Sunday, August 11, 2013

Menengok Tradisi Lebaran di Maroko



Ketika berbicara lebaran tentunya setiap tempat memilki tradisi masing-masing, mulai dari menjelang hari raya sampai menyambut malam takbiran hingga berakhirnya shalat hari raya Idul Fitri. Mereka sibuk mempersiapkan segala sesuatunya sesuai dengan tradisi mereka. Seperti halnya tradisi lebaran di Indonesia dengan Maroko, selama tiga kali berturut-turut lebaran di Maroko banyak sekali perbedaan yang aku jumpai. Namun ada juga sebagian tradisi yang mirip dengan Indonesia.

Tradisi Mudik
Dalam merayakan Lebaran, Maroko juga memilki tradisi mudik seperti yang biasa dilakukan oleh masyarakat Indonesia. Tradisi mudik bisa menjadi moment pengungkapan kemenangan dan kegembiraan setelah sebulan berpuasa. Inilah momentum untuk berkonsentrasi atau berkontemplasi kembali ke jati diri sendiri, merefleksi, dan introspeksi atas pengalaman masa lampau sehingga memunculkan kearifan-kearifan di dalam diri.

Mudik lebaran yang setiap tahun menjadi peristiwa (mobilisasi) rutin luar biasa ini terkadang merepotkan kita untuk mendapatkan tiket keluar kota, jadi jika kita ingin pergi keluar kota seminggu sebelumnya harus sudah memesan tiket terlebih dahulu. Biasanya tempat tujuan utama bagi warga Indonesia khususnya pelajar Indonesia di Maroko tatkala lebaran tiba yaitu di kota Rabat. Tepatnya di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Rabat.

Berburu Baju Baru
Lebaran erat sekali hubungannya dengan baju baru. Ini yang menarik. Mulai H-7 kita melihat toko-toko pakaian dipadati pengunjung. Mereka berdesak-desakan untuk memilih-milih busana yang akan mereka beli demi meramaikan tradisi “Baju Baru di Hari Lebaran”. Mereka berlomba-lomba untuk “memperbarui” tampilan mereka saat Lebaran. Meski sebenarnya masih banyak yang harus diperbaiki selain tampilan kita, yaitu kualitas hidup dan ibadah kita sebagai hamba Allah yang beriman. Tradisi semacam ini yang biasa kita jumpai di tanah air ternyata tak jauh berbeda dengan Maroko. Masyarakat Maroko khususnya kaum hawa rela berdesak-desakan ditengah teriknya matahari hingga menjelang maghrib, merekea terlihat begitu antusias untuk membeli baju baru demi untuk merayakan hari lebaran. Hampir disemua pasar-pasar dipusat kota selalu di penuhi para pemburu baju baru. Tanpa berfikir apakah dengan membeli baju baru itu akan membawa mereka pada perubahan yang positif atau tidak. Biasanya para pria membeli pakaian tradisional Maroko yang disebut Djellaba ( jubah panjang di sertai penutup kepala ) lengkap dengan sandal tradisional. Untuk kaum wanitanya biasanya membeli Takchita atau Kaftan dan juga sandal tradisonal khas Maroko yang sangat cantik untuk dipakai dihari raya.

Malam Takbiran
Tatkala matahari tenggelam di akhir bulan Ramdhan, gema suara takbir dari corong-corong Masjid langsung menyambutnya dengan merdu dan membahana. Suara takbir semakin menggema tatkala iringan sepeda motor dan mobil berarakan dijalan raya sambil mengumandangkan takbir dengan seremapk. Tak hanya itu, letusan kembang api juga ikut mewarnai kemeriahan dihari kemenangan ini. Maklumlah, hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri, hari kemenangan umat Islam, setelah satu bulan lamanya mereka menjalankan ibadah Ramadhan. Tapi suasana itu bisa dirasakan di Indonesia lain halnya di Maroko yang terkenal dengan sebutan negeri seribu benteng ini. Susana malam takbiran di Maroko laksana kota mati, tak ada suara takbir menggema dari berbagai sudut kota, baik di masjid atau musholla. Tak ada istilah takbir keliling dan kembang api.

Ketika keluar dari rumah jalananpun terlihat sepi, lalulalang kendaraan berjalan normal seperti biasanya. Seolah tidak ada moment besar terjadi pada hari ini, aku yang terbiasa dengan suasana riuh dan ramai tatkala malam takbiran tiba saat itu juga aku merasa penasaran kenapa orang Maroko tidak begitu tertarik untuk merayakan hari kemenangannya. Belakangan rasa penasaran itu terjawab tepatnya ketika aku mengalami lebaran berikutnya. Ternyata Maroko menyebut hari raya idul fitri sebagai hari raya ashor (kecil) dan hari raya idul adha sebagai hari raya kabir (besar) jadi wajar saja kalau masyarakat Maroko lebih suka untuk merayakan hari raya qurban dari pada hari raya idul fitri. Tidak hanya itu, Masyarak Maroko juga mengganggap sebuah aib jika tidak melaksanakan qurban. Jadi bisa dipastikan ketika hari raya qurban tiba semua masyarakat Maroko sudah mempersiapkan hewan kurban.

Untunglah setiap malam takbiran tiba KBRI Rabat selalu mengundang semua warga Indonesia di Maroko untuk mengumandangkan takbir bersama diruang serba guna sekaligus pemberian zakat bagi semua warga Indonesia yang hadir. Bagi saya pribadi mendapatkan zakat tersebut bukanlah tujuan utama atau sesuatu yang bisa membuatku benar-benar terasa lebaran. Tapi nilai positif yang dapat diambil adalah bisa menambah tali peraudaraan dengan bertemunya antar sesama warga Indonesia yang jauh dari tanah air dan keluarga. Setidaknya bisa mengobati rasa rindu kepada keluarga tercinta dikampung halaman. Dan bersyukurlah bagi teman-taman yang benar-benar membutuhkannya, minimal bisa digunakan untuk membeli keprluannya di hari lebaran sehingga bisa merasakan kebahagian bersama.

Ketupat
Layaknya baju baru, lebaran juga identik dengan ketupat atau sering disebut kupat. Orang jawa mengartikan istilah kupat dengan “ngaku lepat” atau mengakui kesalahan. Biasanya, ketupat disajikan bersama opor ayam dan sambal goreng. Ini pun ternyata ada makna filosofisnya. Opor ayam menggunakan santan sebagai salah satu bahannya. Santan, dalam bahasa Jawa disebut santen yang mempunyai berkait dengan “pangapunten” alias memohon maaf. Karena dekatnya kupat dengan santen ini, ada pantun yang sering dipakai pada kata-kata ucapan Idul Fitri: Mangan kupat nganggo santen/ menawi lepat, nyuwun pangapunten. (Makan ketupat pakai santan/ bila ada kesalahan mohon dimaafkan). Tapi lagi-lagi ini hanya bisa dirasakan ditanah air yang memilki banyak makanan khas yang kaya akan cita rasanya.

Sementara Maroko punya sajian istimewa tersendiri  buat lebaran yaitu pie ayam. Hidangan ayam yang satu ini rasanya gurih dan sedikit asam. Diberi topping almond yang renyah juga dibumbui dengan air jeruk lemon. Gurih-gurih renyah dan asam! Untuk menandai berakhirnya bulan puasa umumnya dilakukan berbagai persiapan. Seperti membuat halawiyat (manisan) atau  kue kering dan menyiapkan hidangan lezat dan mewah. Baik untuk dinikmati bersama keluarga atau diberikan sebagai hantaran. Tradisi ini dilakukan warga Maroko menjelang lebaran, biasanya para wanita sibuk di dapur untuk menyuapkan kue-kue. Namun ada juga yang memilih untuk membeli kue jadi di toko terdekat.

Selanjutnya makanan tersebut dihidangkan diatas atas meja ketika hari lebaran tiba. Sebelum menyantapnya warg Maroko terlebih dahulu menyantap ‘Dajaj Muhamar’ yaitu ayam panggang yang disajikan dalam piring besar dan dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya. Setelah itu, biasanya seluruh keluarga menikmati teh khas Maroko yang disebut ‘Atai’. Teh disajikan dalam teko berdesain cantik dan unik yang disebut ‘Barad’.

Didalam penuangan Atai ini memilki aturan tersendiri, biasanya setelah dituangkan kedalam gelas kemudian dimasukan lagi kedalam teko dan dituangkan lagi hingga tiga kali. Kata warga Maroko disitulah letak kenikmatan cita rasa Atai yang sesungguhnya. Jadi jika tidak melalui proses tersebut bagi mereka kurang sempurna. Untuk menemani minuman Atai, biasanya ada makanan pendamping yang diberi nama ‘Zamita’.

Bagi WNI yang merayakan lebaran di negeri seribu benteng ini jangan berharap bisa menemukan restoran yang menjual makanan khas nusantara, jangankan menu masakannya, untuk mendaptkan bumbunya saja tidak ada pasar atau tempat khusus yang menjual bumbu masakan khas Indonesia. Satu-satunya cara untuk mendapatkan menu lebaran tersebut dengan mendatangi wisma duta Indonesia KBRI Rabat untuk melaksanakan sholat idul fitri yang tiap tahun diadakan di halaman wisma tersebut.

Kegiatan ini merupakan acara rutinan yang diadakan oleh KBRI Rabat untuk mengumpulkan semua warga Indonesia di Maroko. Selesai sholat Ied, kami bersalam-salaman sekaligus halal bihalal di tempat kediaman Dubes RI di Maroko, sekitar setengah jam kemudian dilanjutkan dengan acara makan-makan di tempat kediaman dinasnya yang asri, luas dan rimbun ini. Disinilah segala jenis makanan nusantara bisa ditemui dan dinikmati, mulai dari opor ayam, ketupat, lontong, soto madura, dan lain-lain.

Lebaran di Wisma Duta Indonesia juga merupakan ajang bagi kami bertemu dengan seluruh warga Indonesia dari segala penjuru Maroko. Bertemu dengan orang-orang yang senasib dan seperjuangan, membuat rasa sedih dan nelangsa saya hilang saat itu meski usai acara tersebut rasa kangen rindu terhadap keluarga dirumah kembali menyelimuti.

Di Hari Lebaran Ini Saya Mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1434 H.
Minal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir dan Batin.

Penulis: Kusnadi El-Ghezwa: Mahasiswa universitas Imam Nafie, Tanger (Koordinator Media Informasi PPI Maroko dan Koordinator Lajnah Ta’luf wa nasyr PCINU Maroko).

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...