Tuesday, April 21, 2015

Keteladanan Tariq bin Ziyad landasi training ESQ pertama di bumi Afrika

JAKARTA, bisniswisata.co.id: Semangat pantang menyerah yang diteladani oleh para pejuang Islam seperti Tariq bin Ziyad menjadi motivasi bagi pimpinan ESQ Leadership Center (LC)  Ary Ginanjar berpartisipasi langsung dalam memberikan training di Rabat, Maroko, pada 13-14 April 2015 di Kedutaan Besar Republik Indonesia.
“Selain merupakan training pertama ESQ di bumi Afrika yang bersejarah, melakukan napak tilas pejuang Islam Tariq bin Ziyad sangat penting untuk diteladani sebagai penakluk Andalusia dalam perang Guadalete,” jelas Ary.
Jendral dari dinasti  Ummayah yang memimpin penaklukan muslim atas wilayah Al-Andalas (Spanyol) , Portugal, Andorra, Gibraltar dan sekitarnya pada tahun 711 M ini menyerang dengan 7000 pasukan sementara musuh yang dihadapi mencapai 100.000 orang,” kata Ary Ginanjar Agustian, hari ini.
Bulan April memang bulan bersejarah karena pada 29 April tahun 711, dia mendarat di Gibraltar atau disebut  Jabal Tariq dengan kapal-kapal kecil. Setelah mendarat, kapal-kapal justru dibakar dan Tariq bin Ziyad berpidato memotivasi semangat pasukannya untuk jangan pernah ragu dalam membela agama Allah.
“Tidak ada jalan untuk melarikan diri! Laut di belakang kalian, dan musuh di depan kalian. Demi Allah, tidak ada yang dapat kalian sekarang lakukan kecuali bersungguh-sungguh penuh keikhlasan dan kesabaran,” jelasnya mengutip ucapan Tariq bin Ziyad.
Pasukan Tariq menyerbu wilayah Andalusia, Spanyol dan di musim panas tahun 711 berhasil meraih kemenangan yang menentukan atas kerajaan Visigoth dimana rajanya Roderick terbunuh pada tanggal 19 Juli 711. Setelah itu, Thariq menjadi gubernur wilayah Andalusia sebelum akhirnya dipanggil pulang ke Damaskus oleh Khalifah Walid I.
Inti pesannya, kata Ary, sabar dan ikhlas harus menjadi landasan utama mengapa kita harus hidup sebaik-baiknya di dunia. Dalam peperangannya Tariq mengingatkan kita mati dengan hina atau mati dengan mulia sebagai sahid adalah manusia itu sendiri yang menentukan.
“Maroko dan Indonesia punya hubungan sejarah yang bagus dan seperti Tariq maka Presiden Soekarno yang membakar semangat masyarakat negri ini untuk meraih kemerdekaannya. Nama Soekarno terukir dalam sejarah Maroko, menjadi salah satu jalan utama dan  nama jalan Jakarta serta nama jalan Bandung bukanlah sekedar nama bagi bangsa ini,” kata Ary Ginanjar Agustian bersemangat.
Training ESQ bertujuan membentuk karakter melalui penggabungan tiga potensi manusia yaitu kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, dan spiritual ( ESQ) yang harus diberdayakan secara optimum untuk membangun sumber daya manusia dengan karakter yang tangguh, memiliki produktivitas tinggi dan menjalani kehidupan yang bahagia dan penuh makna dengan landasan sabar dan ikhlas.
ESQ dengan seksama memandu seseorang dalam membangun prinsip hidup dan karakter berdasarkan ESQ Way 165. Angka 165 merupakan simbol dari satu (1) Hati pada Yang Maha Pencipta, 6 Prinsip Moral, dan 5 Langkah Sukses.
Sebagai lembaga training yang sudah melahirkan 1,4 juta alumni di Indonesia dan mancanegara, selama ini ESQ hadir untuk menjembatani rasionalitas dunia usaha dengan spirit ketuhanan sehingga melengkapi makna sukses dengan nilai-nilai spiritual yang mendalam, menuju esensi bahagia yang sesungguhnya.
Kordinator Wilayah Forum Komunikasi Alumni ESQ Eropa bersama Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Maroko mempelopori penyelenggaraan training ESQ di ruang serba guna KBRI, Rabat, Maroko pada 13-14 April 2015 mendatang.
William Satriaputra, Ketua Korwil ESQ Eropa mengatakan bahwa Maroko mempunyai potensi besar untuk bekerja sama dengan Indonesia dalam konsep khairu ummah dan membangkitkan kembali ruh peradaban Islam.
“ Universitad Al Warawiyin di Fes adalah Universitas trrtua didunia dan berdiri sebelum Universitas Al Azhar. Perguruan tinggi ini justru dibangun seorang perempuan bernama Fatima El Fihri thn 859. Memiliki andil besar dalam mentransformasi peradaban Islam ke Barat yg kemudian menjadi benih budaya toleransi dan moderadi masyarakat Maroko.
Itulah sebabnya 13 anggota rombongan Eropa ESQ 165 ke Afrika yang diikuti peserta dari Belanda, Jerman dan sekitarnya membuat pre-tour terlebih dulu. Bertolak pada 9 April 2015 menuju Cassablanca, lalu meneruskan ke Rabat.
Di hari kedua aktivitasnya adalah city tour di kota Rabat, ibukota negara dengan mengunjungi Hasan Tower, Mohmed V Mauseleum dan melewati Istana Raja menuju Cassablanca sekitar 1,5 jam dari Rabat.  Sholat jumat dilaksanakan di Mesjid Hasan II dilanjutkan city tour di kota Cassablanca seperti Twin Tower, Aquarium dan Marocco Mall.
“Hari ketiga di Maroko rombongan akan bergabung dengan Ary Ginanjar Agustian di Meknes, kota di bagian Utara Maroko dan kami menjadwalkan untuk city tour di ibukotanya yaitu Fez, melongok The Maroccan Versailles dari abad ke 17 dan Bab Mansour, gerbang kota sebelum kembali ke Rabat.
Menurut William, perjalanan di hari ke empat akan ke Tanger dan obyek wisatanya adalah Cap Spartel tempat bertemunya dua laut yaitu Multaqol Bahrain dan Selat Gibraltar, ke makam Ibnu Batutah  sang petualang dunia yang sempat singgah di Samudra Pasai Aceh selama 15 hari dan membawa masuk Islam ke Indonesia pula. Perjalanan dilanjutkan  ke gua Hercules yang konon menjadi tempat Hercules setelah mengalahkan 7 peperangan dan menjadi tempat pemberangkatan pasukan Tariq bin Ziyad saat menyerang Andalusia, Spanyol.
Hari ke lima dan ke enam diisi dengan training ESQ di KBRI yang dibuka langsung Ary Ginanjar Agustian. Sejauh ini tercatat 68 peserta, terdiri dari 48 pria dan 25 orang wanita. Sedikitnya 34% komunitas Indonesia di Maroko berpartisipasi. Ada orang Maroko juga dan empat peserta beragama Hindu,” kata William. (hildasabri@yahoo.com)

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...