Wednesday, November 6, 2013

Idul Adha di Maroko: Menyembelih Koruptor

Seiring sang mentari menyibakkan sinarnya, di pagi yang sejuk berselimutkan hangatnya rasa kebersamaan menghiasi indahnya berbagi di Hari Raya Idul Adha 1434 H di negeri seribu benteng (Maroko).

Meski perayaan Idul Adha di Maroko berbeda sehari dengan Indonesia dan Arab Saudi, namun tak sedikitpun mengurangi semangat Warga Negara Indonesia (WNI) di Maroko untuk merayakannya. Selain Maroko, Pakistan juga merayakan Hari Raya Idul Adha pada tanggal 16 Oktober 2013.

Perayaan tersebut di adakan di Ruang Serba Guna KBRI Rabat, Maroko dan di ikuti oleh sekitar 100 WNI yang berdomisili di Maroko. Kebanyakan dari mereka didominasi oleh para mahasiswa Indonesia di Maroko yang tergabung dalam organisasi Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Maroko.

Acara tersebut diawali dengan sholat Idul Adha di Ruang Serba Guna KBRI Rabat. Bertindak sebagai khatib dalam salat Ied adalah H. Alvian Iqbal Zahasfan MA. yang baru saja menyelesaikan program masternya di Institut Dar el Hadith el Hassania – red Darul Hadits, kota Rabat. Dan yang bertindak sebagai Imam adalah Dr. H. Tb. Ade Asnawi yang baru saja mendapatkan penghargaan Summa Cum Laude (Musyarrif Jiddan) di Universitas Mohammed V, kota Rabat. Keduanya lulusan dari universitas terkemuka di Maroko.

Dalam ceramahnya, khatib mengambil tema” Menyembelih Koruptor”. Sang khotib menyampaikan bahwa, Idul Adha jika dikaitkan dengan konteks Indonesia kekinian maka seharusnya para pimpinan puncak NKRI menerapkan hukum kurban kepada para koruptor. Sudah saatnya NKRI menerapkan hukum qishoh terhadap para maling uang negara. Korupsi, suap dan sogok-menyogok yang telah menggurita di semua lini birokrasi dan jalanan.

Bukankan Allah telah berfirman, lanjut Alvian, dalam surat Al-Baqoroh ayat 179 yang artinya: Dan dalam penerapan qishoh ada jaminan kelangsungan hidup bagimu, hai orang-orang yang berakal, supaya kamu bertakwa.” Sayangnya ayat ini dijalankan bukan oleh negara Islam tapi oleh negara komunis, marxis, yaitu Cina. Padahal sejarah mencatat, penguasa muslim Andalusia, Abdurrahman III atau Abdurrahman An-Nashir telah menerapkan sistem menyembelih koruptor.

Usai salat Ied, acara dilanjutkan dengan ramah tamah dan pemotongan hewan kurban di halaman belakang gedung KBRI Rabat. Untuk tahun ini KBRI memotong enam ekor domba, yang disumbangkan masing-masing oleh Dubes RI, Kepala Kanselarai, staf KBRI, masyarakat Indonesia dan Raja Maroko Mohammed VI.

Setiap perayaan Idul Adha, Raja Mohammed VI selalu memberikan sumbangan satu ekor domba kepada institusi atau Perwakilan asing dari negara Islam di Rabat. Usai pemotongan, hewan kurban tersebut sebagian dimasak gulai dan sate untuk kemudian disantap bersama di KBRI dan sebagian lagi disumbangkan kepada WNI dan masyarakat lain di sekitar Rabat

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...