Monday, August 27, 2012

Maafkan Aku Lisa


Pagi itu, sayup-sayup suara adzan terdengar merdu, memekik telingaku. Kulihat jarum jam yang menempel di tanganku menunjukan angka 06.25, aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar, berharap aku bisa terbang dan menikmati seluruh ciptaan Tuhan dari atas sana. Tak sengaja tangan kananku menabrak mouse laptopku dan menghidupkan mesinnya, ternyata aku lupa belum mematikan laptopku sebelum tidur atau mungkin karena aku tertidur saat chating dengan keluargaku. Sebelum kuberanjak dari  kamar tidurku, kucoba melihat percakapan terahir dengan keluargaku. Selesai kubaca tiba-tiba ada pesan masuk menyelusup ke dalam emailku. Sambil seekali kugerakan mataku yang belum terbuka jelas, pelan-pelan kubaca isi emailnya.

27 Agustus 2012

Assalamualaikum…       

Semoga Tuhan selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada setiap manusia. Apa kabar  Adi? Semoga kau tetap baik-baik saja. Alhamdulillah, keadaanku jauh lebih baik saat ini dibandingkan pada saat kita terakhir bertemu akhir tahun lalu.          

Sekarang, aku sudah bekerja menjadi guru di sebuah Pondok Pesantren di Jawa Timur. Ternyata menjadi guru itu sangat menyenangkan sekali. Padahal sejak dulu aku tak pernah punya cita-cita untuk mengamalkan ilmuku pada makhluk-makhluk kecil Allah yang ternyata sangat membutuhkan uluran tanganku.          

Pesantren yang asri dan damai. Jauh dari kebisingan dan kemacetan kota yang sering aku alami beberapa waktu lalu. Sepertinya, aku ingin menghabiskan seluruh hidupku di tempat ini. Mengamalkan semua ilmu yang kumiliki sehingga aku bisa mengabdikan seluruh hidupku pada Allah yang Esa. Hanya pada Allah, Tuhanku.          

Adi, sejujurnya aku ingin mengatakan sesuatu padamu melalui email ini. Masih ingatkah kamu, di saat kita bersama? Tertawa, menangis dan memperjuangkan cinta kita? Sebenarnya aku masih sangat ingin merasakan itu semua bersamamu, hanya bersamamu. Namun, jika aku memaksakan untuk terus bersamamu, aku egois!          

Maafkan aku Adi, cinta memang datang begitu saja, tapi pergi seringnya menyisakan luka. Aku mengenalmu karena kebaikanmu, aku mulai mencintaimu karena ketulusanmu, sedangkan aku pergi meninggalkanmu karena aku mencintaimu. Bila sekarang ada seseorang yang menanyakan siapa yang paling aku cintai, aku jawab Tuhanku, jika seseorang itu masih bertanya maka akan aku jawab orangtuaku, namun bila pertanyaan itu tak berhenti di sini, maka dengan yakin akan aku jawab “kamu”!          

Kamu tahu, jika perbedaan kita sangatlah mendasar. Sebuah perbedaan lazim antara manusia namun tak pernah jadi lazim jika salah satu di antara kita ingin menyamakan. Adi, setelah kita berpisah akhir tahun lalu, sering mataku merah bahkan bengkak karena aku tak bisa lupakan semua kebaikanmu.
Sering bibirku tersenyum pada semua lelaki namun hatiku menangis mengingatmu. Kadang aku berpikir, masihkah kau merasakan apa yang aku rasakan? Masihkah kau menyimpan senyumku di dasar hatimu? Atau masihkah kau ingat saat indah bersamaku? Aku tak pernah tahu, karena sekali pun kau tak pernah memberitahuku.          

Bagaimana cerita cintamu sekarang, Adi? Apakah kau masih mencintaiku seperti dulu? Atau apakah kau menemui wanita yang lebih baik dariku? Jika aku sudah tergantikan di hatimu, aku turut berbahagia meskipun hatiku teriris perih. Jika belum, aku sedih mendengarnya meskipun hatiku bersorak gembira. Jahatkah aku? Entahlah Adi, maafkan aku mengenai ini.         

Adi, terima kasih untuk semua pengorbananmu selama ini. Dulu, kau selalu setia menungguku saat kita  masih duduk di SMA, padahal aku tak pernah memintamu untuk menungguku. Terima kasih untuk sms kamu tengah malam yang membangunkanku untuk sholat malam hingga aku bisa melakukannya dengan istikomah tanpa sms darimu lagi padahal sebelumnya ku tak pernah bangun malam dan terima kasih untuk ketupat dan opor ayam yang kau bawakan saat Idul Fitri, padahal aku tak pernah membawakan makanan apapun walau sesuap nasi. Kau tahu, semua itu takkan pernah terlupa begitu saja.          

Aku sangat mencintaimu Adi, namun kau juga harus tahu jika aku juga lebih mencintai kedua orang tuamu. Karena mereka aku masih bisa bernafas sampai saat ini, aku masih bisa merasakan kenikmatan yang mereka berikan padaku. Bukankah kau juga jauh lebih mencintai cita-citamu dari pada aku ? aku mengerti Adi.
 
Adi, bukannya aku tak ingin bersatu denganmu.
Bukannya aku tak ingin memilikimu segenap perasaan. Bukannya aku tak mencintaimu. Namun, bagaimana bisa aku mencintaimu sementara kau tak pernah memberiku kepastian setelah kepergianmu ? Ingatkah kamu, sebuah kalimat yang sering kita ucapkan saat kita masih bersama bahwa, cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai pergi membawa kebahagiannya. Meski, sekarang aku dan mungkin kamu, merasakan sakit yang luar biasa dengan perpisahan ini, yakinlah jika kita berada di jalan Tuhan. Jalan yang membawa kita ke kebahagiaan abadi.          

Maafkan aku Adi, karena ketidak pastianmu orang tuaku telah menikahkanku dengan seorang pria pilihan ayahku yang akan menemani kehidupanku sampai ahir hayatku. Aku harap kamu bisa memaafkanku dan membingkai cerita cinta kita dalam bingkai terindah hatimu, lalu biarkan bingkai itu terpaku rapi di sudut hatimu tanpa perlu lagi kau mengusiknya. Aku juga akan melakukan hal yang sama denganmu.          

Adi, aku hanya bisa berdoa semoga Tuhan selalu memberimu petunjuk untuk tetap melangkah di jalan yang benar. Amien…          

Wassalamualaikum…                                        

Lisa         

Mataku berubah jadi kabut. Membawa sepercik putik air.
Hanya menunggu sepersekian detik untuk tumpah ruah. Aku merasa sunyi dan sepi. Teringat akan semua tentang Lisa, gadis kecil yang mampu merebut dan mencuri seluruh hatiku. Aku ingin mengkristalkan lagi percik air yang menggumpal di mataku. Namun, tak pernah sanggup aku melakukan itu, tak pelak buliran-buliran kecil itu halus menetes menderas menjadi hujan di antara kesunyianku saat ini.          

Aku baru menyadari kalu selama ini aku telah menggantungkan cintanya, membuatnya tak berdaya. Aku berdoa agar aku mampu membingkai indahnya cerita cintaku tanpa harus mengusiknya lagi. Aku mohon agar Lisa memperoleh kebahagiaan yang ingin diraihnya dan aku juga mohon agar cintaku pada Tuhan tak berkurang sedikit pun walau apa pun yang terjadi. Segera kubuka FBnya dan kupandangi fotonya, aku meminta maaf sambil menitikkan air mata di depan foto FBnya yang rambutnya selalu tertutup oleh jilbab panjangnya itu. Sekali lagi maafkan aku Lisa, karena kebodohanku citaku berahir sampai disini. Tuhan sampaikanlah kata maafku untuknya dan terimakasih Tuhan karena engkau telah memperkenalkan sosok Lisa kepadaku.

Sekertariat PPI Maroko.
27 Agustus 2012.


No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...