Tuesday, February 10, 2015

Day 3: Suart Pengantar


Sambil menunggu surat pengantar permohonan visa dari KBRI Rabat, esok harinya aku pergi ke AMCI. Seperti berada disamping bom waktu, tinggal menunggu hitungan detik akan meluluhlantakan jantungku. Dua hari lalu pihak KBRI Rabat memberiku kabar bahwa pihak kementrian pendidikan Maroko telah mengirimkan ruhsoh ke AMCI, itu artinya aku sudah diterima dikampus baru yang aku tuju dan sudah terdaftar resmi.  

Hari itu aku mendatangi petugas AMCI untuk memastikan apakah berkasku sudah dikirm atau belum. Sengaja aku berangkat pagi biar mendapatkan nomer antrian diawal. Kebetulan ada salah satu temanku ingin melihat informasi pengumuan nama-nama yang berhak mendapatkan fasilitas tinggal di hay, sebuah tempat tinggal diperuntukkan khusus bagi mahasiswa asing. Sebuah keberuntungan jika bisa tinggal didalamnya, cukup membayar uang administrasi dan 700 dirham bisa tinggal selama setahun. Ini tentunya jauh lebih murah dibandingkan mahasiswa lain yang menyewa apartemen sendiri, pengeluaran perbulannya akan lebih sedikit dan bisa mengantongi sisa uang beasiswa lebih banyak. Hampir semua mahasiswa mendambakan bisa tinggal di hay, sayangnya tidak semuanya bisa mendapatkan kesempatan baik ini. Dari tiap Negara asing hanya dibatasi tiga orang.   

Sesampainya di AMCI kami berdu berpisah, Arif menuju tempat pengumuman dan aku langsung menuju ketempat pengambilan nomer antrian. Jarak antara AMCI dengan tempat pengumuman kurang lebih 100 meter. Pagi itu aku mendapatkan nomer antri 008, ku lihat nomer antri yang menggantung diatas meja para petugas menunjukan angka 007 itu artinya aku tidak harus menunggu lama hingga tiba giliranku dipanggil.

"Ting tong" suara bel itu mengundang giliran berikutnya maju. Angka 007 tadi berubah menjadi 008. Kini giliranku menanyakan nasibku yang telah lama terkatung-katung oleh selembar kertas bernama ruhsoh.

Kukeluarkan Paspor dari kantongku, dengan sigap petugas melihat nama dan nomer paspor.

"Ruhsos tahwil?" Tanya petugas.
"Na'am" jawabku singkat.

Ia kemudian mengcopy pasporku dan bergegas menuju kedalam ruangan. Tiga menit kemudian ia keluar.

"Ruhsohnya belum keluar" kata petugas sambil mengembalikan pasporku.
"Tapi kemaren kata pihak kementrian pendidikan sudah mengirimkan ruhsohku ke sini"
"Ok kalau begitu saya cek lagi, oya ruhsoh master atau ijazah?"
"Ijazah"
"Dari madinah ke madinah lain"
"Iya"
"Intadzir qolilan"
"Oke"

Dari gelagat wajah petugas tadi mataku menangkap isyarat tidak enak, kelihatannya dia sudah benar-benar memeriksa berkasku tapi belum ada. Tiga kali keluar masuk keruang dalam lagi-lagi cuma bilang intadzir qolilan. Jantungku berdetak kencang, semakin kencang. Bagaimana tidak, berkas yang aku minta seharusnya langsung dikasihkan tapi belum ditemukan. Ada dua kemungkinan, bisa jadi berkas sudah dikirim tapi petugas enggan memberikan karena aku pindah kampus yang berbeda instanai. Belum ada mahasiswa Indonesia memiliki pengalaman sepertiku. Dulu pernah ada salah satu mahasiswa yang perbah mencoba tapi ditengah jalan menyerah, disamping urusannya dipersulit juga tidak diperbolehkan. Pihak AMCI hanya mau mengurusi berkas yang masuk jika masih dibawah Ta'limul 'Ali (Menteri Pendidikan) dan enggan mengurusi berkas lain yang masuk dari instasi berbeda yaitu Wizarah Auqof (Menteri Perwakafan). Kebetulan aku pindahan dari wizarah auqof. Kedua, bisa jadi berkasku belum dikirim, itu hanya sekedar alasan pihak kementrian pendidikan saja yang tidak enak dengan pihak KBRI yang tiap hari selalu menanyakan perkembangan berkasku.

Dua jam sudah aku menunggu, sekitar satu jam lebih Arif menemaniku setelah selesai melihat pengumuman.

"Oya bagaimana dengan urusan kamu, jadi keterima di hay kan?" Tanyaku sambil menunggu panggilan  dari petugas.
"Tahun ini saya tidak bisa ndaftar hay lagi"
"Loh kenapa?"
"Gak tahu padahal tahun kemaren saya juga tidak bisa masuk, sekarang tidak bisa lagi."
"Tadi kamu sudah lihat pengumumannya?"
"Sudah dan nama saya tidak ada dalam deretan nama-nama yang berhak mendapatkan hay tahun ini"
"kamu sudah coba meloby ?"
"Sudah tapi tetap saja tidak bisa, tadi kata salah satu petugas bilang saya tidak mungkin mendapatkan hay dan menyuruhku mencoba lagi tahun depan"
"Terus gimana rencana kamu, apakah mau menetap di sekretariat PPI atau mau mencari kos-kosan baru?"
"Kayaknya saya harus mencari kos-kosan baru, saya butuh tempat yang nyaman dan tenang untuk menyelesaikan skripsiku. Kemungkinan bulan februari saya baru ada waktu luang untuk mencari rumah baru."
"Baguslah kalau kamu memang haru mencari rumah baru biar skripsimu selesai dan bisa wisuda tahun ini. Semoga semuanya dipermudah."
"Amin ya rabbala alamin"

Kulihat jam di hp ku menunjukkan pukul 12.30, sebentar lagi waktu istirahat tiba. Para mahasiswa dari Negara lain datang berbondong-bondong memenuhi kursi antrian dibelakangku. Papan nomer antrian yang menggantung diatas meja petugas terus berubah, sekarang sudah beralih ke antrian nomer 015, aku masih mematung diatas kursi hitam bersama temanku. Petugas yang sedari tadi mencari berkasku belum juga keluar. Aku mencoba menghubungi  pihak KBRI untuk meyakinkan apakah ruhsohku benar-benar sudah dikirim apa belum.

"Maaf Kus, tenyata kata pihak kementrian pendidikan ruhsoh kamu belum sampai di AMCI karena orang yang ditugasi mengantar berkas teraebut lagi cuti sampai tanggal lima Januari. Gak usah khawatir nanti saya coba hibungi pihak kampus supaya kamu bisa ikut pelajaran dulu." Kata Pak Dedy lewat Hp.

Ternyata benar firasatku kalau berkasku belum terkirim, entah sudah berapa kali lagi-lagi aku menerima kenyataan pahit ini.  Lama menanti tapi belum juga ada kabar yang aku harapkan.

Selang beberapa menit pak Dedy menelfhonku lagi, menanyakan nomer ketua jurusan dikampus. Rencana ia akan menghubunginya dan meminta supaya saya bisa ikut ujian. Ia juga menjelaskan kalau berkasku sebetulnya sudah keluar hanya saja belum bisa diambil sekarang.

"Tuttt...tutt.." Hp ku bergetar lagi. Dari layar kaca ada panggilan masuk dari Staff KBRI Rabat bagian Konsuler.

"Halo mas kusnadi apa kabar?"
"Alhamdulillah baik pak"
"Oya mas untuk surat pengantar permohonan visa kamu sudah bisa diambil hari ini, silahkan datang ke KBRI sebelum jam satu siang."
"Baik pak, terimakasih atas informasinya. Tapi saya masih di AMCI mungkin agak telat datangnya."
"Kalau begiti saya titipkan ke satpam saja, jadi kamu bisa ngambil langsung ke satpam."
"Ok pak, terimakasih atas bantuannya."

Saat itu juga ku putuskan pergi ke KBRI mengambil surat pengantar permohonan visa, aku dan Arif berpisah. Ia mengambil taxi menuju secretariat PPI dan aku menuju KBRI Rabat di jalan Tariq Zair Kilometer Sitah. Sebetulnya caling visa yang aku dapatkan dari KBRI Den Haag sudah cukup kuat untuk mempermudah pembuatan visa, karena ini adalah pengalaman pertamaku jadi aku meminta surat pengantar dari KBRI Rabat agar prosesnya lebih dipremudah lagi. Ide itu juga berdasarkan masukan dari kawan-kawan yang pernah mengurusi visa Schengen. Ahh.. apapun itu, semua hal berkaitan dengan pengurusan visa akan aku lakukan,  supaya niatku bersilaturrahim dengan kawan di Belanda bisa terwujud. Alhamdulillah semua berkas sudah ku kumpulkan, selanjutnya tinggal menyerahkan berkas tersebut ke konsulat Belanda di Place Abraham Lincoln, Quartier Tour Hasan, Rabat. untuk lebih lengkapnya bisa lihat disini: http://morocco-kvv.embassytools.com/

Bersambung...:)

1 comment:

  1. Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI















    Saya ibu hayati ingin berbagi cerita kepada anda semua bahwa saya yg dulunya cuma seorang TKW di HONGKONG jadi pembantu rumah tangga yg gajinya tidak mencukupi keluarga dikampun,jadi TKW itu sangat menderita dan disuatu hari saya duduk2 buka internet dan tidak disengaja saya melihat komentar orang tentan MBAH KABOIRENG dan katanya bisa membantu orang untuk memberikan nomor yg betul betul tembus dan kebetulan juga saya sering pasan nomor di HONGKONG,akhirnya saya coba untuk menhubungi MBAH KABOIRENG dan ALHAMDULILLAH beliau mau membantu saya untuk memberikan nomor,dan nomor yg diberikan MBAH KABOIRENG meman betul2 terbukti tembus dan saya sangat bersyukur berkat bantuan MBAH KABOIRENG kini saya bisa pulang ke INDONESIA untuk buka usaha sendiri,,munkin saya tidak bisa membalas budi baik MBAH KABOIRENG sekali lagi makasih yaa MBAH dan bagi teman2 yg menjadi TKW atau TKI seperti saya,bila butuh bantuan hubungi saja MBAH KABOIRENG DI 085-260-482-111 insya ALLAH beliau akan membantu anda.Ini benar benar kisah nyata dari saya seorang TKW.. KLIK GHOB 2D 3D 4D 6D DISINI

    ReplyDelete

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...