Monday, June 22, 2015

Ramdhan di Maroko

Di Maroko memang ada aral yang lumayan berat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya ketika berada di Tanah Air. Hal ini dirasakan sama dengan mahasiswa Indonesia di negara Teluk, Afrika, Eropa, dan Amerika pada umumnya yaitu panjang waktu puasanya kisaran 17 jam. Itupun harus menghadapi teriknya musim panas yang suhunya mencapai lebih dari 40 derajat celcius.
Kendala terbesar yang bisa dirasakan ketika Ramadhan tiba dengan hadirnya suhu yang sedemikian rupa yang membuat rasa dahaga bagi seorang Muslim yang sedang berpuasa.
Meski demikian, mahasiswa Indonesia di Maroko yang bernaung di bawah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) menjadikan bulan ini sebagai bulan silaturrahim. Khususnya liburan musim panas sekaligus Ramadhan dan Idul Fitri, ataupun liburan Idul Adha.
PPI Maroko mengadakan banyak program aktivitas, di antaranya seminar Internasional yang dihadiri ulama nusantara atau ulama Maroko, pertandingan olahraga antarmahasiswa dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand, juga kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat edukatif, kreatif, dan sosial, serta berbuka puasa bareng dan pelaksanaan shalat ied di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang beralamat di 63, rue beni boufrah, rute des zaires klm 5,9 Souissi Rabat Morocco.
Merasakan nuansa bulan suci Ramadhan di negeri orang memang memiliki kespesifikan dan daya tarik tersendiri. Menghayati bagaimana kita bisa mempelajari budaya orang yang penuh warna dan mencicipi kelezatan kulinernya, serta hal yang paling urgen yaitu bisa meningkatkan ibadah di bulan Ramadhan dengan aroma autentik Islam Arab bersama masyarakat Maroko tulen yang ramah.

Keunikan Malam Lailatul Qadar
Fenomena malam Lailatul Qadar tentunya tak kalah heboh bagi Masyarakat Maroko. Di sana kegembiraan menyambut "Malam Seribu Bulan" itu bak menyambut tamu agung. Cowok dan cewek mengenakan jalabah (busana muslim tradisional Maroko, sejenis jubah atau gamis dengan penutup kepala).
Jalabah itu biasanya dikenakan pada malam ganjil di akhir bulan Ramadan, yaitu pada malam ke-27 untuk jalan kesana-kemari dari masjid ke masjid dan berjalan-jalan di keramaian malam hingga larut malam. Momen ini dimanfaatkan banyak fotografer untuk mencari rezeki. Tak sedikit pemakai jalabah ingin diabadikan dengan kilatan kamera.
Selain itu, ada tradisi makan kuskus di malam itu. Ada juga tradisi mencari berkah Ramadan khusus di tiga hari terakhir bagi gadis-gadis Maroko sambil berharap mendapatkan jodoh yang baik di kemudian hari, dengan mendatangi tenda-tenda hias yang dibuat di halaman rumah-rumah mereka, untuk sekedar berpose di depan kamera dan mempercantik diri mereka dengan Henna (daun pacar), hiasan khusus bangsa Arab.
Ketika Ramadlan sampai pada malam ke-27, orang Maroko biasanya mengadakan ritual khusus, yaitu berjaga malam di masjid-masjid dengan melakukan shalat-shalat sunah hingga fajar untuk mengejar Lailatul Qadar. Bahkan, kadang mereka membawa bekal makan sahurnya ke masjid.

Tradisi Lebaran Di Maroko
Ketika kita berbicara mengenai lebaran, tentunya masing-masing orang mempunya persepsi yang berbeda, mulai dari proses penyambutan, tradisi-tradisi yang ada sampai pada pola hidup masyarakatnya. Kalau kami boleh bercerita perihal lebaran di tanah Maghrib ini sangat jauh berbeda dengan di tanah air, seperti tidak ada takbir keliling di malam takbiran, apalagi sampai pesta petasan atau kembang api.
Yang jelas, malam takbiran di sini terlihat biasa-biasa saja, tidak ada kemeriahan atau kegiatan yang spesial. Kami justru lebih merasakan khusu’ dan khidmat akan suasana yang tenang di sini, karena bisa lebih mendekatkan diri kepada Allah tanpa mengedepankan simbol-simbol, kesan meriah, melainkan lebih kepada esensi malam takbiran itu sendiri. Terlebih lagi, bisa menjadi bahan renungan kami bersama, karena jauh dari orang-orang yang kita cintai dan handai taulan.
Hari raya idul fitri di Maroko memang terlihat biasa-biasa saja, seperti layaknya hari-hari biasa. Jalanan pun terlihat sunyi-sepi. Mungkin bagi masyarakat Maroko ini sudah menjadi tradisi. Tapi anehnya, justru hari raya Idul Adha di sini lebih terasa dan ramai. Bahkan setiap kepala keluarga memotong hewan Qurban, kebanyakan berupa kambing. Idul Fitri bagi mereka adalah Idul Ashgor (hari raya kecil), sedangkan Idul Adha adalah Idul Akbar (hari raya besar).
Satu hal lagi yang menarik disini, yaitu tidak ada fenomena mudik yang cukup ramai seperti di Indonesia. Walaupun memang ada sebagian orang yang mendatangi sanak saudaranya hanya sekedar untuk berkumpul. Mendekati lebaran, secara otomatis biasanya tarif transportasi melonjak tinggi hingga 30 % dikarenakan ada beberapa orang yang hendak berpergian.

Makanan khas Idul Fitri
Setiap negara yang masyarakatnya merayakan Idul Fitri, biasanya memiliki makanan khas hari raya. Makanan tersebut hanya disajikan ketika perayaan Idul Fitri untuk menyambut sahabat dan keluarga yang bersilahturahim. Ritual ini juga berlaku di salah satu negara kerajaan di Afrika bagian utara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, Maroko.
Selepas melaksanakan shalat Idul Fitri, mereka mengadakan sarapan bersama anggota keluarga dengan menu tradisional, dikenal dengan sebutan Milwi. Ada juga menu sarapan yang lebih modern, yaitu Halawiyat (roti dan kue berbentuk cantik). Tetapi, menu milwi merupakan makanan wajib di Maroko saat perayaan Idul Fitri, meskipun ada Halawiyat, Milwi tetap tersaji. Sedangkan makanan khas Idul Fitri di Maroko adalah Dajaj Muhammar,
yaitu ayam panggang yang disajikan dalam piring besar dan dimakan bersama-sama anggota keluarga lainnya. Setelah itu, biasanya seluruh keluarga menikmati Attai.

Usai menyantap sarapan, acara selanjutnya adalah bersilahturahim. Para pria biasanya mengenakan pakaian tradisional Maroko yang disebut Djellaba2, lengkap dengan sandal tradisional. Kaum wanitanya mengenakan Kaftan dan juga sandal tradisional khas Maroko yang sangat cantik.

Sumber: Buku Maroko Negeri Ekdotis di Ujung Barat Dunia Islam.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...