Tuesday, February 12, 2013

Kejadian Tadi Pagi




“Tring..tring..tringg.”                                         
             Suara dering alarem yang  keluar dari Hp ku terdengar lagi, suara itu tak pernah bosan mengingatkanku untuk bersiap-siap lebih awal sebelum berangkat kuliah. Bunyi alaren itu  pertandan jam pelajaran 15 menit lagi akan dimulai. Kebiasaanku memasang alarem di pagi hari agar saya dan teman-teman satu kamar tidak terlambat kuliah. Jarak antara apartemen dimana kami tinggal bersama mahasiswa lainnya luamayan jauh dengan kampus, setiap hari kami menuju kampus dengan berjalan kaki. Setelah 13 menit berlalu barulah kami sampai didepan pintu gerbang. Jika dipagi hari  kemilau sang surya sudah mulai tampak bersinar cerah membelah cakrawala, daun- daun menari-nari gemulai tertitup angin dan embun pagi yang menempel didaunan ikut bergoyang berkilauan bak mutiara. Saat seperti inilah semua orang terlihat semangat dan energik berlalu lalang menyusuri jalan menuju tempat aktifitas mereka masing-masing. “ Inilah saat yang tepat untuk berfikir lebih dalam dan tajam, menggali semua ide, inspirasi dan kearifan.”  Ucap Khoirun Nasihin, tatkala saya berangkat ke kampus bersamanya dua bulan yang lalu.

Kata –kata itu sampai sekarang masih tersusun rapi di dalam memori ingatanku seraya membangkitkanku dari kemalsan yang melanda  diriku tatkala  musim dingin tiba. Saat musim dingin seperti  ini maka tak ada aktifitas yang paling enak dan nyaman kecuali tidur diatas kasur dengan berselimutkan kain tebal yang halus dan lembut. Semua aktifitas seolah membeku dan kurang bersemangat lantaran dingin terus menjalar ke seluruh tubuh dan hujan yang disertai dengan anginpun tak henti-hentinya mewarnai hari-hari kita, tanpa mengenal waktu ia datang sesuka hatinya, bisa saja ia turun dimalam hari, disiang hari dan terkadang di pagi hari seperti pagi ini. Yang jelas kedatangannya sulit untuk ditebak dan direka tatkala musim dingin menghampiri kita.

Begitujuga dengan kehidupan kita, kita tidak akan pernah tau apa yang akan terjadi besok maupun sekarang, kehidupan memang merupakan pintu misteri, yang mana akan kita lewati bersama untuk menuju misteri yang sebenarnya kelak pada waktu yang sudah ditentukan. Dalam kehidupan ini pastinya berbagai macam keadaan akan kita rasakan, yang terkadang kesemuanya itu akan buat kita bahagia atau sedih. Berbagai masalah juga tidak lepas dari misteri kehidupan ini, mulai dari masalah kecil sampai masalah terbesar pasti ada, dan di dalam kehidupan ini juga kita pasti akan menemukan perbedaan antara satu dan lainnya.

Seperti yang kurasakan pagi ini, hari ini aku telah menemukan sesuatu yang belum pernah aku jumpai sebelumnya, meski sudah dua tahun lamanya hidup bersamanya didalam satu apartemen yang sama tapi baru kali ini mataku melihat jelas bagaimana ia menampakan sikap kekesalan dan  kemarahannya yang tidak pernah aku duga dan tak pernah aku bayangkan bahwa hal ini akan terjadi.


Pagi itu semua teman-temanku sudah berangkat menuju kampus, dirumah tinggal tiga orang yang masih berkemas mempersiapkan buku pelajaran hari ini. Tepat pukul 07. 50 saya keluar dari rumah bermaksud ingin mengejar teman-temanku yang sudah berangkat duluan suapaya bisa sampai di kampus bersama-sama. Tapi naas, begitu keluar dari pintu apartemen diluar sana hujan begitu deras bersama angin yang begitu kencang. Dalam keadaan seperti ini maka saya dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama memilki resiko yang lumayan besar. Pertama jika saya terus terus berlari menuju kampus maka sudah pasti pakaian dan tubuh saya menjadi basah kuyup karena jarak kampus yang lumayan jauh sementara saya tidak mempunyai payung. Bukannya tidak mau membeli tapi setiap kali saya membeli payung pasti tidak bertahan lama, maksimal satu bulan sudah rusak lantaran tak mampu menahan kencangnya angin tatkala saya gunakan keluar. Disisi lain, meski dipaksakan datang ketika sampai nanti belum tentu penjaga kampus langsung mengizinkanku masuk karena hari ini saya berangkat agak telat, bagi yang telat biasanya kalau gak disuruh berdiri didepan pintu gerbang maka harus berhadapan dengan mudir sambil menelan pahit-pahit semua ocehan-ocehannya. Hal itulah yang mengurungkan niatku untuk berangkat ke kampus, akhirnya akupun lebih memilih untuk tetap dirumah dan tidur diatas kasur yang empuk, toh masuk gak masuk juga sama-sama akan mendapatkan hukuman. ”sekali-kali gak masuk kan gak papa, paling kalau dihukum juga disuruh berdiri.” Gumamku  didalam hati sambil menaiki tangga apartemen menuju kamar.

Begitu masuk kekamar, Khoirun Nasihin terlihat begitu khusyu duduk bersila menghadap ke kompunter. Sementara Marajo terlihat pulas diatas ranjang kesayangannya, mungkin ia sedang bermimpi dengan bidadari-bidadari surga yang cantik. Pasalnya ia tidak merasa kedinginan sama sekali padahal selimut yang ia pakai tersingkap  ke samping tubuhnya.

Tanpa pikir panjang, begitu ku letakan buku-buku pelajaran diatas meja seketika itu aku langsung menarik selimutku yang sudah siap memelukku diatas ranjang kesayanganku. Tak lama kemudian kamar itu menjadi sunyi dan senyap karena semua penghuninya terlelap dalam mimmpi-mimpi indahnya dipagi hari kecuali Khoirun Nasihin. Ia semakin anteng didepan layar computer, 20 menit telah berlalu namun aku tak kuasa memejamkan langsung kedua matakau ini meski sudah berselimutkan kain tebal.  23 menit kemudian terdengarlah suara yang mengisyaratkan bahwa ada orang yang mencoba memasuki apartemen kita.  .” krengkeek”  suara pintu terbuka begitu jelas namun diantara kami tidak ada yang tau siapa oaring yang telah membukanya.

Setelah mendengar suara yang menandakan bahwa pintu itu telah ditutup kembali, Khoirun Nasihin langsung melongokkan kepalanya kearah pintu. Tak disangka, ternyata orang yang telah membuka pintu tersebut adalah salah satu utusan kampus yang sengaja datang untuk memberikan informasi kepada kami bahwa Mudzir menunggu kedatangan kami di kantor. Pasalnya ada tiga orang dari pelajar Indonesia yang tidak masuk tanpa izin dalam waktu bersamaan.

Spontan hati kami langsung dag dig dug duerr dan gak nyaman lantaran mendapatkan panggilan langsung dari mudir, namun aku menyadari itu adalah hal yang pantas buat kami meskipun harus mendapatkan hukuman lantaran kami bertiga tidak masuk kampus kami akaan menerimanya. Sekedar info saja bahwa di kampus memilki system pengajaran yang berbeda yang tidak dimilki oleh kampus-kampus lain di Maroko. Sistem yang berjalan dikampus ini tak ubahnya seperti system pengajaran yang dipraktekan dipesantren-pesantren Indonesia, ahlak dan budi pekertilah yang lebih didahulukan ketimbang orang yang pintar tapi tidak beradab. Satu hal yang kelihatan berbeda dengan pesantren di Indonesia  pada umumnya adalah system pengawasannya yang super ketat dan banyaknya mata-mata yang terus beroperasi dan mengintai semua gerak-gerik kita. Namun sayang saya sendiri merasa kesulitan untuk mendeteksi keberadaan mata-mata tersesut, justru saya seringkali dibuat heran olehnya. Setiap kali diantara kami ada yang melanggar, entah sekecil apapun bentuk pelanggarannya, kami langsung mendapatkan panggilan dan teguran dari sang mudir.

Ditengah-tengah berlangsungannya pelajaran akhirnya kami bertiga berangkat ke kampus dengan membawa semua jurus penangkal yang sudah disiapkan untuk menghadapi sang mudir. Begitu kami sampai didepan pintu seorang satpam dengan berjenggot tebal dan panjang menghalangi kami untuk masuk kelas. “ Tunggu disini, kalian tidak boleh masuk kelas seblum bertemu dengan mudir.” Ucapnya dengan nada tegas. “ Sekarang mudirnya ada dimana??” timpalku agar bisa segera bertemu dengan mudir.
“Gak usah banyak Tanya tunggu aja disini sebentar lagi juga keluar” ujarnya dengan nada lebih keras dan tegas. “Baiklah kalau begitu kami tunggu disini”. Jawabku pelan.

“Belum diputuskan apa hukumannya sudah mendapatkan hukuman duluan”  Ucap Koirun Nasihin dengan nada kesal dan mnggerutu.
“Kok bisa, maksud kamu gimana hin?” Marajo coba menimpali perkatannya.
“Lihat saja didepan sana, banyak sekali para pelajar dan ustadz yang melihat kita berdiri di depan pintu kantor, sementara jam  pelajaran dikelas sedang berlangsung. Saya yakin mereka semua tahu kalau kita sedang mendapatkan masalah. Jadi malu juga bro kalau mereka juga pada tahu.” Jelas Khoirun Nasihin.
“Oh..maksud kamu begitu toh..”
Tak lama kemudian pintu bercat putih yang berada disamping kami pelan-pelan terbuka dan dari balik pintu itu munculah sosok yang kami nantikan dari tadi, rambutnya yang memutih dan jenggotnya yang tebal dan panjang membuat kami semakin takut. Rasa takut kami bukan berarti kami takut dimarahi tapi kami justru takut jika akibat perbuatan kami hati beliau tersakiti. Sebetulnya kami tidak ingin membuatnya marah apalagi sampai tahu kalau kami suka membolos kuliah. Biarbagaimanapun beliau juga sangat perhatian dan sayang kepada kami, hal inilah yang terkadang membuat kami tidak enak jika kami tertangkap basah melakukan pelanggaran.

Dengan segenap jiwa dan raga kami mencoba untuk menerima dengan ihklas terhadap hukuman yang nantinya kan diberikan kepada kami.
“Apa  yang kalian kerjakan disini?” Tanya mudir datar..
“Katanya kami disuruh menghadap ke mudir” jawabku singkat.
“Kamu tahu apa kesalahan kalian??” ucapnya dengan nada pelan tapi tegas.
“Ya ustad, kami hari ini tidak berangkat sekolah”
“Baiklah kalau kalian menyadari, sekarang kalian pulang saja kerumah.” Ternyata beliau memanggil kami ke kantor karena ingin mngusir kami lantaran tidak masuk kampus.
Dengan penuh penyesalan yang dalam kamipun langsung angkat kaki meninggalkan  beliau menuju rumah. Mungkin ini adalah pertamakalinya kami tidak diperbolehkan mengikuti pelajaran selama dua tahun lebih belajar disini.

Sebelumnya kami sungguh tidak membayangkan hal ini kana berakhir seperti ini, meski beliau tak menampakan  kemarahannya  namun bagi kami dengan kejadian ini merasa sanga terpukul sekali, kami takut telah membuat sakit ustadz sekaligus bapak kami yang telah mengurusi dan membimbing kami selama belajar di Maroko. Setiap kali kami mendapatkan kesulitan maka beliaulah yang pertamakali menjadi malaikat penyelamatku. Kami hanya bisa menyesal dan berharap semoga kejadian ini tidak akan terulang lagi, cukuplah satu kali ini saja.

Lain halnya dengan teman kami yang dari Afrika, ketika ia juga tertangkap basah tidak masuk kuliah bukannya mengakui kesalahannya justru ia malah marah-marah kepada mudir dan orang yang diutus datang kerumahnya. Pasalnya orang yang ditugasi mendatangi rumahnya tidak mengucapkan salam dan mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Layaknya seperti rumahnya sendiri ia langsung membukanya dan memeriksa tiap-tipa kamar serta membuka semua kasur-kasur yang tertutupi oleh selimut. Karena tempat tidur disini semuanya tingkat jadi bagi yang mendapatkan tempat tidur dibawah bisa memasang selimut atau kain untuk menutupi kasurnya sekaligus menghalangi dinginnya udara musim dingin. Dari peristiwa ini saya semakain sadar bahwa setiap orang dan negara memilki tabiat masing-masing dan didalam melakukan segala sesuatunya itu pasti ada kode etiknya, alias tidak boleh sakrepe wudele dewe’.

Yang jelas sudah tentu dibalik semuanya ini otomatis ada hikmahnya, karena memang tidak sia - sia Allah menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini. Tapi mungkin yang akan jadi pertanyaannya, apakah kita sudah bisa mengambil hikmah disetiap gerak langkah kita dalam menjalani rutinitas kehidupan…?? dan meskipun sudah ada, itu adalah orang - orang terpilih, dan mereka itu adalah kalian, sahabat - sahabatku.

*Tanger, 12-Februari-2013 bersama gerimis hujan musim dingin.

Tulisan biasa ini hanyalah sekedar curhatanku, agar setiap kenangan manis dan pahit yang telah kutorehkan mampu menjadi renungan dan pencerah dalam menapaki jalan kehidupanku. 

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...