Wednesday, November 6, 2013

Anta Wahabi

Semalam kedatangan tamu, wajahnya tak asing lagi bagi kami karena tiada lain ia adalah teman sekelasku. "Bukannya kita janjian besok??" tanyaku heran."Ya, ane tahu tapi ini masalahnya ada perintah mendadak dari atasan menyuruhku untuk menemuimu sekarang" ujarnya.Setelah kami persilahkan masuk, ia langsung menyambung pembicaraan tadi yang sempat terputus. Sesuai janji kemaren ia akan main kerumahku untuk mewawancarai para mahasiswa asing yang tengah belajar di Ta'limul 'Atiq tapi besok pagi bukan malam. Saya kira malam itu temen saya akan langsung mewawancarai kami, ternyata ia cuma memberikan kabar kalau pagi ini kami akan diwawancarai, tempatnya di kota Tanger. 

Sebelum berpamitan ia juga memberikan selembar kertas dan menyruh kami untuk membacanya terlebih dahulu agar besok bisa menjawab pertanyaan2 yang akan dilontarkan oleh wartawan dengan mudah dan lancar. Setelah saya buka dan saya baca, lembaran kertas tersebut berisi pertanyaan-pertanyaan berkaitan dengan Ta'limul 'Atiq.

Inti dari wawancara tersebut, temen saya yang bekerja disalah satu media dan tv swasta itu ingin menegaskan kepada masyarakat Maroko dan ingin merubah mindseat mereka bahwa pendidikan di Ta'limul 'Atiq benar-benar murni untuk mempelajari ilmu agama, tidak ada kaitannya dengan politik apalagi sebagai sarang teroris. Hal inilah yang sebenarnya ingin mereka sampaikan kepada khalayak umum dengan cara menampilkan foto dan video yang diambil dari hasil wawancara kita nanti. Kebetulan saat itu saya ditawari menjadi perwakilan mahasiswa dari Indonesia, ada juga yang dari Sinegal, Nigeria, Cordoba dan Mali. Semuanya sepakat untuk menghadiri undangan wawancara tersebut.

Sesuatu diluar nalar saya tiba-tiba terjadi dipagi hari, tepatnya satu jam sebelum keberangkatan kami menuju kota Tanger (tempat wawancara). Hal tersebut dipicu karena adanya rasa kekhawatiran yang mendalam dari salah satu temenku, namnya Idris asal Sinegal."Jika Ta'limul 'Atiq ingin melakukan semua ini kenapa cuma kita yang dilibatkan?" "Kenapa para pelajar dari Maroko sendiri tidak di libatkan?" "Bukankan ini adalah tugas para asatidz yang memiliki peran besar ketimbang saya yang sebtas pelajar dan orang kecil?". Pertanyaan2 inilah yang menjadikan Idris tetep kekeh tidak mau ikut wawancara. "Jika kalian masih tetap ingin menghadiri wawancara ini silahkan, tapi maaf aku tidak bisa ikut.  

Aku khawatir hal ini memiliki resiko yang besar. Kalian tahu sendirikan Maroko memilki intel dan mata-mata canggih di berbagai tempat, jika kita sampai tertipu maka tamatlah riwayat kita" Ujarnya sambil melangkahkan kaki menuju kamar. Memang benar kata Idris, kita jangan mudah ikut2an hal yang tidak jelas apalagi menyangkut nama instansi atau lembaga, bisa berdampak fatal. 

Dua nenit, tiga menit, dan dimenit keempat satu persatu akhirnya kami membatalkan diri masing-masing. Bukan karena terpengaruh perkataannya Idris tapi, keputusan tersebut diambil setelah belakangan diketahui ternyata temen saya yang menawari wawancara dia sendiri tidak tahu seluk beluk pemilik media tersebut. Ketika ditanya apa manfaatnya bagi kita dia juga tidak bisa menjawab. Selama ini ia hanya menjalankan tugas dari bossnya tanpa memikirkan resiko yang akan terjadi dikemudian hari. Ruapanya kami ingin diperalat oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung jawab dengan modus wawancara dan menyebarkan berita-berita fitnah.

Alhamdulillah ahirnya siang ini gak jadi ikut wawancara meski sebenarnya ada greget pengen diwawancarai biar masuk tv :) tapi minimal bisa menjadi cerita pagi ini,,ckck.
Apa jadinya yah jika saya ikut wawancara??.. pastinya tuduhan teroris itu akan berpindah kesaya.. "Anta wahabi" :)


No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...