Sunday, July 14, 2013

Ibadah Amaliyah: Studi Komperatif Nusantara dan Barat Islam


Ibadah Amaliyah: Studi Komperatif  Nusantara dan Barat Islam
Muqaddimah

Saat ini Islam sudah tersebar di seluruh penjuru dunia tanpa terkecuali. Sedangkan Nusantara, atau dikenal dengan istilah kawasan Melayu atau Asia Tenggara, sudah mengenal Islam sejak abad ke 3 Hijriyah (10 Masehi).1 Ada yang berpendapat pada 1 Hijriyah (7 Masehi) sesuai dengan ketetapan Muktamar Sufi yang diadakan pada tahun 1960M di kota Pekalongan, Indonesia.2
Proses Islamisasi di kawasan Nusantara memiliki keistemawaan tersendiri dibanding dengan proses Islamisasi di wilayah Arab. Keistimewaan tersebut berupa cara-cara penyebaran yang damai tanpa melalui futuhât harbiyah (peperangan). Khususnya di pulau Jawa, seperti yang dilakukan oleh wali songo (Sembilan wali), mereka telah berhasil mengislamkan tanah Jawa dengan menggunakan tradisi setempat sebagai media dakwah, sehingga Islam sangat mudah diterima oleh penduduk tanah Jawa yang saat itu memeluk Hindu, Budha, Animisme dan Dynamisme.  
Terlepas dari perbedaaan cara masuknya Islam tersebut tidak menjauhkan praktek ibadah amaliyah atau tradisi NU bahkan umat Islam di Nusantara secara umum dengan tradisi yang ada di Negara Barat Islam yaitu Maroko.
Istilah Barat Islam adalah sebuah rangkaian daerah mulai dari Libya, Tunisia, Algeria, Maroko, Maurintania, Andalus (sebelum kejatuhannya). Ulama dahulu menyebutnya "al-Maghrib al-‘Aqsa". Maroko adalah satu-satunya Negara yang hingga saat menyandang gelar al Maghrib (Arab: المغرب yang berarti "Barat"). Daerah inilah yang dahulunya dikuasai oleh Dinasti Idrisiyyah, Almoravids, Almohad, dan sekarang Diansti `Alawiyyin di Maroko.6 Raja Maroko Mohammed VI yang berkuasa saat ini merupakan keturunan dari Dinasti ‘Alawiyyin.

Di Maroko, asas pegangan Islam mereka hampir sama dengan umat Islam di Nusantara, yaitu berakidah Asy'ari. Akan tetapi secara fiqhnya mayoritas mengikuti mazhab Maliki bahkan dijadikan sebagai madzhab resmi oleh Kerajaan Maroko, berbeda dengan di Indonesia yang mayoritas mengikuti Syafi’I dan tiga imam madzhab lainnya yaitu Maliki, Hambali dan Khanafi. Dan dalam bertasawuf pula hanya kepada Imam al- Junaid al-Baghdadi.9 Secara tradisi pula, banyak amaliyah yang hampir sama, bahkan sama dengan tradisi umat Islam di Nusantara.
Ibadah Amaliyah
Meski secara geografis letak Indonesia dan Maroko sangatlah jauh namun, memilki banyak kesamaan tradisi. Seperti dalam hal ibadah amaliyah, bertasawuf, bertariqot dan adat masyarakat Maroko. Mengingat pembahasan tersebut membutuhkan banyak halaman, maka dalam kesempatan ini penulis akan memfokuskan pada pembahasan ibadah amaliyah. Seperti tahlilan, maulidan, membaca al quran berjamah, shalawatan dan Meletakkan Sayyidina pada nama Rasulullah SAW.
1.        Dalail al-Khairat
Kitab ini adalah karangan ulama Maroko, yaitu Syaikh  Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli‚ (w. 870 H/1465 M). Kitab tersebut merupakan rangkaian shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang disertai dengan doa, disusun mengikut hari. Kitab ini tentunya tidak asing dikalangan pesantren bahkan dibaca hampir di seluruh pesantren termasuk di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.
Sejak dikarangnya kitab tersebut oleh sebagian masyarakat Maroko dijadikan sebagai pegangan dan dibaca secara berjamaah setiap malam jumat di makam Syaikh Muhammad bin Sulaiman al-Jazuli yang letaknya berada didalam masjid kota Marrakech.
Pembacaan kitab ini memiliki hujjah yang kuat di dalam Islam. Selain ia merupakan shalawat yang jelas-jelas mendapat pahala bagi yang membacanya,  berpegang pada  ayat:
إن 12.

Disamping itu, ada beberapa ulama yang sudah mengarang berbagai kitab yang mensyarahi kitab ini serta meletakkan hujjah-hujjah tambahan untuk membela kesahihan beramal dengan kitab dalail al-Khairat ini; misalnya: Kitab Matali’ al Musarrat oleh Muhammad al-Mahdi‚ al-Fasi. (W. 1109 H/1698 M).
Dari sisi melazimkan untuk membacanya di kalangan umat Islam Nusantara dan Barat Islam, berlandaskan dari sebuah hadis Nabi Muhammad SAW:13
Terjemahan: Secinta-cintanya sebuah amalan di sisi Allah adalah yang senantiasa dilakukan walaupun sedikit). Imam Ibn Hajar al- `Asqalani‚ (W. 852 H/1449 M) telah mengomentari hadis tersebut dengan menyatakan bahawa ia termasuk amalan yang kurang bagus ( ) akan tetapi ketika diamalkan secara konsisten adalah lebih bagus dari mengamalkan sebuah amalan yang lebih afdal (أ ل) akan tetapi tidak konsisten.14
 2. Rangkaian Shalawat Gubahan Ulama Barat Islam

Ulama Barat Islam juga tidak berhenti mengarang berbagai macam shalawat-shalawat pendek untuk diamalkan. Tidak sedikit dari shalawat ini menjadi amalan umat Islam di Nusantara hingga detik ini. Misalnya Shalawat yang dikarang Syaikh `Abd al- Salam Ibn Masyisy (w. 622 H/1207 M). Shalawat ini telah menjadi wirid tetap di sejumlah pesantren di Indonesia, semisal Pondok Pesantren al-Zain, Ciampea, Bogor yang diasuh oleh Shaikh Muhammad Nuruddin Marbu al-Banjari; Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, Kedungsari, Purworejo yang diasuh oleh KH Thoifur Mawardi.
Kemudian shalawat yang sangat terkenal yaitu shalawat Nariyyah yang dikarang oleh Syaikh `Ibrahim bin Muˆammad bin `Ali al- Tazi‚ (W. 866 H), dari Tazah, Maroko. Shalawat ini sangat terkenal kerana mengandung tawassul15 dengan Nabi Muhammad SAW.16  Tidak hanya di Indonesia, bahkan di Maroko pun ketika ada hajat, maka shalawat ini senantiasa dibacakan.
Salah satu shalawat yang terkenal di Nusantara ketika membaca tahlil, yang juga sangat terkenal di Barat Islam, terutamanya ketika selesai sholat dan doa bersama. Lafadz shlawat tersebut adalah:
Shalawat ini dinisbahkan kepada Imam Syafi'I RA karena disebut oleh Imam Syafi'I di dalam muqaddimah kitabnya yang berjudul al- Risalah.18 Meskipun ada sedikit redaksi yang berbeda, tetapi tidak merubah essensi shalawat tersebut.
Jika kita kaji lebih dalam terdapat banyak shalawat lain yang terkenal diantara Indonesia dan Maroko, namun penulis cukupkan sampai disini.
3- Membaca al-Qur'an Berjamaah
Di Nusantara, sebuah rutinitas masyarakat NU adalah membaca al-Qur'an atau surah-surah penting seperti Yasin, al-Khafi, dan lain-lain secara berjamaah (bersama-sama). Budaya ini berlaku pada berbagai situasi, sama ada pada malam- malam penting seperti malam Jum’at, pada hari kejadian seperti wafatnya seseorang dan lain-lain.
Bagi masyarakat Nusantara, ia bukan menjadi masalah kerana Imam Nawawi dari mazhab Syafi'I sendiri telah menegaskan bahawa ia adalah sunnat,21 bahkan berasal dari hadis Nabi Muhammad SAW :

Terjemahan: Tidak akan kumpul sebuah kaum di dalam rumah dari rumah-rumah Allah sambil membaca kitab Allah dan bertadarus di antara mereka kecuali Allam menurunkan kepada mereka ketenangan).
Berbeda dengan Barat Islam, karena mereka bermazdhab Maliki. Sedangkan mazhab Maliki, hukum membaca al-Qur'an berjamaah adalah makruh seperti yang diriwayatkan Imam Abu Ishaq al-Shatiib‚ (W. 790 H) dari Imam Malik (W. 179 H).23 Maka sepatutnya, amalan membaca al-Qur'an berjamaah tidak berlaku di Barat Islam.
Akan tetapi, pada prakteknya berbeda. Umat Islam di Barat Islam memiliki adat yang sudah berkurun, yaitu membaca al-Qur'an berjamaah sama ada di masjid setelah solat Maghrib, atau di pesantren-pesantren traditional (03 ! ا در 0 ا) pada setelah Subuh, atau ketika acara pesta perkahwinan dan juga ziarah takziah kewafatan (besuk).24 Demi mengukuhkan amalan ini yang telah membantu santri- santri Maroko menghafal al-Qur'an dan mengulang hafalannya dengan baik, maka Majlis Ilmi Kerajaan Maroko (seperti badan fatwa rasmi negara) telah mengeluarkan sebuah kitab membela amalan ini dari fitnah-fitnah kelompok yang tidak suka dengan istilah bid`ah hasanah. Kitab itu berjudul .
yang disusun oleh Dr. `Abd al-Hadi i-Hamitu.
4- Tahlil dan Menghadiahkan Pahala kepada Mayyit

Isu menghadiahkan pahala bacaan al-Qur'an atau tahlil kepada mayyit adalah sebuah amalan yang telah dilakukan oleh umat Islam sejak dahulu hingga sekarang, bahkan di ujung Timur hingga ujung Barat. Hujjah untuk mendukung amalan ini sangat banyak.25
Di Indonesia adalah biasa dengan mengadakan acara tahlilan. Sedangkan di Barat Islam juga adat ini biasa. Ada yang membaca Yasin seperti lazimnya di Nusantara, ada yang memilih untuk membaca surah al-Insan. Ada yang berjamaah, ada juga yang tidak. Malah ulama Maroko yang terkenal sebagai penutup para fuqaha Maghribi yaitu Sidi Muˆammad al-Mahdi bin Muˆammad al-Hassan‚ al- Wazzani al-Fasi (W. 1342 H) berpendapat bahawa pembacaan tahlil sama ada berjamaah atau sendirian ia adalah merupakan syafa'at kepada mayyit tersebut, maka syafa'at jelas diterima secara syarak. Maka tahlil yang dibacakan kepada jenazah tersebut adalah menempati tempatnya sedekah dan doa kepada mayyit.26
Semoga 5 isu penting ini sudah dapat memberi gambaran global kepada pembaca agar keraguan yang melanda pada hati umat Islam di Nusantara dapat segera hilang.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...