Monday, September 10, 2012

Sopir Taxi di Maroko


Maroko, mendengar namanya saja aku tak pernah, mungkin saja aku pernah mendengarnya sekali atau dua kali baik lewat media informasi atau obrolan ringan kawan-kawan hanya saja aku tak begitu menggubrisnya lantaran nama tersebut saat itu tak begitu berarti buatku. Sampai ketika aku mendapatkan beasiswa yang di tawarkan oleh PBNU pun aku masih belum mempunyai gambaran tentang kondisi Negara ini, seperti Mesir kah?, Yaman kah?, atau seperti negara-negara lain yang di dalamnya terdapat mahasiswa dari tanah air. Karena saat itu takdir menempatkanku untuk belajar ke negeri ini untuk meneruskan belajarku, akupun tak begitu khawatir nantinya akan di tempatkan di kota mana, dalam benakku yang terpenting aku bisa kuliah gratis. 

Yang tergambar dalam anganku saat itu Maroko adalah negara yang berada di afrika utara yang mayoriatas penduduknya berkulit hitam seperti yang kulihat di tv atau pengakuan dari orang-orang yang pernah menetap di afrika. Meskipun ada salah satu alumni yang pernah belajar di Maroko mengatakan bahwa Maroko adalah negeri eksotik yang kaya dengan budaya dan peradaban serta penuh dengan keunikan, tetap saja aku masih belum percaya bahkan ceritanya masih aku ragukan.

“Jika kamu berada di negeri maghriby maka jangan kaget karena apa yang akan kau temukan di sana tidak di temukan di negara-negara lain seperti Mesir, Tunis, Yaman atau Indonesia” ucap  alumni tersebut sembari tersenyum.

“Yah, kita lihat saja nanti apakah memang demikian adanya atau hanya sekedar cerita saja” jawabku dengan nada santai seolah tidak begitu tertarik dengan ucapnnya.

Ketika aku sampai di Casablanca, kota metropolitan yang namanya sudah tidak asing lagi di telinga karena menjadi nama jalan di Jakarta yang kebetulan sebelum keberangkatanku ke Maroko aku pernah sekali melewatinya setelah mengurusi beberapa persyaratan yang belum terpenuhi, diantaranya adalah menerjemah ijazahku ke dalam bahasa arab yang bertempat di kantor MENHUBHAM.

Baru saja aku berinteraksi dengan salah satu sopir taxi  yang berderet di depan Airport di Casablanca aku di buat kagum oleh perkataannya dan sedikit terjawab atas keraguanku selama ini. 

où allez-vous ? tanyanya dengan menggunakan bahasa perancis. Aku yang baru pertama kali di ajak berbicara menggunakan bahasa tersebut hanya diam dan mencoba menawarkan perbincangan singkat itu dengan bahasa inggris. 

Ternyata meski menggunakan bahasa inggris dia tidak merasa kesulitan dalam berinteraksi malah dia lebih lancar dariku. Ketika mengucapkan bahasa inggris seolah sudah menjadi bahasa kesehariannya padahal bahasa resmi Maroko adalah bahasa arab dan bahasa perancis adalah bahasa kedua.
Di tengah perjalanan sampai ke tempat tujuanku ia tak kehabisan kosa kata menggunakan bahsa inggris. ‘’ itu baru baru tukang sopirnya, bagaimana dengan dosen atau ustadz yang akan mengajarku, seperti apa yah kemahirannya di dalam bahasa ?’’ gumamku dalam hati disaat taxi mau nyampai di tempat tujuanku.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...