-sciences/1686930-amir-hamzah/
- Amir Hamzah Penyair Besar Antara Dua Zaman oleh: Sutan Takdir Alisjahbana
- Wikipedia

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...