Sunday, December 8, 2013

Belajar Dengan Alam

Ketidakpastian tentang apa yang akan terjadi pada sebuah perjalanan hidup adalah hal yang sangat mengasyikan. Tuhan akan mengajari kita tentang kehidupan dari orang-orang yang kita temui di perjalanan dan dari kejadian yang kita alami dalam perjalanan tersebut. Selalu ada cerita dari sebuah perjalanan, selalu ada makna dalam perjalanan tersebut.

Mungkin perjalananku belumlah seberapa atau bisa dikatakan baru setetes keringatnya saja jika dibandingkan dengan cerita perjalanan orang-orang hebat pada jaman dahulu. Sepeerti  Colombus, Marcopolo, Ibnu Batutah, panglima Cengho, Hang Tuah, dan masih banyak cerita lain tentang kisah seorang pengembara. Cerita mereka abadi tidak habis oleh waktu. Saat mereka pulang, mereka membawa cerita akan sebuah makna, sebuah harapan, dan sebuah kekuatan. 

Akupun menyadari bahwa aku bukanlah orang hebat seperti mereka atau seorang backpacker yang telah keliling Indonesia atau keliling dunia. Aku hanya seorang yang senang untuk berjalan menapaki setiap jengkal tanah ini. Tanpa sebuah tujuan, hanya mencari cerita dan makna akan perjalanan tersebut. Sebuah perjalanan sederhana. Sekarang, lalu dan nanti. Hal itu aku lakukan karena termotivasi oleh pesan seorang guru. Ia berkata bahwa “Jika kamu ingin menemukan kejujuran, keadlilan dan arti kehidupan yang sesungguhnya maka belajarlah dengan alam”.

Saat itu aku mencoba berkontemplasi diri, salah satu cara agar bisa menemukan maksud dari perkataan tersebut adalah dengan melakukan perjalanan. Salah satu tempat yang sering aku kunjungi untuk menemukan kedamaian adalah gunung. Meski gunung yang telah ku daki tidak banyak setidaknya aku bisa belajar banyak dan menemukan banyak hikmah dibalik perjalannku itu. Gunung yang pertamakali kudaki adalah gunugn Wilis yang terletak dikawasan daerah Nganjuk Jawa Timur, Gunung ini memiliki ketinggian 2552 meter, serta puncaknya berada di perbatasan antara enam kabupaten yaitu Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, dan Trenggalek. Dari gunung ini aku menemukan pelajaran baru yang sangat berharga bagi kehiduapanku yaitu arti sebuah perjuangan. Selanjutnya di gunung Lawu yang terletak di Pulau Jawa dengan ketinggian 3.265 m. , tepatnya di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Status gunung ini adalah gunung api "istirahat" dan telah lama tidak aktif, terlihat dari rapatnya vegetasi serta puncaknya yang tererosi. Di lerengnya terdapat kepundan kecil yang masih mengeluarkan uap air (fumarol) dan belerang (solfatara). Di gunung aku menemukan pelajaran lain yaitu pentingnya sebuah kebersamaan. Begitu juga ketika perjalanan menuju gunung-gungung lainnya seperti Panderman, Arjuno, Bromo semuanya memilki makna dan cerita tersendiri untukku. Saat aku berjalan, aku menjadi diriku sendiri, yang polos dan sederhana. Tanpa sebuah atribut mewah apapun, tanpa sebuah ekspektasi yang menggantung, tanpa kemunafikan yang mengelilingi. Hanya ada Aku dan Kehidupan.

Belajar dari dinginnya malam yang sepi, belajar dari angin yang menghembus, belajar dari hijaunya daun dan pepohanan. Belajar dari hangatnya sang surya, belajar dari tiap tetes air yang ada. Alam banyak memberiku pelajaran tentang kehidupan ini, Alam itu jujur tanpa sebuah kebohongan dan kemunafikan. Dipuncak gunung aku bisa melihat kebesaran Tuhan akan keindahan ciptaan-Nya. Tidak ada satu manusiapun yang bisa menciptakan ini, hal ini meyakinkanku bahwa Allah itu ada. 

Tuhan memiliki caranya sendiri dalam memberikan pertolongan atau petunjuk kepada manusia. Saat kita yakin Allah akan memberikan pertolongannya. Pernah beberapa kali aku sempat kehilangan arah dalam pendakian, namun Allah selalu menolong. Kami selalu bisa keluar dari gunung dengan selamat. Meski melewati jalan yang tidak pernah kami tahu. Begitupun sering aku mendapat petunjuk dari orang yang aku temui disetiap perjalanan. 

Aku belajar arti kebahagiaan dari sebuah keluarga sederhana yang tinggal dekat jalan tol , mereka menjamu ku dengan makanan sederhana. Mereka mengantarkanku ke tempat tujuan. Karena aku tersesat. Aku belajar tentang sabar dan yakin akan Allah dari seorang penjual keripik. Aku belajar tentang perjuangan hidup dari seorang penjual mie gendong. Aku belajar arti tanggung jawab dari seorang supir angkot. Masih banyak kisah yang pernah aku alami. 

Hingga saat ini, aku merasa masih menjadi manusia bodoh yang haus akan ilmu dan makna akan kehidupan. Layaknya sang petualang dunia –Ibnu Batutah- maka aku harus terus melakukan perjalanan. perjalananku belumlah berakhir, akan ada petualangan lainnya, akan ada cerita lainnya yang akan kutemukan di negeri seribu benteng ini, selagi kehidupan ini ada untukku. Maka, perjalananku untuk belajar dengan alam ini akan terus berlanjut, aku akan terus belajar dengan alam  hingga waktu menghentikan semuanya.  

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...