Monday, September 11, 2017

Syeikh Ahmad at Tijani & Korelasi Toriqoh Tijaniyah dengan Kerajaan Maroko

Sangatlah pantas jika gelar “Negeri para ulama” itu disandang oleh Maroko. Terutama ulama-ulamanya yang menonjol dalam dunia tasawwuf. Lihat saja, berapa banyak aliran toriqoh yang berkembang di Negeri yang bermadzhab Maliki tulen ini. Ada Toriqoh Tijaniyah, Syadziliyah, Masyisyiyah, Siddiqiyah, Kattaniyyah, Darqowiyah dsb.
Alhamdulillah untuk kesekian kalinya kami berkesempatan menziarahi salah satu makam ulama kharismatik yang merupakan pendiri Toriqoh Tijaniyah yang bearada di kota Fez yaitu Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hassani atau lebih dikenal dengan Syeikh Ahmad at Tijani. 
"Syeikh Ahmad at Tijani"
Syeikh Ahmad bin Muhammad Al-Hasani lahir pada Hari Kamis, 13 Shafar 1150 H. di ‘Ain Madhi atau disebut juga dengan Madhawi, di Sahara Timur Maroko (kini bernama Aljazair). Penyebutan at Tijani merupakan nisbah kepada suatu daerah terkenal bernama Tijanah, kabilah Tijanah adalah keluarga syeikh Ahmad at Tijani dari pihak ibu beliau dan pada kabilah inilah lebih dikenal sebutan marga beliau sehingga lazim disebut dengan " Tijani " sedangkan kata " Al madhawi " merupakan nisbah kepada ‘Ain Madhi, suatu desa terkenal di sahara timur Maroko tempat beliau di lahirkan. Dari keluarga besar/Kabilah Tijanah ini kemduian banyak melahirkan ulama-ulama dan wali-wali yang shaleh.
Dalam kitab-kitab toriqoh Tijaniyah juga diterangkan bahwa Syeikh Ahmad at Tijani beberapa kali bertemu dengan Rasulullah dalam keadaan terjaga bukan dalam keadaan mimpi. Dalam pertemuan itu, Syaikh Ahmad at Tijani mendapatkan bimbingan dari Rasulullah termasuk bacaan wirid yang dibaca oleh para pengikut Tijaniyah, yaitu wirid Lazimah, Wadhifah dan Hailalah.
Ketika Syeikh Ahmad bin Muhammad berusia 50 tahun. Pada Bulan Muharam, tahun 1214 H Syeikh Ahmad bin Muhammad telah sampai pada martabat Al-Quthub AL-Kamil, Al-Quthbul Al-Jami’ dan Al-Quthbul Udzhma. Pengukuhan ini dilakukan di Padang Arafah, Makah Al-Mukaramah.
Pada tahun yang sama, hari ke-18 Bulan Shafar, Beliau dianugerahi sebagai Al-Khatmu Al-Auliya Al-Maktum (Penutup para wali yang tersembunyi). Hari inilah yang kemudian diperingati oleh Jamaah, Ikhwan, dan para muhibbin Thariqat Tijaniyah sebagai Idul Khatmi. Beliau meninggal di Fez, Maroko, tahun 1230 H.
Umat Islam dari seluruh wilayah Afrika Barat dan penganut Toriqoh Tijaniyah sering mengunjungi komplek makam Syeikh Ahmad at Tijani yang berada di sudut Kota Fez, Maroko. Kota yang berusia 12 abad ini dikenal sebagai ibukota spiritual Maroko. Tak heran bila jutaan orang dari Senegal, Mali, Niger, dan Nigeria datang ke kota itu untuk berziarah ke makam Syeikh Tijani. Termasuk dari Indonesia pun banyak yang menziarahi makamnya terutama dari para pengikut Toriqoh Tijaniyah.
"Korelasi Toriqoh Tijaniyah dengan Kerajaan Maroko"
Jika kita telisik lebih dalam antara tarekat Tijaniyah dan Negara Maroko, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Simbiosis mutualisme ini sudah terbentuk sejak rezim Sultan Moulay Sulaiman (W. 1238 H) dengan sang pendiri tarekat Tijaniyah. Sosok pemimpin Negri 1000 benteng ini memang sejak dahulu cinta kepada para ulama. Disamping nasab keduanya yang berujung pada Maulana Muhammad (Nafs az Zakiyah) bin Sidi Abdullah al Kamil bin Sidi Hasan as Sibth bin Sidi Hasan al Mutsanna bin Sidi Ali dan Sayyidah Fatima az Zahra binti Rasulullah Saw., Sultan Moulay Sulaiman juga mengakui kewalian Syekh Ahmad Tijani lebih tinggi dari semua ulama yang ada pada zaman itu. 
Terbukti, rasa syukur yang tiada duanya saat Moulay Sulaiman meminta kepada Syekh Ahmad Tijani agar dapat bertemu Rasulullah Saw. dalam keadaan terjaga (bukan mimpi), dengan izin Allah Swt permintaan tersebut terkabulkan. Sejak peristiwa inilah perhatian dan rasa kasih Moulay Sulaiman kepada Syekh Ahmad Tijani begitu dekat. Dan diangkatlah Syekh Tijani menjadi salah satu penasehat kerajaan dan diberi tempat tinggal (Dar al Miraya) di kota Fes untuk majelis pengajian. Hal ini pun masih berlaku dalam sistem birokrasi Negara Matahari Terbenam tersebut, yang menempatkan posisi khalifah tarekat Tijaniyah; Syekh Muhammad al Kabir sebagai salah satu penasehat Raja Muhammad VI. 
Adapun nasab Raja Muhammad VI adalah sebagai berikut: Muhammad VI bin Hasan II bin Muhammad V bin Yusuf bin Hasan I bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad III bin Yusuf bin Hasan bin Muhammad bin Abdur Rahman bin Hisyam bin Muhammad bin Abdullah bin Ismail bin Ali bin Muhammad bin Ali bin Yusuf bin Ali bin Hasan bin Muhammad bin Hasan bin Qasim bin Muhammad bin Abu Qasim bin Muhammad bin Hasan bin Abdullah bin Abu Muhammad bin Arafah bin Hasan bin Abu Bakar bin Ali bin Hasan bin Ahmad bin Ismail bin Qasim bin Muhammad (Nafs az Zakiyah).
Sedangkan nasab Syekh Ahmad Tijani yaitu: Syekh Ahmad bin Muhammad bin Mukhtar bin Ahmad bin Muhammad bin Salim bin Abi al Ied bin Salim bin Ahmad (al Ulwani) bin Ahmad bin Ali bin Abdellah bin Abbas bin Abdul Jabbar bin Idris bin Idris bin Ishak bin Ali Zaenal Abidin bin Ahmad bin Muhammad (Nafs az Zakiyah).
Dengan demikian historisitas tarekat Tijaniyah dengan Negara Maroko sangatlah erat hubungannya, serta berperan penting dalam penyebaran tarekat Tijaniyah karena antara Ulama dan Umaro’nya seirama dalam satu tujuan yang mulia yaitu menegakkan pilar-pilar agama islam melalui jalan Tasawuf.


____________________________________________________________________
Min A’qab al Bidl’ah al Muhammadiyah at Thohiroh.
Al Fathu ar Rabbani.
Jawahirul Ma’ani, Sayyid Ali Harazim bin Arabi.
Bughyatul Mustafid, Sayid Muhammad Al-Arobi.
Maroko Negeri Seribu Benteng.
Tarekat Tijanniyah Perspektif Amaliah dan Ilmiah.

No comments:

Post a Comment

Sekitar Meknes (Maroko)

A. Volubilis. Volubilis atau Oualili dalam sebutan Arab-Maroko, terletak 18km kea rah utara kota Meknes. Volubilis didirikan di at...