Monday, March 2, 2015

Pengalaman Ngurus Visa ke Belanda



Day 1 

Tidak sedikit yang bilang pengurusan buat visa Schengen itu tidak gampang alias ribet, yah emang super ribet karena persyartannya super ketat. Hal ini yang membuatku ketar-ketir ketika ingin mengurus pembuatan visa Schengen, apalagi ini adalah pengalaman pertamaku, mumpung belum tersesat dijalan jadi sebelum menyerahkan berkas-berkas yang dibutuhkan saya harus banyak bertanya dan membaca tulisan yang berkaitan dengan pengurusan visa Schengen. Setelah saya tanya mbah google banyak sekali tulisan para traveler yang menceritakan pengalamannya ketika hendak keliling Eropa. Kebanyakan dari mereka lebih memilih kedutaan Belanda sebagai tempat favorit mendapatkan visa Schengen, asalkan persyaratan komplit dengan mudah akan mendapatkan visa schengen dengan waktu yang sangat singkat sekali. 

Secara garis besar, paspor biasa Indonesia bebas visa ke 9 negara anggota ASEAN, Hong Kong, Macau, dan Maldives. Itu yang deket-deket aja. Kalo mau yang jauhan, ada Maroko, Seychelles, dan beberapa negara di Amerika Selatan seperti Peru. Saya sendiri kurang hafal, jadi silakan tanya sendiri sama mbah Google. Yang jelas dibanding negara tetangga macem Malaysia, Singapura, dan Brunei kita kalah jauh. Sama Thailand aja kita lebih sedikit jumlah negara yang membebaskan visa.

Meski demikian saya tetap maju terus pantang mundur demi menghadiri undangan sekaligus silaturrahim dengan kawan-kawan di Belanda. Kebetulan waktu itu saya sudah mendapatkan calling visa dari KBRI Den Haag jadi mau tidak mau harus diurus. Sangat tidak enak dan sangat disayangkan jika kesempatan itu dilewatksn begitu saja. Kalo ngeluh terus bisa-bisa malah nggak pergi sama sekali *kedip-kedip*. 

Sekedar informasi, untuk bisa ke negara-negara Eropa diperlukan sebuah visa yang dinamakan Schengen Visa. Visa ini dapat digunakan untuk datang ke banyak negara yang tergabung ke Schengen Visa ini. Kenapa saya sebut Schengen, bukan European Union (Uni Eropa)? Karena ada negara Uni Eropa (Inggris/UK) yang visanya beda sendiri, sementara ada negara non-EU (misal: Swiss) yang bisa dikunjungi dengan Visa Schengen. Ribet ya? Emang. Intinya, kalo mau ke Inggris butuh visa yang berbeda dengan mayoritas negara Eropa lainnya. Visa Schengen ini merupakan salah satu momok bagi traveler asal Indonesia karena ribet untuk pengurusannya.

Sebagai catatan bagi kawan-kawan yang ingin jalan-jalan ke Eropa, untuk ngurus visa Schengen, kalian harus niat dulu dan sudah memutuskan buat ke Eropa. Jangan cuma karena iseng terus akhirnya ngurus visa Schengen, yaa… Sayang uangnya. Kalo sudah ada niatnya, pastiin juga kondisi finansial memadai. Eropa itu nggak murah kaya Maroko, jadi pasti butuh dana yang lebih besar. Kalo sudah siap, baru deh persiapan untuk bikin visanya. Pengalaman saya selama di empat Negara cukup menguras isi dompet, ketika sampai di Spanyol saya sempat kehabisan uang. Untungnya ada kawan yang mau minjemin uang buat bayar transportasi lewat online. Alhamdulillah bisa bernafas lagi..hehe.. Ok langsung saja kita kembali ke pembahasan awal.

"Kapan saya harus bikin visa?"
Sebelum mengurus visa, saya mendapat informasi dari KBRI Den Haag untuk segera mendatangi Konsulat Belanda di Maroko tepatnya No 2, Place Abraham Lincoln, Quartier Tour Hassan-Rabat dengan membawa:
1. Pasphoto terbaru 2 lembar 4x6 (sesuai ketentuan).
2. Boocking ticket.
3. Asuransi perjalanan.
Selanjutnya mengisi form permohonan visa serta memenuhi persyaratan lainnya yang dibutuhkan. Saya dan dua temenku mas Alvian dan Rifqi mendapatkan calling visa pada tanggal 29 Desember 2014, sementara acara yang akan kami hadiri mulai tanggal 15-19 Januari 2015. Jadi waktu untuk pengurusan visa Cuma 18 hari. Ketika kabar ini saya sampaikan ke kawan-kawan yang pernah buat visa schengen mereka memintaku cepat-cepat mendatangi Konsulat Belanda dan memenuhi berkas-berkas lain yang dibutuhkan. Ada yang bilang, waktu pengurusan visa sebelum hari keberangkatan biasanya 90 hari, ada yang bilang sebulan dan paling mepet dua minggu. Itupun kata mereka baiknya sebelum ke Konsulat Belanda semua berkas harus sudah komplit biar langsung diproses. Yah emang benar, jika semua berkas yang diminta sudah komplit prosesnya semakin cepat. Namun karena setiap konsulat negara Eropa memiliki kebijakan masing-masing sayapun bingung mana yang harus didahulukan, antara mendatangi konsulat Belanda dulu terus kalau ada berkas yang kurang menyusul atau mengunpulkan berkas-berkas dulu baru ke Konsulat Belanda biar hari itu juga langsung diproses. Dari pada bingung-bingung, esok harinya tanggal 30 Desember 2014 saya pergi ke Konsulat Belanda. Sayang, ketika sampai disana pintu masuknya ditutup dan ada sebuah pengumuman ditempel dekat pintu bahwa pengurusan visa ke Belanda untuk sementara diliburkan mulai tanggal 30 Desember-5 Januari 2015. Kata satpam, sebelum menyerahkan berkas saya harus buat appoinement dulu lewat website resminya dan mengcopy waktu yang telah diberikan, tanpa itu katanya tidak bisa masuk. Kemudian iapun memberikan alamat websitenya, bisa dilihat disini: https://morocco-kvv.embassytools.com/

Jika tanggal 6 Januari baru dibuka berarti waktu yang tersisa untuk mengurus visa tinggal 10 hari. Dari situ saya langsung tambah ketar ketir karena, kata temenku minimal aplay visa itu dua minggu sebelum keberangkatan. Setelah saya buka website resminya ternyata tidak ada slot yang tersisa, muai tanggal 6-15 Januari semua sudah full kecuali tanggal 8 Januari ada dua slot kosong mulai jam 09-11 siang. Daripada tidak bisa mengurus samasekali ahirnya saya buat appoinement dihari itu. Saya semakin tidak yakin dan pesimis bakal dapet visa. Waktu yang tersisa jika dihitung mulai tangal 8-14 tinggal satu minggu. Informasi tersebut langsung saya sampaikan ke KBRI Den Haag lewat email, saat itu juga langsung mendapat respon dari pak Nur Hasyim (Salah satu petugas KBRI Den Haag yang membantu kami mengurus visa). Beliau menyarankan agar saya menelfhon konsulat Belanda terlebih dahulu untuk meminta waktu khusus. Tanggal 1 Januari 2015 beliau mengabari katanya sudah melayangkan surat undangan tersebut ke Konsulat Belanda dan sudah menghubungi konsulernya bernama dhr. Gerard van de Wetering. 

Selagi masih ada waktu tersisa saya terus mencari informasi dan alternatif lain supaya prosesnya bisa dipercepat. Kebetulan ada kenalan baru dari FB, namanya Nathalia. Dia menetap di Bali tapi memilki garis keturunan Belanda, ibunya dari Jawa dan ayahnya dari Belanda. Dia juga memilki banyak keluarga di Belanda. Meski ada peluang dan kemudahan pindah warga negara Belanda tapi dia lebih memilih tinggal di Indonesia dengan memegang paspor hijau. Dia juga bercerita sering bolak-balik ke Belanda. Katanya waktu applay visa minimal seminggu sebelum hari keberangkatan dengan catatan semua persyartan sudah komplit. Dia juga menyarankan untuk meminta bantuan pihak KBRI Rabat mengubungi Konsulat Belanda atau jika tidak bisa minimal mendapatkan surat pengantar dari KBRI Rabat untuk memperkuat calling visa dari KBRI Den Haag. Kabar tersebut membuatku sedikit lega. Informasi tersebut langsung saya sampaikan ke mas Alvian dan Rifqi. Ahkirnya kami bertiga membagi tugas. Saya yang mengurus surat pengantar dari KBRI Rabat, Rifqi mencari tiket pesawat yang murah dan mas Alvian yang menghubungi Konsulat Belanda.

Bersambung......:))) 

Day 2: 
http://seribubenteng.blogspot.com/2015/02/day-2-suart-pengantar-kbri-rabat.html

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...