Saturday, March 7, 2015

Maulidan bersama Gus Mus di Den Haag

Bersama Gus Mus dan Prof. Martin di Masjid Al Hikmah-Den Haag
Gus Mus : Manusia yang memanusiakan manusia

Jika  dulu ketika saya ingin ngaji dengan Gus Mus hanya bisa mendengarkan  lewat radio dan youtube. Melihat sosoknya yang meneduhkan lewat akun facebooknya dan lewat beberapa fotonya yang bertaburan di media sosial. Membaca petikan-petikan kata mutiaranya lewat tweeter dan websitenya. Hari itu saya mendapatkan kesempatan yang luar biasa karena bisa ngaji langsung dan tabarukan dengan Gus Mus di masjid Al Hikmah, kota Den Haag. Sebuah sejarah baru bagi saya, dalam perjalanan singkat yang belum pernah terencanakan sebelumnya.

Perjalanan yang terjadi begitu saja ini membuatku masih tidak percaya meski sudah sampai ke tempat tujuan. Bismillah, setiap kali saya ingin mengerjakan sesuatu tak lupa saya membaca bismillah. Karena hanya dengan pertolongan Nya lah semua aktifitas yang saya jalani bisa berjalan lancar. Kami tidak memilki daya  apa-apa tanpa Nya. Saya jadi teringat salah satu guruku dipesantren, beliau sangat mengajurkan para santri membaca bismillah sebelum melakukan aktifitasnya, baik dalam belajar, bekerja atau aktifitas lainnya. Kalimat sederhana namun memilki makna dalam itu selalu menjadi senjata utamaku sebelum memulai aktifitas, saya yakin bentuk pekerjaan apapun jika diawali dengan bismillah akan memiliki nilai positif. Grup WhatsApp (WA) yang saya buat pun judulnya bismillah, grup tersebut saya buat untuk mematangkan perisapan sebelum berangkat ke Belanda. Dengan menyebut nama Allah disertai niat tulus bersilaturrahim dengan kawan-kawan di Belanda ndilalah saya beserta Rifqi, mas Alvian, mas Aiman prosesnya dipermudah dan dilancarkan perjalanannya hingga akhirnya bisa tabarukan dengan Gus Mus.

Selama di Belanda saya bertemu dengan Gus Mus di dua kota.  Pertama di Den Haag, saya bertemu Gus Mus dalam sebuah sarasehan betajuk Islam Nusantara dengan Pengajian Maulid Nabi Muhammad, SAW. Di sarasehan, beliau menjadi salah satu keynote speaker bersama dengan Prof. Martin dari Universitas Utrecht, orang Belanda pakar Islamologi yang sangat fasih berbahasa Indonesia. Dan beberapa pembicara lainya seperti Kyai Hambali, sesepuh kyai NU di Belanda yang bersama Gus Dur mendirikan Persatuan Pelajar Muslim Eropa (PPME) 45 tahun silam dan Pak Sudirman Moentari, kyai dari Suriname yang mbahnya asli Kediri, Jawa Timur. Sebetulnya saya mendapat kesempatan menjemput kedatangan Gus Mus di Airport Schipol, karena saat itu badan saya kurang fit ahirnya hanya mas Alvian yang bisa ikut njemput bersama mas Reza dan Mas Fajri serta beberapa kawan lainnya.

Sementara di Amsterdam, saya bertemu beliau dalam pengajian Maulid Nabi Muhammad dan Pelantikan Pengurus baru PCINU Belanda periode 2015-2017, dan sesi khusus Gus Mus dengan pengurus PCINU Eropa dan Maroko. Tahun ini spesial sekali buat saya, bisa merayakan Maulid Nabi dua kali. Rasanya, saya berada dikampung halaman nan jauh disana, dimana kebersamaan dan keakraban masyarakat Indonesia di Belanda begitu terasa. Di Maroko, saya juga sering mengikuti acara maulid Nabi yang diadakan oleh warga setempat tapi, suasananya sangat berbeda dengan perayaan maulid Nabi di Belanda. (serasa sudah pulang kampung :D). Maklumlah, namanya juga hidup di negeri rantau, ketika berada ditengah-tengah masyarakat Indonesia yang penuh dengan keakraban dan kehangatan rasanya seperti di tanah air.

Di dua kota ini, saya juga bertemu dengan teman-teman baru dan orang-orang hebat yang memiliki pengetahuan, keilmuan, wawasan dan cakrawala berfikir yang luas. Dari mereka banyak sekali ilmu dan pelajaran yang bisa saya petik dan mampu menginspirasi hidupku. Tidak hanya dari kota-kota di Belanda tapi juga dari, Jerman,  Belgia, UK dan beberapa kyai, ulama, ilmuwan. Dan diantara yang paling berkesan adalah bisa bertemu dan ngaji langsung bareng Gus Mus (KH. Musthofa Bisri). Tidak hanya menyerap ilmu, tapi juga sempat mencium telapak tangan beliau dan didoakan oleh beliau.



Di Indonesia saya belum pernah ketemu langsung dengan beliau, hanya penikmat tulisan-tulisan beliau yang adem. Seperti biasa, di pengajian, Gus Mus tidak suka banyak ndalil dan pesan-pesan beliau yang berisi nilai-nilai universal. Dalam satu kalimat, beliau mendeskripsikan kanjeng Nabi sebagai manusia yang paling memanusiakan manusia. Nabi yang sangat humanis, yang karenanya ajaranya sangat relevan dengan nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi rahmat buat semua (rahmatalil’alamin). Bukan ajaran eksklusif seperti yang dikesankan beberapa kelompok dari kita.

‘’Nabi Muhammad SAW adalah pemimpin yang manusia yang MENGERTI manusia dan MEMANUSIAKAN manusia; sehingga kita, -umatnya-, pun enak mengikutinya, asal kita tetap manusia. Kini banyak  pemimpin yang tampaknya manusia, tapi karena tidak mengerti manusia atau tidak memanusiakan manusia, sering kali justru membuat susah manusia; termasuk para pengikutnya sendiri yang manusia.’’ Gus Mus.
Beliau juga memberikan amalan, usaha batin. Menurut beliau, selain usaha dohir, dalam usaha menggapai sesuatu kita juga perlu usaha batin. Amalan pertama adalah hendaknya setiap hari, sedikitnya kita membaca istighfar 100 kali dan memperbanyak baca sholawat. Dalam berdoa, hati kita harus hadir. Karena Allah tidak akan mendengar doa orang yang hatinya lupa. Dan sebelum berdoa, beliau mengajak terlebih dahulu membaca alfatihah dengan ayat waiyyakanasta’in dibaca 11 kali sambil membatin hajat yang kita inginkan.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...