Wednesday, November 6, 2013

Menciptakan Harmonisasi

 Setelah tiga bulan dipeluk hangat oleh indahnya liburan musim panas, kini saatnya saya harus kembali ke sebuah kota dimana saya harus mempertaruhkan segala kemampuan dan kesabaranku demi mewujudkan sebuah cita-cita. Kota itu adalah Tanger, sebuah kota dimana sang petualang dunia Ibnu Batutah dilahirkan dan di makamkan. Tapi, untuk kali ini saya tidak akan menulis tentang perjalanan dan kehidupan tokoh legendaris itu. Namun, saat ini saya lebih tertarik untuk menuliskan fenomena yang aku rasakan saat ini. Catatan ringan ini laksana seduhan CafĂ© Noir (Kopi hitam) yang kekurangan gula sehingga terasa lebih pahit dan jauh dari apa yang diinginkan. Kira-kira begitulah gambaran besar yang ingin saya tuliskan saat ini, terkadang kita harus berhadapan dengan hal yang tidak kita inginkan dan harus menelannya pahit-pahit. Namun tanpa kita sadari ternyata dibalik rasa pahit itu terdapat obat yang mampu menyehatkan tubuh kita sehingga kita bisa terus beraktifitas tanpa ada halangan. Baiklah saya awali catatan hari ini dengan Antara Hitam dan Putih Kehidupan.

Antara Hitam dan Putih Kehidupan

Seperti halnya menikmati secangkir kopi tanpa dicampur gula, sudah dipastikan rasanya pahit dan menjadikan lidah mati rasa. Begitujuga ketika menikmati gula saja tanpa dicampur dengan kopi maka terasa kurang nikmat, keduanya akan menghasilkan rasa dan aroma yang nikmat jika dicampur dan diracik oleh tangan-tangan handal yang sudah teruji keahliannya dalam menyajikan kopi. Itu artinya bahawa, kopi yang berwarna hitam itu tak selamanya akan terasa pahit jika kita sudah tahu bagaima cara menyeduh kopi dan gula sehingga menghasilkan cita rasa yang luar biasa. Dari situ kita semakin sadar bahwa hal-hal yang terasa pahit, hitam dan tidak mengenakkan didalam kehidupan kita akan terasa enak dan nikmat jika kita sudah bisa mengkombinasikannya dan mengharmonisasikannya dengan yang lainnya secara baik.

Begitu juga dengan hal yang saya alami selama ini, tiga tahun lebih saya hidup sekamar dengan orang-orang kulit hitam dari Afrika. Pertamakali saya melihatnya, berkenalan dengannya dan duduk disampingnya semuanya memberikan kesan negatif. Hal itu bukan hanya dikarenakan warna kulit hitamnya, tapi karena wajahnya yang terkesan garang dan kurangnya menjaga sopan santun didalam berinteraksi dengan yang lainnya.

Ketika kita berbicara warna hitam juga maka disadari atau tidak, banyak kalangan yang mengonotasikan warna hitam selalu identik dengan sesuatu yang negatif, kurang baik, kelam dan buruk. Ungkapan negatif seperti Ilmu hitam, hari yang kelam, madesu (masa depan suram) sampai pada gelap mata. Sebaliknya, putih berada pada sisi lain dari setiap makna hitam. Putih bisa dianggap negasi dari hitam. Putih kerap dikonotasikan dengan bersih, suci, murni. Sesuatu yang bermakna positif. Namun tak bisa dipungkiri pula bahwa hitam ini memiliki kekuatan tersendiri, membawa kesan garang dan macho. Mungkin itu sebabnya komunitas motor besar selalu menggunakan segala sesuatu yang serba hitam.

Ternyata benar, orang hitam juga demikian yaitu memiliki kekuatan tersendiri. Ketika saya membutuhkan bantuan dengan sigapnya mereka membantu saya tanpa merasa lelah, letih dan loyo meski harus mengangkat koper berat atau barang-barang berat lainnya. Mereka juga mampu bercakap bahasa arab dengan baik sehingga saya bisa beristifadah dengan mereka. Begitu juga ketika saya mendaaptkan kesulitan didalam pelajaran, mereka senantiasa dengan telaten dan sabar menuntun saya untuk memahami makna yang tersimpan dibalik teks kitab-kitab berbahasa arab yang sulit difahami bagi saya yang dangkal pemahaman bahasa arabnya. Begitulah yang saya rasakan setelah berhasil mendekati mereka dengan baik, ternyata banyak sekali hal positif yang bisa saya ambil meski ada juga hal negatif yang harus aku telan pahit-pahit. Dari sini saya semakin yakin dan sadar bahwa hitam tak selamanya memilki konotasi jelek. Ternyata hitam dan putih memiliki makna yang sangat indah. hanya orang-orang tolol saja yang selalu membeda-bedakan antara orang berkulit hitam dan putih. Bukan Allah telah menegaskan dalam Al Quran yang artinya.

 “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13).

Jika anda pernah ke Bali tentu anda pernah melihat kain papan catur persegi yang kerap kali menghiasi rumah-rumah di bali dan tak sedikit pula yang mengenakan busana hitam-putih disetiap aktifitas adat di Bali. Mereka menyebut ini sebagai kain polengPoleng adalah kata dalam bahasa daerah Bali yang bisa diartikan lurik. Hitam dan Putih.

Motif poleng ini menurut mereka memiliki makna Rwa Bhineda tentang prinsip keseimbangan. Didalam hitam ada unsur putih dan didalam putih ada unsur hitam. Keduanya bersatu menjaga keseimbangan alam. Pun juga dalam diri manusia, itulah sebabnya setiap ajaran apapun di dunia yang mengusung kebaikan semuanya berbicara dan mengajarkan tentang harmonisasi dalam kehidupan agar mereka selalu damai didalam menghadapi perbedaan. Namun, berapa banyak dari kita yang paham tentang konsep ini?

Antara Hitam dan Putih Terdapat Keharmonisan

Dalam hidup, harmonis itu adalah keindahan. Dalam kesenian, harmonis itu adalah gerak, irama dan rasa yang menyatu disetiap karya cipta sebuah karya yang harmonis. Harmonis itu bukan semata bersatu dan serba sama. Perbedaanpun termasuk unsur yang penting dalam menciptakan harmonisasi.

Mungkin saya hanya satu diantara sekian ribu orang yang begitu mendambakan keharmonisan disetiap kehidupan. Karena bagi saya, perbedaan tak akan pernah bisa hilang dari setiap sisi kehidupan dan tampak sekali bahwa harmonisasi itu bukanlah hal yang mengharamkan perbedaan. Mungkin hal ini yang layak kita sadari bersama, menciptakan harmonisasi bukan berarti anda harus mengubah orang lain agar sejalan dengan apa yang anda yakini dan anda inginkan. seperti halnya ingin merubah warna kulit orang hitam menjadi putih, mengubah kebiasaan mereka seperti kebiasaan kita dan menghilangkan hal-hal yang tidak kita sukai darinya. Ingatlah bahwa disetiap hitam itu ada putih dan dalam putih pun ada hitam.

Masalahnya hanya satu, ketika perbedaan itu bukanlah barang haram, maka seharusnya kita mengedepankan toleransi. Saya percaya bahwa tidak ada yang tidak baik didunia ini. Semua ciptaan-Nya adalah kebaikan itu sendiri. Ketika menulis ini saya semakin yakin bahwa kedamaian itu bukanlah barang mahal yang tak bisa “dibeli”.

Pesan ringan saya dari seduahan kopi pahit ini hanya satu. Hitam dan Putih selalu ada dalam diri kita dan diluar kita, tugas kita hanya membuatnya menjadi harmonis. Karena, harmonisasi adalah perpaduan dari berbagai macam perbedaan, bukan hanya satu macam.
Waallahu 'Alam.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...