Friday, November 28, 2014

Bertemu sang pemarah.


"Ahmak anta!!! Gak lihat apa, matamu ditaruh dimana?” itulah umpatan yang keluar dari seorang pemuda yang terinjak kakinya tanpa sengaja. Raut muka memerah, mata melotot, otot-otot mengencang segede tambang tapi sayang gak bisa lentur, justru malah mengeras seperti kawat.
Rasanya baru kali ini saya bertemu dengan orang arab segalak itu. Karena terinjak oleh sepatu pantofelku ketika hendak naik bus ia marah sejadi-jadinya. Hampir saja saya digaplok, untungnya saya sudah nunduk-nunduk dulan sambil minta maaf. Gak jadi deh hihihi...
Pada dasarnya amarah adalah manusiawi. Saya juga pernah marah. Mungkin kalau sikorban disuruh ngaku akan banyak komentar membajiri tulisan ini. Tapi, untungnya marah saya masih bisa terkendalikan jadi gak sampe ngotot dan maen fisik. Apalagi sampai ngomong sekenanya tanpa berfikir akibatnya, bahwa ucapannya bisa menimbulkan rasa sakit hati. Ingat lidah itu lebih tajam dari pisau loh... Hehe
Saya pikir semua tergantung bagaimana cara meresponnya. Kalau saya amati ekspresi teman-teman yang lagi marah lucu juga, ada yang menundukkan kepala ketika bertemu, ada yang cuma diam dan ada juga yang sampe gelap mata dan hati, sehingga kesadarannya terjajah oleh hawa nafsunya.
Reaksi itu biasanya muncul secara spontan ketika pertahanan dirinya tersudut. Jadi, seorang pemarah yang tidak bisa berdamai dengan lingkungan di luarnya hakekatnya muncul karena tidak bisa berdamai dengan dirinya sendiri.
Saya kira inilah akar amarah yang menyebabkan seseorang lepas kendali. Jika dilacak lebih jauh, kenapa tidak bisa berdamai dengan diri sendiri? Tentu hal ini tidak gampang dijawab. Ada banyak factor sosiologis bagaimana sikap pemarah itu terbentuk. Tetapi juga ada factor spiritualitas, dimana seorang pemarah tidak mampu menginternalisasi sifat-sifat Tuhan dalam dirinya seperti sifat Pengasih dan Penyayang.
Kesimpulannya, jika seorang pemarah ingin keluar dari kungkungan sifat amarahnya, berdamailah dengan diri sendiri dengan mengontrol segenap pikiran, emosi, dan tindakan dalam kerangka kecerdasan hati. Nah di sinilah nilai-nilai spiritulitas (agama) yang menyejukkan hati menemukan relevansinya.

Ala kuli hal, alhamdulillah. Karena bertemu sang pemarah bisa buat status 
Bersama jeruk mandarin di Qoas. 23/11/2014.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...