Tuesday, February 10, 2015

Day 2: Koreksi

Hari itu, matahari dimusim dingin dengan gagahnya mentereng  diangkasa. sayang tak segagah diriku..ckckck. Aku merunduk disamping tembok sambil membungkukkan kepala menunggu petugas KBRI tiba, disamping ruang istirahat tamu aku menghindar dari terjangan matahari musim dingin. Topi hitamku hanya mampu melindungi kepala, sementara leher dan punggungku tidak bisa menghindar dari sinarnya. Seharusnya gak perlu menghindar, sinarnya yang panas dapat menghangatkan tubuhku yang beku. Karena banyaknya kuman ditubuhku tak kuat menahan panasnya sang surya satu persatu menggigit tubuhku yang jarang tersiram air :D. Ahirnya terpaksa kupilih berteduh dari pada tubuhku diamuk seperti digigit semut..*krembit..krembit hehe.

Asap rokok terus mengepul dari mulutku menyeruakan aroma kehangatan, sebungkus rokok marquise adalah satu-satunya teman sejatiku. Kemana kaki melangkah ia selalu dalam apitan dua jariku. Lima menit kemudian aku masuk keruang tunggu KBRI, tak lama kemudian petugas mendatangiku dan membawa berkas permohonan yang aku ajukan yaitu surat pengantar pembuatan visa. Lima menit kemudian ia kembali datang membawa surat yang aku kasihkan.

"Maaf mas, tolong tanggalnya diperbaiki lagi yah" kata petugas sambil menunjuk tanggal, bulan dan tahun yang tertera dalam calling visa.

"Astaghfirullah" gumamku sambil menepuk jidat. Bukan hanya pada calling visa, surat permohonan yang aku buatpun keliru dalam penulisan tahun, seharusnya 2015 aku tulis 2014." Kacau, benar- benar kacau, kayaknya harapan untuk bisa pergi ke Belanda semakin menipis" Pikirku.

Sekuat tenaga berusaha menepis keraguan itu tapi tetap saja tidak bisa, melihat kenyataan yang ada dan beberapa persyaratan lainnya yang belum bisa dilengkapi semakin meyakinkanku bahwa semuanya tidak akan bisa berjalan lancar.

Mulai dari kabar acara yang mendadak, ditambah salah satu delegasi yang masa aktif paspornya akan berahir, banyaknya persyaratan yang belum dipenuhi dan lebih mencengangkan lagi ada kesalahan dalam penulisan bulan dan tahun pada calling visa.

Diluar pintu masuk kedua kakiku bingung menentukan arah, sejenak aku berdiri menarik nafas dalam-dalam. Tanpa pikir panjang aku nemutuskan kembali ke sekretariat PPI Maroko, setelah sampai di halte bus aku teringat ada janji dengan Mas Bowo di KBRI untuk mengambil titipan temanku. Kuurungan niatku kembali ke sekretariat PPI dan terpaksa kembali lagi ke KBRI. Sengaja aku tidak langsung masuk ke KBRI, aku lebih memilih berteduh dibawah pohon didepan ruang satpam. Tak banyak yang aku lakukan kecuali berdiri dan mondar-mandir sambil menuliskan kejadian ini untuk mengusir kegalauan.

Sambil menulis aku juga mengirimkan pesan via email ke kedutaan Den Haag, mengabarkan kejadian tadi. Aku meminta suapaya segera diperbaiki sehingga bisa mempercepat proses penguruasan visa. Jalanan sore itu tampak sepi, iringan awan gelap mengelantung dilangit. Suasana saat itu menambah kalut hatiku, sampai tak sadar orang yang aku tunggu sudah masuk kedalam kantor.

"Kusnadi, ngapain berdiri distu terus?" Tanya pak Kadir dengan logat bahasa indonesianya yang sedikit medok. Ia adalah warga Maroko yang sudah puluhan tahun lebih bekerja di KBRI Rabat.

"Menunggu Mas Bowo"
"Mas Bowo sudah ada didalam, silahkan masuk".
"Benar pak?"
"Iyaa, itu mobilnya disamping kamu".

Kegelisahan yang begitu membuncah membuat konsentrasiku hilang. Sampai-sampai suara mobil yang lewat didepanku tidak terdengar, bahkan ketika mobil itu terpakir disampingku pun aku tak melihatnya. Maklum ini adalah pertama kalinya aku mengurus visa ke Eropa, setiap kali mau mengurus harus banyak tanya dan pertimbangan dari kawan-kawan lain yang sudah pernah ke Eropa agar tidak terjadi kesalahan. Apalagi kabarnya pengurusan visa di konsulat Belanda sangat ketat jadi persyaratan harus benar-benar komplit sebelum diserahkan.

Usai Mas Bowo mengasihkan titipan buat temanku, ia memintaku bantuan untuk mencarikan hotel didekat kawasan Bab Ahad. Katanya tanggal 15 Januari akan ada 4 orang dari Indonesia yang akan berkunjung ke Maroko.

"Klentung.." Tiba-tiba ada satu pesan menyelusup ke emailku. Pesan itu datang dari Pak Nus Hasyim, salah satu staff kedutaan Den Haag. Judul pesan itu adalah "koreksi" dengan melampirkan file pdf satu lembar. Ternyata itu adalah koreksi calling visa yang aku minta.
"Alhamdulillah, tidak sampai dua jam sudah diperbaiki, kinerja yang luar biasa" ucapku lirih.

Segera aku print dan mengedit surat permohonan yang tadi keliru. Ku keluarkan stempel dari tas gendongku, ku buka kotak tinta biru dalam bungkusan kresek hitam yang kutaruh didalam tasku. Setelah menyetempel langsung aku kasih tanda tangan dan menyerahkan surat permohonan tersebut ke petugas bagian konsuler. Petugaspun terlihat kaget, pasalnya dalam waktu sesingkat itu pihak kedutaan Den Haag sudah memperbaikinya. Setengah jam menunggu ahirnya jadi juga surat pengantar dari KBRI Rabat. Sore itu, aku langsung bergegeas menuju halte bus menerobos hujan rintik-rintik, meski surat pengantar dari KBRI Rabat bia kuambil besok hari hatiku sedikit plong karena sudah mendapatkan surat keramat, besok tinggal meluncur ke konsulat Belanda didekat area makam Raja Mohammed V. Terimakasih ya Allah .:)

Bersambung: http://seribubenteng.blogspot.com/2015/02/day-2-suart-pengantar-kbri-rabat.html

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...